Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelukis Masa Depan di Bali Berpotensi Kehilangan Objek Utama Alam
Pemandangan Gunung Batukaru pada Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)
  • I Wayan Santrayana menyoroti kerusakan alam yang membuat pelukis masa depan kehilangan objek utama untuk karya mereka karena hutan dan keindahan alami semakin berkurang.
  • Perubahan alam di Bali seperti abrasi pantai, rusaknya hutan, dan sungai disebabkan ulah manusia, namun masih ada waktu untuk memperbaiki kesadaran lingkungan.
  • Melalui pameran Tutur Ayu, Santrayana menyampaikan pesan agar manusia kembali berempati pada alam dan hidup selaras lewat warna serta garis dalam lukisannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang seniman menyampaikan kekhawatiran bahwa pelukis masa depan akan kehilangan objek utama berupa alam akibat kerusakan lingkungan yang semakin meluas.
  • Who?
    I Wayan Santrayana, seorang pelukis asal Bali, mengungkapkan pandangannya saat menghadiri pameran seni Tutur Ayu di Santrian Gallery.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Santrian Gallery, Denpasar, Bali, tempat berlangsungnya pameran Tutur Ayu.
  • When?
    Pameran dimulai pada 6 Maret 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga akhir April tahun yang sama.
  • Why?
    Kerusakan hutan, abrasi pantai, serta perubahan kondisi alam dinilai membuat seniman kehilangan sumber inspirasi alami untuk karya mereka.
  • How?
    I Wayan Santrayana menyalurkan pesan kepedulian terhadap alam melalui warna dan garis dalam lukisan-lukisannya yang dipamerkan kepada publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Para pelukis di masa depan akan terkendala visual alam yang selama ini menjadi sumber inspirasi untuk lukisannya. Hal tersebut disampaikan oleh seniman I Wayan Santrayana saat ditemui di pameran Tutur Ayu di Santrian Gallery belum lama ini.

Kerusakan alam yang terjadi mengubah kondisi alam itu sendiri yang sebelumnya alami dan indah. Bagi seniman, kondisi ini akan membuat mereka kehilangan objek utama alam itu sendiri.

"Alam itu kalau sudah dirusak, sudah tidak bisa mencari alam yang seperti dulu. Apalagi sekarang banyak sekali pembabatan hutan semena-mena. Otomatis sudah gak ada hutan lagi kan. Jadinya umpamanya generasi lanjutnya mau melukis tentang alam kan obyek utamanya sudah tidak ada," jelasnya.

1. Alam adalah objek utama seniman untuk mengasah kepekaan

Kelompok Seniman Soko Guru (kiri-kanan) I Wayan Santrayana - I Ketut Marra - I Gede Budiartha (IDN Times/Ayu Afria)

I Wayan Santrayana mengungkapkan bahwa pesan leluhur untuk menjaga hutan, agar manusia bisa hidup berdampingan dengan alam saat ini seolah diabaikan. Peran alam bagi seniman sangat penting sekali dalam memberikan ide-ide segar yang dituangkan di atas kanvas atau media lainnya.

Pun, keberadaan alam juga sebagai penggerak hati nurani seniman. Misalnya pengamatan gerak pohon yang kemudian membuat sang seniman lebih terasah dan peka sehingga karyanya memiliki jiwa. Teknik yang langsung bersentuhan dengan alam saat membuat karya seni ini ia terapkan ke anak-anak didiknya.

"Objek utama sudah tidak ada. Walaupun ada kan tidak seoriginal awalnya. Beda kalau melihat alam langsung," ungkapnya.

2. Di Bali, perubahan alam juga telah banyak terjadi

Pantai Kuta 31 Desember 2025 (IDN Times/Ayu Afria)

Di Bali sendiri, Sang pelukis I Wayan Santrayana mengakui perubahan alam masif terjadi. Misalnya wilayah pantai yang dulunya indah, kini mulai terjadi abrasi. Kerusakan tersebut ia tengarai karena ulah manusia itu sendiri. Tak hanya pantai, hutan dan sungai di Bali pun bernasib sama.

"Walaupun belum fatal sekali tapi belum terlambatlah kalau kita harus sadar sekarang," ungkapnya.

3. Seniman menginginkan manusia kembali berempati dengan alam

Pameran lukisan Tutur Ayu (IDN Times/Ayu Afria)

Semangat pesan menjaga alam tersebut kemudian ia sampaikan melalui warna dan garis dalam sejumlah lukisannya yang dipamerkan dalam pameran Tutur Ayu di Santrian Gallery sejak 6 Maret 2026 lalu. Rencananya lukisan ini akan dipajang hingga akhir April mendatang.

"Sekarang sudah banyak yang kurang empati dengan sesama, dengan alam. Saya lihat itu. Saya ingin hal-hal seperti itu kalau bisa dihilangkan. Biar kita bisa hidup selaras," ungkapnya.

Editorial Team