Comscore Tracker

Pengalaman Vaksinasi Jurnalis IDN Times Bali, Jujur Takut Jarum Suntik

Perlu tutup mata dan tarik napas dalam-dalam nih

Tabanan, IDN Times - Sebagian masyarakat tentu masih ada yang bertanya-tanya terkait keefektifan vaksin COVID-19. Apakah aman, dan bagaimana proses vaksinasinya? Saya, jurnalis IDN Times Bali mendapatkan kesempatan lebih cepat untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Tepatnya Senin (1/3/2021), di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan.

Lewat tulisan ini, saya memaparkan pengalaman pribadi ketika menjalani vaksinasi, dan berharap bisa memberikan informasi bagi masyarakat yang masih awam, takut maupun yang belum percaya dengan vaksin COVID-19.

Baca Juga: Jurnalis Hingga Lansia di Tabanan Jalani Vaksinasi Pada 2 Maret 2021

1. Gula darah saya normal, namun kadar kolesterol cukup tinggi

Pengalaman Vaksinasi Jurnalis IDN Times Bali, Jujur Takut Jarum SuntikProses vaksinasi jurnalis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan. (IDNTimes /Wira Sanjiwani)

Sebagai seorang jurnalis, kesehatan saya bisa dikatakan kesehatan cukup baik. Penyakit yang sering dialami hanya migrain dan vertigo. Tekanan darah rendah dan gula darahnya normal. Hanya saja, kadar kolesterol saya cukup tinggi.

Gaya hidup seperti masyarakat kebanyakan yaitu jarang sekali berolahraga, suka begadang (Rata-rata tidur jam satu atau dua pagi), Jarang makan buah, jarang minum vitamin, dan tidak pernah sarapan pagi tetapi langsung minum kopi. Bisa dibilang, pola hidup saya termasuk kurang sehat.

2. Lengan hanya terasa nyeri sedikit

Pengalaman Vaksinasi Jurnalis IDN Times Bali, Jujur Takut Jarum SuntikProses vaksinasi jurnalis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan. (IDNTimes /Wira Sanjiwani)

Jadwal vaksinasi turun lebih cepat dari perkiraan. Ketika mendapatkan informasi dan didata untuk vaksinasi, saya sudah memiliki niat untuk memulai hidup sehat seperti olahraga rutin dan memperbaiki pola tidur. Tetapi sebelum itu terlaksana, jadwal vaksinasi turun lebih cepat. Saya hanya dua hari saja melaksanakan perbaikan pola gaya hidup, yang tentu tidak memberikan efek berarti. Tetapi hal yang bisa dilakukan adalah mencoba tidur lebih awal, sarapan pagi, dan jangan lupa berdoa.

Setelah hari vaksinasi tiba, tahap pertama yang saya lewati adalah mendaftar dan mengukur tensi darah. Pada saat itu, tensi saya 100/70 kemudian diberikan nomor antrean.

Petugas lalu memanggil nomor antrean saya. Di meja satu, saya didata kembali. Petugas meminta nomor telepon aktif supaya memudahkan mereka menghubungi dan mengingatkan jadwal vaksinasi kedua.

Setelah itu di meja dua, saya ditanya seputar kesehatan secara umum. Seperti pernahkah mengalami gejala flu seminggu terakhir, pernah terpapar atau kontak dengan pasien COVID-19, mengalami penyakit kronis seperti jantung, diabetes dan asma, sampai apakah minum obat secara rutin.

Karena lolos semua pertanyaan tersebut, saya langsung ke meja tiga dan menjalani vaksinasi. Terus terang saya takut jarum suntik. Namun setelah menutup mata dan tarik napas dalam-dalam, petugas vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dengan cepat. Tidak sampai dua detik dan selesai. Lengan hanya terasa nyeri sedikit.

Dari meja tiga, saya lanjut ke meja empat untuk observasi selama 30 menit dan astungkara (Ucapan rasa syukur) tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunasi (KIPI). Saya diperbolehkan pulang dan diingatkan untuk menjalani vaksinasi tahap kedua dalam dua minggu ke depan.

Lima rekan saya lainnya mendapatkan vaksinasi lebih dulu, dan juga tidak menunjukkan KIPI. Mereka juga takjub karena ternyata proses suntiknya cepat. Jadi bagi yang takut jarum suntik, tidak usah khawatir ya.

3. Kekebalan tubuh maksimal terbentuk tiga bulan setelah vaksin kedua. Jadi dalam rentang waktu itu tetap harus menerapkan protokol kesehatan

Pengalaman Vaksinasi Jurnalis IDN Times Bali, Jujur Takut Jarum SuntikProses vaksinasi jurnalis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan. (IDNTimes /Wira Sanjiwani)

Kepala Tim Penanggulangan COVID-19 RSUD Tabanan,  dr I Gede Sudiarta, mengatakan meskipun sudah divaksinasi bukan berarti boleh kendor untuk menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Masyarakat harus tetap memakai masker, hindari kerumunan, jaga jarak, dan tentunya mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer serta penerapan pola hidup sehat.

"Kekebalan tubuh mulai terbentuk setelah vaksin kedua dan maksimal terbentuk tiga bulan setelah vaksin kedua. Jadi dalam rentang waktu itu masih bisa terpapar COVID-19. Sehingga tetap terapkan protokol kesehatan," ujar Sudiarta.

Baca Juga: Cara dan Syarat Mengurus CHSE di Tabanan, Butuh Waktu 2 Minggu

Topic:

  • Ni Ketut Wira Sanjiwani
  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya