Denpasar, IDN Times - Suasana panas Kota Denpasar tak menghalangi semangat para perempuan asal Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) unjuk kemampuan memasak masakan berbahan pangan lokal di depan panggung kecil Ardha Chandra, pada Sabtu (24/1/2025) lalu. Beberapa Kain Prada khas Bali tergantung di lokasi menghiasi dapur sederhana. Payung dekorasi khas Bali juga tertancap di beberapa sudut.
Kemeriahan warna di lokasi dan panasnya cuaca seolah ikut membakar semangat para perempuan-perempuan dari tiga provinsi tersebut. Sebanyak 2 tim perempuan berasal dari NTT, 2 tim perempuan dari NTB, dan Provinsi Bali hanya diwakili satu tim. Lima belas perempuan tersebut kompak memakai baju berwarga ungu. Beberapa dari mereka memakai sarung khas NTT, ada yang memakai kerudung, dan menyelipkan Bunga Jepun atau Kamboja di telinganya, juga memakai kebaya khas Bali.
Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan Cerita Rasa Bali-Nusa Tenggara ini diadakan untuk mempertemukan para perempuan mitra Amartha. Tujuan kompetisi ini untuk melestarikan kuliner tradisional Indonesia dan telah dilaksanakan di lima pulau besar lainnya. Terselenggaranya program ini sebagai wujud pemberdayaan untuk perempuan dalam UMKM yang memang sektor kuliner ini mendominasi usaha yang didanai oleh Amartha. Para perempuan mitra Amartha ia sebut menjadikan usaha kuliner sebagai tumpuan perekonomian untuk menghidupi keluarga hingga menyekolahkan anaknya.
"Sebagian besar nasabah Amartha itu berbisnis kuliner," ungkapnya.
Warisan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang terus berkembang dan memberi warna pada identitas setiap daerah. Masakan dari Bali dan Nusa Tenggara tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam. Dari dapur rumah tangga, cita rasa lahir dari teknik memasak, alat tradisional, dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Masyarakat Bali dan Nusa Tenggara sejak lama memanfaatkan teknologi pangan sederhana berbasis alam. Lesung dan Alu digunakan untuk menumbuk bumbu, bambu dipakai sebagai alat masak, hingga teknik pengasapan yang membuat makanan lebih awet dan bercita rasa khas. Di Bali, sistem Subak juga berperan menjaga ketersediaan pangan melalui pengelolaan air dan pertanian secara berkelanjutan.
Tradisi memasak ini tidak hanya membentuk cita rasa, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian para ibu di Bali dan Nusa Tenggara. Dari dapur rumah, para ibu merawat pengetahuan mengolah bahan, menggunakan alat tradisional, dan memanfaatkan alam secara bijak agar pangan terjaga bagi keluarga.
"Pangan lokal bukan sekadar bahan masakan, tetapi bagian dari kehidupan. Dari dapur, para ibu terus menjaga tradisi untuk menghadirkan masakan rumahan yang menemani tumbuh kembang anak dan menjadi kenangan di setiap keluarga," ungkapnya.
