Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pameran Lontar Widyaaksara, Bulan Bahasa Bali 2026
Pameran Lontar Widyaaksara, Bulan Bahasa Bali 2026(Dok. Pribadi)

Intinya sih...

  • Februari adalah bulan cinta yang dirayakan dengan penuh semangat, tetapi di Bali juga merupakan Bulan Bahasa Bali untuk menjaga dan memuliakan bahasa, aksara, serta sastra Bali.

  • Bahasa Bali dianggap sulit dan tidak relevan oleh generasi muda, yang menyebabkan penurunan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari dan bahkan di rumah.

  • Komunitas perlu meningkatkan kesadaran kolektif, terutama dari pemuda, untuk menjaga bahasa Bali agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap memasuki bulan Februari, saya mulai merasakan suasana yang berbeda. Etalase toko mulai dipenuhi hadiah dan promo dengan label “Spesial Hari Kasih Sayang”.

Warna merah muda mendominasi sudut-sudut pusat perbelanjaan. Anak-anak muda sibuk memikirkan hadiah terbaik untuk pasangannya. Cokelat apa yang akan dibeli, bunga seperti apa yang akan diberikan, atau kata-kata manis apa yang akan dituliskan. Seolah-olah, Februari memang menjadi panggung besar untuk menunjukkan rasa sayang kepada seseorang.

Namun di Bali, Februari juga memiliki arti yang lebih dalam. Bulan ini ditetapkan sebagai Bulan Bahasa Bali, sebuah upaya resmi untuk menjaga dan memuliakan Bahasa, Aksara, serta Sastra Bali. Saya bisa melihat bagaimana Bulan Bahasa Bali di tahun ini dirayakan secara nyata dan semakin tertata.

Saya juga sangat tertarik dengan Tema resmi yang diangkat tahun ini. “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa” . Sebuah ungkapan bahwa bahasa, aksara, dan sastra Bali bukan sekedar dokumen budaya, tetapi taman spiritual yang memupuk jiwa masyarakat Bali agar selalu paripurna dan selaras di dunia modern.

Perayaannya pun tidak setengah-setengah. Dari tingkat sekolah, desa, hingga provinsi, berbagai lomba dan kegiatan digelar. Saya melihat ada pemuda-pemudi yang benar-benar terlibat aktif, berlatih keras, dan tampil dengan penuh percaya diri. Mereka adalah wajah harapan dalam menjaga dan melestarikan bahasa Bali. 

Tetapi di luar itu, jumlahnya tidak sebanyak yang saya bayangkan. Yang aktif sering kali itu-itu saja, mereka yang memang sejak awal memiliki minat atau memang berada di lingkungan yang mendukung.

Lalu yang lainnya di mana?

Apakah mereka merasa bahasa Bali terlalu sulit?, Tidak relevan?,

Atau mereka tidak terbiasa karena dalam keseharian pun jarang menggunakannya?

Di situlah saya menyadari bahwa tantangan sebenarnya bukan pada penyelenggaraan acaranya. Bukan pula pada kurangnya panggung. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjadikan bahasa Bali tetap hidup di sekolah, di rumah, di pergaulan, dan dalam percakapan sehari-hari.




Malajah Sambil Maplalianan BBB VIII (Dok. Pribadi)

Tanpa disadari, kita begitu piawai merayakan cinta di Hari Valentine. Kita rela menyiapkan hadiah, menyusun kalimat indah, bahkan mengekspresikan perasaan yang selama ini terpendam. Namun ketika berbicara tentang bahasa ibu sendiri, kita justru sering kali ragu.

Bahasa Bali dianggap sulit. Tingkatan katanya membuat banyak pemuda takut salah. Aksara Bali dilihat rumit dan kuno. Sastra Bali dinilai tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Dalam percakapan sehari-hari, bahasa Bali semakin jarang terdengar di kalangan generasi muda. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena tidak terbiasa.

Yang lebih memprihatinkan, perubahan juga terjadi di dalam rumah. Tidak sedikit orang tua kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Alasannya praktis, agar anak lebih mudah memahami pelajaran, agar lebih siap menghadapi dunia luar. Niatnya tentu baik. Namun tanpa disadari, rumah yang seharusnya menjadi ruang pertama pewarisan bahasa perlahan kehilangan perannya. Bahasa Bali tidak lagi menjadi bahasa yang tumbuh alami, melainkan bahasa yang hanya muncul saat dibutuhkan.

Ironisnya, di waktu tertentu, kita dengan lantang berkata bahwa kita bangga menjadi orang Bali.

Bangga dalam arti apa?
Bangga karena Bali dikenal dunia?
Bangga karena budaya kita dikagumi wisatawan?
Atau bangga karena benar-benar merasa memiliki bahasa yang menjadi jiwa dari seluruh kebudayaan itu?

Cinta tidak cukup hanya diucapkan. Namun juga harus dibuktikan dalam kebiasaan.

Jika kita bisa begitu antusias merayakan cinta saat hari Valentine, mengapa kita tidak menunjukkan cinta yang sama pada bahasa yang membentuk identitas kita seumur hidup? 

Bahasa tidak akan hilang dalam satu malam. Bahasa akan memudar perlahan ketika generasinya merasa tidak lagi membutuhkannya dan ketika hanya menjadi simbol kebanggaan, bukan praktik keseharian.

Bulan Bahasa Bali memanglah langkah yang tepat dan penting, yang menunjukkan bahwa ada komitmen untuk menjaga. Namun menjaga bahasa tidak bisa hanya bergantung pada regulasi dan seremoni. Tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif, terutama dari pemudanya. Karens kita yang paling cepat mengikuti perubahan, tetapi juga paling menentukan arah masa depan.

Mungkin sudah saatnya kita memaknai ulang Februari. Tidak hanya sebagai bulan untuk mengungkapkan cinta pada seseorang, tetapi juga sebagai momen untuk menguji kejujuran kita dan bertanya kepada diri kita sendiri,

"Sudahkah kita mencintai bahasa ibu kita?"

Ataukah kita hanya pandai merayakan cinta, tetapi lupa mencintai akar kita sendiri?

Karena pada akhirnya, kebanggaan bukan tentang seberapa sering kita mengatakannya. Kebanggaan terlihat dari apa yang kita pilih untuk terus kita hidupkan.

Sekali lagi, mari kita renungkan bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team