Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Masyarakat Indonesia Diimbau Berobat di Negara Sendiri
Foto hanya ilustrasi (IDN Times/Daruwaskita)

Badung, IDN Times – Maraknya pola hidup masa kini yang tanpa disadari memperberat kerja jantung dan saraf otak. Hal ini memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Associate Director Commercial Siloam Hospitals Group, Angelia Agustine, dalam keterangannya menekankan agar masyarakat Indonesia tak perlu keluar negeri untuk berobat. Karena sejumlah rumah sakit dan teknologi kesehatan yang menyertai saat ini di Indonesia sudah memadai.

Contohnya kemampuan rumah sakit dalam melakukan prosedur-prosedur hi advance, dengan ditopang oleh fasilitas medical devices yang diklaim membantu menyembuhkan jutaan pasien masyarakat Indonesia.

“Grup kami sendiri sudah tidak asing dalam prosedur tindakan sangat sulit seperti ini. Sehingga mengimbau masyarakat Indonesia untuk berobat di negara sendiri,” ungkapnya.

1.Rumah sakit berinvestasi alat canggih untuk penanganan penyakit

Siloam Hospitals mengadakan diskusi kesehatan (Dok.IDN Times/istimewa)

Sebagai rumah sakit swasta, Siloam Hospitals, yang telah memiliki 41 unit rumah sakit tersebar di 30 kota seluruh Indonesia termasuk di Pulau Bali, berperan dalam mendukung program pemerintah terkait peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan wawasan dokter spesialis, dokter umum dan tenaga medis, serta beberapa hal lainnya.

“Prosedur tindakan hi advanced dilakukan oleh dokter-dokter subspesialis kami yang sangat ahli di bidangnya secara minimal invasive. Hingga 2024 ini, kami menambah banyak layanan unggulan sekaligus investasi banyak alat canggih berteknologi tinggi demi mendampingi pelayanan prosedur tindakan hi advance, agar menyempurnakan secara komprehensif dan memberikan hasil maksimal bagi para pasien,” ujarnya.

Beberapa pelayanan khusus seperti transplant ginjal, transplant sumsum tulang khusus untuk penderita Multiple Mieloma dan juga melayani transplant liver, transplant jantung (LVAD) Left Ventricular Assist Device. Berbagai operasi prosedur hi advanced di bidang neurology, orthopedi, digestive, oncology, uro-nephrology, dan lainnya.

2.Teknologi terapan satu di antaranya untuk penyakit epilepsi

Ilustrasi Penanganan Korban Epilepsi (paxels.com/cottonbro studio)

Epilepsi termasuk gangguan neurologis paling umum, dengan prevalensi 1-2 persen dari populasi global, termasuk di Indonesia. Meskipun sekitar 70 persen kasus dapat dikendalikan dengan pengobatan. Namun Pakar Neurologi Siloam Hospitals, dokter I Gusti Ayu Made Riantarini, mengakui banyak penderita masih menghadapi kendala akses pengobatan dan stigma sosial.

“Kami menyediakan layanan komprehensif, termasuk teknologi diagnostik terkini seperti EEG dan MRI, serta terapi inovatif seperti Vagus Nerve Stimulation (VNS), yang dirancang untuk membantu pasien dengan epilepsi yang sulit dikendalikan,” terangnya.

3.Layanan tindakan sulit seperti kasus jantung bisa dilakukan

ilustrasi nyeri dada (pexels.com/koolshooters)

Gagal jantung termasuk tantangan kesehatan utama di Indonesia dengan sekitar 1,5 juta orang hidup dengan kondisi ini. Secara global, lebih dari 64 juta orang menurut dokter Leonardo Paskah Suciadi, terdampak gagal jantung menjadikannya penyebab utama rawat inap dan kematian terkait kardiovaskular.

“Terapi canggih seperti Left Ventricular Assist Device (LVAD), membantu pasien gagal jantung stadium lanjut meningkatkan kualitas hidupnya,” terangnya.

Khusus untuk pelayanan jantung sendiri terdapat layanan-layanan tindakan sulit seperti Bentall (Operasi perbaikan aorta), TAVI (Transcatheter Aortic Valve Implantation), MVR/AVR, hingga perbaikan katub jantung.

Editorial Team