Denpasar, IDN Times - Seorang mantan pekerja migran yang berasal dari Medan, Novita Wesley Simanjuntak (55), sukses membangun bisnis Namaste 21 Handmate yang berlokasi di Jalan Padang Galak Nomor 11a, Kecamatan Denpasar Timur.
Bisnis yang dibangun dari produk masker tersebut kini berkembang menjadi sekitar 65 item lebih d iantaranya tas, fashion dan craft. Omzetnya per tahun mencapai lebih dari Rp275 juta.
"Awalnya itu dari masker, sesimpel kebutuhan yang memang benar-benar kebutuhan utama ketika zaman COVID," terangnya, pada Kamis (2/4/2026).
Novita bercerita, dirinya bekerja sebagai perawat di Kuwait selama 9 tahun dan menerima gaji. Sepulangnya dari Indonesia, para PMI dituntut untuk tetap produktif dan berdaya di dalam negeri.
Nyalinya diuji saat pandemik COVID-19. Ia melihat peluang pasar masker yang terbuka lebar saat itu. Tidak mudah baginya merintis usaha di luar bidang keilmuannya. Terutama kaitan dengan produksi, pemasaran, suplier, memilah market, dan sebagainya.
"Dengan up and down itu, dengan dukungan dari berbagai pihak ini membuat kita itu terliterasi dengan baik," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) atau Kepala BP2MI, Mukhtarudin. mengatakan P2MI mengemban peran pembinaan terhadap PMI, mulai sebelum mereka berangkat hingga setelah berangkat. Dengan harapan mereka tidak menambah angka pengangguran usai kontrak kerjanya selesai dan harus kembali ke dalam negeri.
Para PMI diwanti-wanti agar terus berjejaring dan menyisihkan gajinya. Dengan kerja sama lintas kementerian dalam program kewirausahaan, pihaknya mendukung penuh usaha yang dirintis para mantan PMI baik yang berskala mikro maupun berorientasi ekspor. Di Bali sendiri, setidaknya lebih dari 5.000 mantan PMI telah mengikuti pembinaan tersebut.
"Jadi kami masih ada pemberdayaan kepada purna pekerja migran yang melalui pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Bagi yang mau membentuk usaha mikro, kita fasilitasi dengan Kementerian UMKM, karena ada kredit KUR dari Kementerian UMKM," terangnya.
