Foto hanya ilustrasi. (IDN Times/Irma Yudistirani)
Dalam Lontar Sundarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno menyebutkan:
Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana
Dari kutipan lontar tersebut terdapat beberapa makna di dalamnya, yaitu:
Ngiring prewatek dewata, yang berarti upacara Melasti hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya
Anganyutaken laraning jagat, memiliki arti menghanyutkan penderitaan masyarakat, di mana upacara Melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual dalam melenyapkan penyakit-penyakit sosial di masyarakat
Papa klesa, memiliki makna Melasti bertujuan untuk menuntun umat agar menghilangkan kepapaannya (Penuh dosa). Ada lima klesa yang dapat membuat orang menjadi papa yaitu awidya (Kegelapan atau mabuk), asmita (Egois, mementingkan diri sendiri), raga (Pengumbaran hawa nafsu), dwesa (Sifat pemarah dan pendendam), dan adhiniwesa (Rasa takut tanpa sebab)
Letuhing Bhuwana, artinya alam yang kotor, di mana Melasti memiliki tujuan untuk meningkatkan umat Hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungannya
Ngamet sarining amerta ring telenging segara, artinya mengambil sari-sari kehidupan dari tengah laut atau sumber air.
Dalam Babad Bali disebutkan, bahwa Melasti disebut juga sebagai Melis atau Mekis yang memiliki tujuan melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan, perbuatan, serta memperoleh amertha atau air suci yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, sungai, danau, atau mata air yang disucikan. Setelah Melasti, diharapkan umat Hindu sudah siap memasuki tahun baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Melasti dilaksanakan beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi. Pratima atau pralingga yang ada di pura diusung ke sumber mata air sebagai simbol untuk penyucian alam beserta isinya. Setelah dari sumber mata air, pratima atau pralingga Ida Sesuhunan akan diletakkan (Melinggih) di Pura Bale Agung Desa setempat, sampai sehari sebelum Hari Raya Nyepi.