Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lighting Berperan Membentuk Atmosfer dan Emosi Manusia
ide dekorasi kamar tidur dengan lampu rotan (pexels.com/Max Vakhtbovycn)
  • Pencahayaan berperan penting membentuk atmosfer, emosi, dan kenyamanan manusia, bukan sekadar elemen teknis dalam desain interior.
  • Abdi Ahsan menyoroti rendahnya kesadaran industri terhadap fungsi lighting yang memengaruhi produktivitas serta regulasi hormon seperti melatonin.
  • Robby Permana Mannas menyebut kesadaran terhadap pentingnya lighting di sektor hospitality Indonesia kini meningkat dibandingkan satu dekade lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gianyar, IDN Times - Ketepatan pencahayaan masih menjadi hal yang belakangan diperhatikan dalam industri lighting. Padahal, pencahayaan berperan membentuk atmosfer, emosi, hingga mengarahkan pergerakan dan kenyamanan manusia.

Founder & Direktur Lumina Group & Light Talk ID sekaligus Founder of E8, Abdi Ahsan, mengatakan proyek lighting yang dirancang dengan tepat sejatinya tidak hanya berfokus pada pencahayaan, tetapi juga pengalaman manusia. Pengalaman tersebut berkaitan dengan kepuasan hingga produktivitas.

"Manusia itu makhluk fototropik, artinya secara DNA kita itu tertarik sama cahaya. Artinya lighting memiliki korelasi langsung dengan manusia sebenarnya," ungkapnya pada Kamis (22/5/2026) sore.

Masih banyak anggapan teknik pencahayaan bagian dari tahap finishing

ilustrasi interior kamar tidur hidden lighting (unsplash.com/Frank Ng)

Abdi mengatakan, banyak industri maupun proyek hospitality masih menganggap pencahayaan sebagai tahap finishing. Akibatnya, lighting hanya menjadi penyesuaian teknis, bukan bagian dari desain interior yang direncanakan sejak awal.

Menurut Abdi, ada tiga aspek yang memengaruhi kondisi tersebut, yakni awareness, recognition, dan resources. Pada aspek awareness, masih banyak pihak yang belum memahami fungsi dan nilai dari lighting. Kondisi itu kemudian berpengaruh terhadap recognition hingga resources.

"Kita itu masih ketinggalan," ungkapnya.

Lighting berpengaruh terhadap regulasi hormon manusia

ilustrasi lampu dari botol kaca (freepik.com/EyeEm)

Abdi mencontohkan, pemilihan lighting yang tepat disebut berpengaruh terhadap produktivitas seseorang di kantor. Sebab, desain pencahayaan yang sesuai dapat mengurangi kelelahan pada mata.

Ketepatan pencahayaan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan fisik dan psikologis manusia. Sejak 2010, lighting diketahui berpengaruh terhadap regulasi hormon manusia secara fisiologis.

"Contoh paling gampang gini, warna dan intensitas dari cahaya itu mempengaruhi produksi hormon melatonin. Nah, melatonin itu berguna untuk membuat orang merasa rileks. Nah, kenapa sebabnya di setiap resort itu kebanyakan warna lighting-nya atau suasana yang dibuat itu ke arah warm," ujarnya.

Edukasi pencahayaan di Indonesia makin membaik

Ilustrasi lampu (freepik.com/rawpixel.com)

Sementara, Direktur Dua Lighting sekaligus Co Founder of E8, Robby Permana Mannas mengatakan, berbagai sektor di Indonesia, termasuk hospitality, terdampak keputusan lighting yang terlambat direncanakan. Sektor hospitality seperti hotel dan restoran menjadi sorotan karena mengedepankan konsep kenyamanan.

Meski demikian, Robby menilai awareness terhadap lighting di Indonesia saat ini lebih baik dibandingkan 10 tahun lalu.

"Sekarang sudah tertata rapi, terdesain dengan baik (titik-titik lampu)," ungkapnya.

Editorial Team