Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2022. (Dok.IDN Times/istimewa)
Selanjutnya ia mengungkapkan data riset kesehatan daerah tahun 2018 menunjukkan bahwa 94,7 persen masyarakat Indonesia menyikat gigi. Dari angka tersebut hanya 2,8 persen yang menyikat gigi dengan mengikuti aturan yang baik sehingga diperlukan perbaikan perilaku cara menyikat gigi.
Sebanyak 57,6 persen masyarakat Indonesia mengeluh sakit gigi. Tetapi yang ke dokter gigi hanya 10,2 persen saja. Kenapa? Usman mengatakan hal ini karena tidak ada dokter gigi.
“Yang ada di Jakarta, di Bali, dan kota-kota besar. Tapi bicara Indonesia secara keseluruhan memang sangat tidak merata. Dokter gigi sangat susah diakses,” jelasnya.
Terkait kebutuhan dokter gigi ini, ia menilai produksi pendidikan yang dianggap kurang banyak. Jumlah dokter gigi di Indonesia menurutnya cukup memprihatinkan, yakni hanya ada 14 dokter gigi per 100 ribu.
Melihat kondisi tersebut, ia menilai pemerintah belum berani membuat kebijakan yang menentukan jumlah dokter gigi pada suatu wilayah sehingga terjadi pemerataan penyebaran dokter gigi di Indonesia. Sejauh ini penyebaran hanya terpusat di kota-kota besar.
“Jadi memang saya mengusulkan ke Menteri Pendidikan agar mencetak dokter gigi lebih banyak, terutama spesialis,” ungkapnya.