Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
TPA Suwung kembali terbakar pada 8 Mei 2024 (Dok.IDN Times/istimewa)
TPA Suwung kembali terbakar pada 8 Mei 2024 (Dok.IDN Times/istimewa)

Intinya sih...

  • Solusi alternatif penanganan sampah terbatas

  • Koster klaim kunjungan wisman tetap ramai meskipun masalah sampah dan macet

  • Pemasukan pajak hotel dan restoran tetap tinggi, naik Rp500 miliar lebih dari tahun 2024 ke 2025

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Perwakilan lembaga eksekutif Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, yakni Gubernur Bali Wayan Koster menerima saran dan masukan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali pada Sidang Paripurna ke-24 Selasa (20/1/2026) kemarin. Selain membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penambahan Penyertaan Modal kepada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, DPRD Bali juga menyarankan beberapa hal.

“Pada prinsipnya saya sangat mengapresiasi ada masukan-masukan untuk perlu koordinasi soal sampah, macet, dan sebagainya. Izinkan saya melaporkan ini semua sedang kami kerjakan,” kata Koster menanggapi saran DPRD Bali pada Selasa (20/1/2026) di Kantor Gubernur Bali.

Solusi alternatif penanganan sampah terbatas

TPA Suwung (IDN Times/Yuko Utami)

Persoalan sampah di Bali masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemprov Bali. Pemprov Bali beberapa kali mengajukan penundaan penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung kepada Kementerian Lingkungan Hidup (LH) RI. Penutupan TPA Suwung adalah konsekuensi dari pelanggaran atas regulasi pengelolaan sampah. Selama 40 tahun lebih, TPA Suwung beroperasi dengan sistem pembuangan terbuka atau open dumping, tanpa adanya pengelolaan dan pemilahan.

“Saya sering pusing tiap hari mengurusi masalah sampah karena sudah sangat mendesak. Namun alternatif solusi yang kita miliki itu sangat terbatas. Dan kita harus memilih dan mengambil keputusan dalam kondisi yang serba terbatas tersebut,” beber Koster.

Koster klaim meski ada masalah sampah dan macet, kunjungan wisman tetap ramai

Kondisi Pantai Sanur di akhir tahun pada Rabu, 31 Desember 2025. (IDN Times/Yuko Utami)

Koster mengatakan, meskipun polemik sampah, macet, hingga banjir menerjang Bali, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali tetap tinggi. “Meskipun di medsos (media sosial) ribut sampah, ribut macet, ribut macam-macam jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali pada tahun 2025 itu naik signifikan,” klaimnya.

Ia memaparkan, kunjungan wisman ke Bali yang masuk melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, di bulan Desember mencapai 7 juta kunjungan wisman. Sementara itu, tahun 2024 lalu kunjungan wisman ke Bali hanya sebesar 6,3 juta. “Dan ini tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” imbuh Koster.

Pemasukan pajak hotel dan restoran tetap tinggi

ilustrasi pajak (IDN Times/Aditya Pratama)

Selain membahas kunjungan wisman, Koster juga menyinggung tingkat hunian hotel di Bali melalui pengecekan pajak hotel dan restoran. “Apakah pajak hotel restorannya juga naik. Saya cek, naik. Pajak hotel restoran, kabupaten kota saya cek satu-satu naik semua,” ujarnya. Kenaikan dari tahun 2024 ke tahun 2025, secara akumulatif mencapai Rp500 miliar lebih.

Ia mengakui ada banyak masalah yang belum terselesaikan di Bali. Meskipun demikian, pihaknya tetap bersyukur atas kunjungan wisman yang masih tinggi. “Bahwa ada yang belum beres iya yang harus kita selesaikan sama-sama,” tutupnya.

Editorial Team