Denpasar, IDN Times - Masih membekas dalam ingatan Wemison Enembe, teror paket kepala babi yang ditujukan kepadanya. Jumat, 6 Juni 2025 Wemison sedang tak berada di indekosnya. Teman-teman satu kosannya mengabari Wemison, bahwa mereka menerima sebuah paket kotak besar. Paket itu ditujukan kepada Wemison bertuliskan Buku Papua Bergerak.
Tanpa curiga, Wemison meminta teman-teman kosannya membuka kotak paket itu. Belum seluruh lapisan kotak terbuka, bau busuk khas bangkai menyeruak, menusuk hidung. Kaget tak kepalang, kotak paket itu berisi bangkai kepala babi. Hingga kini identitas pengirim teror paket kepala babi belum terungkap.
Wemison adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Bali. Kepada IDN Times, Wemison berkata kebebasan berekspresi di Bali belum sepenuhnya tercapai.
“Intimidasi, teror masih terus terjadi sehingga kebebasan berekspresi sangat minim baik bagi orang Bali sendiri apalagi bagi kami orang Papua,” kata Wemison saat diwawancarai Sabtu lalu, 23 Agustus 2025.
Ia melanjutkan, pembatasan atas perjuangan hak asasi terjadi di beberapa wilayah Indonesia, seperti Papua, Aceh, dan Maluku. Lalu, bagaimana tantangan yang dihadapi sebagai pembela HAM? Ini jawaban selengkapnya