Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mendengarkan musik (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi mendengarkan musik (pexels.com/cottonbro studio)

Denpasar, IDN Times - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) menargetkan penelitian terkait Music and Brain yang hingga saat ini masih minim dilakukan para peneliti. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, setelah acara Music and Brain yang diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, pada Minggu (11/1/2026).

Stella mengatakan, potensi musik di Indonesia sangat besar, namun belum diimbangi dengan penelitian terkait pengaruh musik ke otak. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah atau PR tersendiri bagi Kemdiktisaintek untuk bagaimana menciptakan ekosistem dan riset funding. Kabar bahagianya, riset funding Indonesia selama setahun ini meningkat sebanyak 218 persen, sehingga diharapkan akan mampu mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian. Mereka yang memenangkan penelitian sendiri juga sudah disiapkan insentif khusus dari Kemdiktisaintek.

"Wow bukan kurang lagu, kurang sekali (penelitian musik). Tidak ada penelitiannya. Gak ada penelitian musik dan otak yang setaraf ini di Indonesia. tapi itulah tugas kami di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi," ungkapnya.

1. Masyarakat perlu menyadari hubungan musik, otak, dan kreativitas

Wamendiktisaintek, Stella Christie (Dok.IDN Times/istimewa)

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menyampaikan bahwa musik merupakan satu hal yang disukai masyarakat umum. Musik membutuhkan proses otak. Berdasarkan penelitian, musik memiliki pengaruh pada proses otak dan kesehatan. Ia secara pribadi mendorong agar segala sesuatu dilihat dari sisi sainsnya. Ini menjadi agenda ketiga kalinya Kemdiktisaintek berupaya memberikan akses informasi mengenai perkembangan sains dan teknologi kepada masyarakat dan komunitas akademik.

"Musik membawa persatuan bagi Indonesia, dan masyarakat Indonesia benar-benar mencintai musik dengan segala variasi dan keindahannya sebagai bagian dari budaya kita," ungkapnya.

Proses impovisasi musik, terutama usia anak-anak, daopat meningkatkan pengaktifkan pleasure dan reward area di dalam otak. Kesempatan ini membuat seseorang akan lebih bahagia. Indonesia sendiri memiliki potensi musik yang menurtnya luar biasa. Misalnya, Gamelan. Struktur musiknya tidak ada di struktur musik lainnya. Keistimewaan inilah yang ia harapkan akan mendorong pengoptimalan peran musik untuk kualitas otak.

"Kenapa otak itu bisa begitu kreatif. Yang paling menarik sekali musik itu diciptakan oleh otak, dan untuk otak. Jadi bagaimana otak menciptakan. Kenapa otak menciptakan, dan bagamana kita memproses musik itu sendiri," ungkapnya.

2. Musik erat kaitannya dengan kesehatan mental

ilustrasi orang mendengarkan musik (pexels.com/cottonbro studio)

Menurut Prof Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF), ia perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat dan komunitas akademik mengenai hubungan antara musik, otak, dan kesehatan. Dalam perspektif neurosains, musik memiliki peran yang melampaui fungsi hiburan semata. Keberadaan musik di hampir seluruh budaya manusia menunjukkan bahwa musik memiliki makna biologis yang mendasar, khususnya dalam kaitannya dengan kesehatan mental dan hubungan sosial.

Perlunya mendorong masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas bermusik sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak, tanpa menekankan kemampuan teknis atau tujuan tampil, melainkan pada proses berpikir musikal yang dinilainya bermanfaat bagi fungsi otak.

"Semua budaya sepanjang keberadaan manusia pada dasarnya memiliki musik. Keberadaannya sepanjang sejarah manusia menyiratkan bahwa musik penting pada tingkat biologis yang sangat mendasar,” ungkapnya.

3. Tiongkok ingin kerja sama penelitian musik dengan Indonesia

mendengarkan musik (unsplash.com/AustinDistel)

Sementara itu, Director of Tsinghua Lab of Brain and Intelligence, Xiaoqin Wang, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam penelitian otak dan kecerdasan. Menurutnya, perbedaan latar belakang budaya dan lingkungan menjadi faktor penting dalam memahami cara kerja otak manusia.

Ia mengungkap ada banyak area potensial untuk kolaborasi dalam neurosains dan penelitian otak. Ketika kita melihat individu yang hidup dalam lingkungan budaya yang berbeda di Tiongkok dan Indonesia, otak akan mencerminkan budaya dan latar belakang yang berbeda.

"Dengan berkolaborasi dengan ilmuwan, musisi, dan dokter di Indonesia, kami percaya kita dapat memahami lebih dalam apa yang membuat otak beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda,” ujarnya.

Xiaoqin Wang menambahkan, pesatnya perkembangan teknologi di Tiongkok dapat memperkuat kerja sama penelitian dengan Indonesia. Sementara itu, keragaman budaya, kondisi geografis, dan konteks sosial Indonesia dinilai memberikan peluang unik dalam studi neurosains. Kolaborasi ini juga membuka akses bagi peneliti Indonesia terhadap teknologi, komputasi, dan kecerdasan buatan untuk mendorong pengembangan riset berbasis komunitas.

Editorial Team