Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kedudukan Ibu dan Perempuan Dalam Lukisan Wayan Santrayana
Seniman lukis asal Bali, I Wayan Santrayana (IDN Times/Ayu Afria)
  • Lukisan 'Ibu' karya I Wayan Santrayana dipamerkan di Santrian Gallery hingga April 2026, menggambarkan filosofi ibu sebagai simbol kesuburan dan kehidupan yang sering menghadapi pelecehan.
  • Santrayana menyoroti tantangan perempuan masa kini yang lebih kompleks dibanding dulu, termasuk tuntutan kesetaraan dan penghargaan terhadap peran ibu yang kerap terabaikan.
  • Ia menegaskan pentingnya memuliakan ibu serta melihat perempuan sebagai sumber inspirasi seni, dengan peluang besar bagi pelukis perempuan meski masih jarang karena tanggung jawab domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pameran seni bertajuk “Tutur Ayu” menampilkan 18 lukisan, salah satunya karya I Wayan Santrayana berjudul “Ibu” yang mengangkat makna filosofis tentang peran dan kemuliaan ibu serta perempuan.
  • Who?
    I Wayan Santrayana, seniman asal Bali, menjadi pembuat lukisan “Ibu” dan menyampaikan pandangannya mengenai kedudukan ibu dan perempuan dalam kehidupan sosial maupun alam.
  • Where?
    Pameran berlangsung di Santrian Gallery, Denpasar, Bali, tempat karya-karya termasuk lukisan “Ibu” dipajang untuk publik.
  • When?
    Lukisan “Ibu” dipamerkan hingga 30 April 2026 sebagai bagian dari pameran “Tutur Ayu”.
  • Why?
    Lukisan dibuat untuk menggambarkan nilai kesuburan, pengorbanan, serta penghormatan terhadap ibu dan perempuan yang sering menghadapi pelecehan serta kurangnya pengakuan sosial.
  • How?
    I Wayan Santrayana menuangkan pesan tersebut melalui lukisan akrilik berukuran 40x50 cm yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari dan pandangan filosofis tentang ibu sebagai simbol alam semesta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada pelukis namanya Pak Wayan Santrayana. Ia buat lukisan judulnya Ibu. Lukisan itu tentang ibu dan perempuan yang kuat tapi sering sedih karena tidak dihargai. Katanya, ibu itu penting sekali, seperti alam yang memberi hidup. Lukisan ini dipajang di galeri sampai tahun 2026 supaya orang ingat untuk sayang dan hormat pada ibu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Satu dari 18 lukisan yang dipamerkan dalam pameran yang berjudul Tutur Ayu di Santrian Gallery menarik perhatian karena makna filosofisnya. Lukisan tersebut akan dipajang hingga 30 April 2026 mendatang, merupakan karya dari seniman I Wayan Santrayana yang berjudul Ibu.

Menurut I Wayan Santrayana, lukisannya banyak terinspirasi dari kejadian sehari-hari yang ia alami di masyarakat maupun alam. Lukisan berjudul Ibu sarat makna filosofis dan edukasi bagaimana seseorang bersikap sebagai seorang ibu secara mikro kosmos, dan secara makro kosmos ibu adalah alam itu sendiri.

"Ibu itu adalah lambang kesuburan. Lambang menyambung hidup, yang sangat berat bebannya. Di satu sisi ia sering mendapatkan pelecehan," terangnya.

1. Kodrat yang sama dan tantangan yang berbeda

Lukisan berjudul Ibu karya I Wayan Santrayana (Dok.IDN Times/istimewa)

I Wayan Santrayana berpendapat, secara kodrat perempuan zaman dulu dan saat ini sama. Perempuan dulu yang sudah menjadi ibu memang memiliki peran mengasuh anak-anaknya. Tugas berat yang berkaitan dengan bakti tersebut dilakukan tanpa pamrih, karena menyadari tanggung jawab tersebut adalah kewajiban jiwanya seorang Ibu.

Sekarang, perempuan banyak dituntut oleh keadaan yang jauh lebih kompleks daripada perempuan-perempuan dulu. Saat ini perempuan dihadapkan dengan banyaknya hal-hal kontroversial sebagai nilai seorang ibu.

"Bukan berarti dulu lebih gampang. Gak, sekarang bagaimana beliau bertugas di luar, bagaimana beliau menyetarakan diri dengan kaum laki-laki. Bagaimana beliau mengangkat citra dirinya. Itu kan kompleks sekali," terangnya.

2. Perempuan lekat dengan pelecehan, harus dimuliakan

ilustrasi seorang perempuan yang berada di dalam museum (pexels.com/Rachel Claire)

Pada faktanya perempuan saat ini mengalami banyak pelecehan. Banyak ibu yang tidak mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang layak baik dari lingkup keluarga dan lingkungannya. Ia melihat situasi itu tidak lagi disadari oleh banyak orang, bahwa tidak menghormati ibu berdekatan dengan kehancuran.

Ajakannya menghargai dan memuliakan ibu ia sampaikan dalam lukisan akrilik tahun 2024 yang berukuran 40x50cm (centimeter).

"Secara prinsip seorang ibu itu harus kita dimuliakan. Ada statement dimana seorang ibu tidak dihormati disana ada kehancuran. Itu betul," tegasnya.

Lantas bagaimana dengan perempuan yang menjadi pelaku kekerasan? Baginya, hal tersebut adalah keterbatasan sebagai manusia. Para perempuan harus disadarkan bahwa ia lebih bisa meredam kekerasan dibandingkan laki-laki sebagaimana berkaitan dengan kromosomnya.

"Perempuan itu kalau dia melampiaskan kekerasan biasanya dengan nangis saja. Nangis dia. Mungkin diam dipojok dia. Itu kalau sampai mereka melakukan kekerasan itu sudah luar biasa, mereka tidak bisa mengendalikan dirinya," jelasnya.

3. Perempuan dalam dunia seni, diekspose dari berbagai sisi

Ilustrasi Pelukis Perempuan (pexels.com/Valeriia Miller)

Nilai kemuliaan ibu dan perempuan juga menjadi inspirasi sendiri bagi seniman. Bahkan, sejak zaman dahulu mereka di-expose dalam lukisan, ada yang menonjolkan lemah gemulainya hingga posturnya. Nilai ketertarikan yang dikandung ibu dan perempuan kemudian dimaksimalkan dengan kecerdasan seniman menciptakan lukisan yang indah.

"Saya yang tertariknya adalah nilai maknanya. Nilai pesan di balik itu," terangnya.

Pun, peluang perempuan yang menjadi pelukis saat ini diungkapnya sangat besar. Alasannya, keberadaan pelukis perempuan sangat langka, karena kebanyakan perempuan melakukan tugas keseharian sebagai seorang ibu akan berpikir dua kali untuk menjadi seorang pelukis walaupun dia punya bakat.

Editorial Team