Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Keadilan Itu Relatif, Mengapa Hukum Fokus Pada Kepastian dan Manfaat
Ilustrasi keadilan (Pexels/Pavel Danilyuk)
  • Hukum tidak semata mengejar keadilan karena keadilan bersifat relatif, melainkan menekankan kepastian dan kemanfaatan agar masyarakat tetap tertib.
  • Kepastian hukum dibutuhkan agar keputusan tidak bergantung pada perasaan individu, melainkan aturan yang jelas dan dapat diprediksi.
  • Asas kemanfaatan menegaskan bahwa hukum bertujuan memberi manfaat bagi banyak orang, meski terkadang terasa berat bagi sebagian pihak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang bilang keadilan itu beda-beda buat tiap orang. Kadang ada yang merasa putusan hakim gak adil. Tapi hukum harus jelas dan sama buat semua, supaya gak bingung. Hukum itu buat bikin hidup tertib dan aman. Kalau semua orang nurut aturan, semua bisa hidup tenang dan gak berantem terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari hukum sebagai sistem yang menjaga keteraturan sosial melalui kepastian dan kemanfaatan. Dengan menempatkan logika di atas perasaan, hukum menciptakan stabilitas dan prediktabilitas yang memungkinkan masyarakat berfungsi dengan tertib. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara keadilan, kepastian, dan manfaat dapat menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa dangkal saat melihat sebuah putusan pengadilan yang rasanya "gak adil"? Kita sering kali menganggap hukum adalah jalan tol menuju keadilan. Namun, makin kita menyelam ke dalam dunia hukum, makin kita sadar bahwa keadilan itu subjektif—alias relatif.

​Apa yang adil buat kamu, belum tentu adil buat orang lain. Inilah alasan mengapa hukum sebenarnya tidak didesain hanya untuk memuaskan rasa keadilan setiap orang, melainkan untuk menjaga keteraturan melalui kepastian dan kemanfaatan.

Keadilan itu standarnya "rasa", sedangkan hukum standarnya "angka"

​Masalah utama dari keadilan adalah ia berakar pada perasaan dan moralitas individu. Bayangkan jika seorang hakim memutus perkara hanya berdasarkan "rasa adil" di kepalanya. Hasilnya? Keputusan akan berbeda-beda tergantung siapa hakimnya.

​Di sinilah hukum berperan sebagai penengah. Hukum butuh kepastian. Ia harus tertulis, jelas, dan bisa diprediksi. Meski terkadang terasa kaku atau "dingin", hukum yang pasti jauh lebih baik daripada hukum yang berubah-ubah mengikuti suasana hati atau persepsi keadilan yang tidak ada ujungnya.

Hukum sebagai alat penata, bukan sekadar pemuas hati

​Tujuan besar dari hukum sebenarnya adalah ketertiban. Bayangkan jalan raya tanpa aturan lalu lintas yang jelas. Jika semua orang berebut lewat atas nama "keadilan" versi masing-masing, yang terjadi justru kekacauan.

​Hukum hadir untuk menata. Ia memberikan garis batas yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Fokusnya bukan lagi soal apakah semua orang "puas", tapi apakah sistem bisa berjalan dengan stabil. Hukum memastikan bahwa masyarakat tahu apa konsekuensi logis dari setiap tindakan mereka.

Asas kemanfaatan: untuk orang banyak, bukan segelintir orang

​Ada kalanya hukum harus mengambil keputusan pahit demi manfaat yang lebih luas. Dalam teori hukum, ini sering disebut sebagai Asas Kemanfaatan. Sebuah aturan mungkin terasa menjepit satu atau dua orang, tapi jika aturan itu memberikan manfaat, keamanan, dan kesejahteraan bagi jutaan orang lainnya, maka itulah yang dipilih.

​Hukum bekerja seperti sebuah mesin besar. Mesin itu tidak punya perasaan, tapi ia memastikan seluruh gerigi di dalamnya tetap berputar dan tidak saling berbenturan.

Menyeimbangkan tiga pilar hukum

​Sebagai penutup, kita perlu memahami bahwa hukum yang ideal sebenarnya mencoba menyeimbangkan tiga hal: Keadilan, Kepastian, dan Kemanfaatan. Namun, dalam praktiknya, ketiga hal ini jarang bisa sejajar 100%.

​Ketika keadilan terasa sulit digapai karena sifatnya yang abstrak, maka kepastian hukum dan kemanfaatan publiklah yang menjadi jangkar agar negara tetap berdiri tegak. Jadi, lain kali saat kita melihat sebuah putusan hukum, cobalah melihatnya dari kacamata yang lebih luas:

Apakah ini menata masyarakat? Apakah ini bermanfaat bagi orang banyak?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team