Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Vihara bali
Vihara Dharmayana, Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Badung, IDN Times - Bau harum hio semerbak di Vihara Dharmayana, Kuta, pada Senin (16/2/2026). Puluhan umat beribadah dengan tenang, sebagian memakai pakaian warna merah. Ada yang datang sendiri dan ada juga yang rombongan bersama keluarga. Di vihara tersebut terpasang lebih dari 500 lampion.

Penanggung jawab Vihara Dharmayana, Adi Dharmaja Kusuma, mengatakan di hari terakhir Tahun Imlek, 2.576 umat yang masih menjalankan tradisi Tionghoa melaksanakan persembahyangan di masing-masing rumah abu atau altar leluhur. Kemudian bersama-sama datang ke tempat ibadah untuk mengucapkan syukur atas apa yang diperoleh selama tahun itu.

"Lampion yang kami pasang itu dana umat. Umat yang berdana, karena beliau meyakini lampion itu kan akan hidup setahun. Menerangi kehidupannya baik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik dalam segala hal," ungkapnya.

1. Kunjungan di Vihara Dharmayana diprediksi meningkat

Vihara Dharmayana, Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Penanggung jawab Vihara Dharmayana, Adi Dharmaja Kusuma, mengatakan memperkirakan ada peningkatan kunjungan umat ke vihara saat ini. Pada tahun 2025 lalu tercatat sekitar 4.000 umat bersembahyang di Vihara Dharmayana. Kendati tidak ada yang spesial pada Imlek tahun ini, namun kunjungan umat ia perkirakan meningkat.

"Bukan saja masyarakat di sini, regional Bali dan para wisatawan yang berkunjung juga tetap melakukan ibadah. Apalagi kan Kuta salah satu tempat favorit pariwisata," ungkapnya.

Rangkaian kegiatan peringatan Imlek sudah dilakukan seminggu sebelumnya dengan pembersihan rupang atau arca, memasang lampion, umbu-umbul, menata lilin dan membersihkan vihara. Kemudian Senin (16/2/2026), merupakan rangkaian persembahyangan tutup tahun. Esok harinya tanggal 1 bulan 1 tahun 2577 Imlek persembahyangan umum, dan silaturahmi. Momen inilah kemudian paling dikenang dengan pembagian Angpau. Pada malam harinya akan diramaikan dengan atraksi Liong, Barongsai, dan Wushu. Rangkaian akan berakhir pada 3 Maret 2026 dengan perayaan Cap Go Meh.

2. Perayaan Imlek khas dengan Liong dan Barongsai

Vihara Dharmayana, Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Acara perayaan hari ini diwarnai dengan kirab, para ibu-ibu akan memakai kebaya Bali sebagai bentuk akulturasi budaya dengan diiringi dengan umbul-umbul serta Liong dan Barongsai. Iring-iringan tersebut kemudian mengitari Jalan Bambangan-Jalan Kalianget-Jalan Raya Kuta-Jalan Blambangan sekitar pukul 17.00 Wita. Di akhir perbincangan, pihaknya berhadap banyak kebaikan di Tahun Kuda Api ini.

"Kami mendoakan semesta agar terhindar dari bencana alam, angin ribut dan banjir," ungkap Adi.

Sementara itu, pemain Barongsai yang bernama Surya Adinata (22) mengatakan, sudah 4 tahun bermain Barongsai. Ia sempat kesulitan berlatih terutama atraksi naik ke bangku. Namun hal itu dapat ia lalui dalam 2 bulan. Siswa SMA 1 Kuta tersebut mengaku saat latihan Barongsai juga berisiko cedera, sering pinggangnya tergores usai bermain. Bermain barongsai juga butuh kerja sama komunikasi yang bagus antarpemain depan dan belakang. Komunikasi ini dilakukan setiap kali Barongsai menunduk. Hal ini menjadi kunci agar tidak terjadi kegagalan saat tampil.

"Tertariknya karena hal-hal menantang sih. Kayak loncat-locat gitu," ungkapnya.

3. Ibadah iImlek utamanya di altar leluhur

Altar leluhur milik salah satu warga Tionghoa (Dok.IDN Times/Lie Ping)

Warga Tionghoa asal Denpasar, Adhe Kurniawan alias Lie Ping, memaknai Imlek dengan hal berbeda. Baginya, persembahyangan utama saat Imlek adalah di altar leluhur, baru kemudian ke tempat ibadah. Perayaan Imlek tahun ini dirasakannya tidak terlalu meriah karena kedua orangtuanya telah tiada. Ia hanya tinggal bersama dengan Cece-nya (kakak perempuan).

"Bagiku Imlek sebenarnya adalah ajang kumpul keluarga besar untuk silaturahmi. Berbagi cerita tentang semua yang terjadi di tahun kemarin. Yang merantau jauh, pulang untuk juga kumpul-kumpul melepas rindu," ungkapnya.

Pada Imlek tahun ini, Adhe hanya fokus bersembahyang di altar leluhur, tidak pergi ke tempat ibadah. Ia menyampaikan altar leluhurnya tersebut berusia sekitar 100 tahun. Demi baktinya kepada luluhur, ia merawat altar tersebut dengan menjaga kebersihannya dan bersembahyang setiap hari.

"Sembahyang tiap hari, menghaturkan kopi atau teh dan kue-kue atau apapun yang kita punya seolah leluhur itu masih sperti saat mereka masih hidup. Terus tiap 15 hari sekali sembahyang Cap Go (purnama) dan Ce It (tanggal 1) dan Imlek. kalau di rumahku cuma begitu," terangnya.

Editorial Team