Kurang lebih 200 jenis tanaman di Hutan Yadnya. (IDN Times/Yuko Utami)
Sementara itu Made Karsana, pengurus hutan yadnya, berujar ada banyak warga dari luar Desa Padangtegal meminta tanaman untuk kebutuhan upakara. Pihaknya tidak memungut biaya bagi warga yang membutuhkan tanaman. Mereka dapat menghaturkan canang dan jika berkenan dapat memberi sumbangan yang tidak dipatok, seikhlas dan semampunya saja.
Dana, Karsana, serta bapak-bapak lainnya dapat mengenali jenis tanaman dan fungsinya dengan cepat. Bagi Karsana, ini tidak lepas dari peran tetua mereka di masa lalu.
“Kakek-kakek kita dulu sama seperti kita. Mereka yang mengajarkan merawat, tahu jenis dan fungsi tanaman ini,” kata Karsana.
Karsana berujar, sesajen (banten) untuk ngaben (upacara kematian di Bali) menggunakan 108 jenis tanaman. Namun, di hutan yadnya ada beberapa jenis bibit yang belum tersedia. Sehingga pengelola hutan yadnya di Padangtegal akan bekerja sama dengan desa lainnya, begitu pula sebaliknya.
Tanaman kamiloko misalnya, biasa digunakan untuk kebutuhan upakara hanya mampu didapat di daerah Pulaki wilayah Singaraja, Kabupaten Buleleng. Pernah suatu saat Karsana dan beberapa pengurus menanam bibit dari luar desa, tetapi tidak semuanya mampu bertahan karena habitat yang tidak cocok.
Hutan yadnya juga menerima sumbangan bibit tanaman khusus upakara. Seingat Karsana, ada beberapa warga dari dua kabupaten, Bangli dan Tabanan, yang meminta tanaman di hutan yadnya.