Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Sembako Naik, Pedagang Sentra Takjil Denpasar Sesuaikan Margin
Kadek, pedagang botok saat menjajakan dagangannya di sentra takjil Masjid Baiturrahmah, Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Sentra takjil di sekitar Masjid Baiturrahmah Denpasar ramai dikunjungi sejak sore, menjadi pusat kuliner Ramadan dengan berbagai jajanan dan lauk khas daerah.
  • Kenaikan harga sembako membuat pedagang seperti Ida dan Kadek harus menyesuaikan porsi serta isian botok agar harga jual tetap terjangkau bagi pembeli.
  • Pedagang lain, seperti Warti penjual kerak telur, tetap bersyukur karena bulan Ramadan membawa peningkatan rezeki meski persaingan dan keramaian semakin padat menjelang waktu berbuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga sembako di Denpasar mengalami kenaikan selama bulan puasa, membuat para pedagang sentra takjil di sekitar Masjid Baiturrahmah menyesuaikan margin dan porsi jualan agar tetap terjangkau bagi pembeli.
  • Who?
    Pedagang seperti Ida, penjual botok, dan Warti, penjual kerak telur, bersama rekan-rekannya yang berjualan di sentra takjil Masjid Baiturrahmah Denpasar.
  • Where?
    Kawasan sentra takjil di sekitar Masjid Baiturrahmah, Jalan Ahmad Yani Nomor 72A, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.
  • When?
    Kegiatan berlangsung selama bulan Ramadan tahun 2026. Pada Sabtu, 21 Februari 2026 sore hari lokasi sudah ramai sejak pukul 16.00 hingga menjelang waktu berbuka puasa.
  • Why?
    Kenaikan harga bahan pokok seperti cabai rawit merah dan komoditas lain mendorong pedagang menyesuaikan ukuran serta isian produk agar harga jual tetap terjangkau bagi pembeli.
  • How?
    Pedagang mengurangi porsi atau menyesuaikan bahan isian makanan tanpa menaikkan harga jual. Mereka tetap melayani pembeli dengan sistem antrean padat menj
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Area Masjid Baiturrahmah telah bertahun-tahun menjadi sentra takjil di Kota Denpasar. Beralamat di Jalan Ahmad Yani Nomor 72A, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, lokasi itu sudah dipadati pembeli sejak pukul 16.00 WITA.

Area parkir kendaraan membentang di sisi kanan ruas jalan, penuh dengan sepeda motor. Kendaraan roda empat dan dua saling tunggu melintasi Jalan Ahmad Yani. Sementara, juru parkir berusaha mengatur lalu lintas seadanya.

Tepat di samping Masjid Baiturrahmah, sebuah gang disulap menjadi sentra takjil. Ada berbagai jenis jajanan asin, manis, lauk pauk, dan minuman yang dijual hingga akhir masa ibada puasa. Makanan khas Jawa, seperti botok berisi parutan kelapa, bumbu rempah, dan berbagai isian protein, turut menjadi incaran pembeli.

Penjual botok, Ida mengaku langganan menjajakan botok setiap bulan puasa di Masjid Baiturrahmah. “Jualan sudah 12 tahun, setiap Ramadan jualan. Kalau sudah gak Ramadan gak jualan, soalnya jualannya beda,” kata Ida sambil tersenyum pada Sabtu (21/2/2026).

1. Penjual harus pintar menyesuaikan modal dan harga jual agar usaha tetap berjalan

Kondisi Jalan Ahmad Yani, kawasan Masjid Baiturrahmah sebagai sentra takjil di Denpasar, penuh antrean kendaraan pengunjung. (IDN Times/Yuko Utami)

Sehari, Ida membuat seratus bungkus botok berbagai jenis, dengan harga per bungkus Rp5 ribu. Setiap jenis botok memiliki isian yang berbeda, seperti kerang, campuran tahu tempe dan lamtoro, tuna, dan masih banyak lagi. Ida membuat ratusan botok itu bersama rekannya, Kadek. 

Selama menyiapkan dagangan, Ida dan Kadek mengakui, peningkatan harga sembako jadi tantangan terbesar berjualan botok bulan puasa tahun ini. “Banyak memang bahan baku pada mahal,” keluh Kadek.

Berdasarkan data Sistem Informasi Harga Pangan Utama dan Komoditas Strategis (Sigapura) Provinsi Bali, harga cabai rawit merah saja di Denpasar mencapai Rp94.722. Komoditas lainnya juga menunjukkan peningkatan signifikan di bulan puasa ini.

Meskipun bahan baku meningkat, Ida dan Kadek harus pandai bersiasat. Ia menyesuaikan porsi dan isian setiap bungkus botok. “Iya meningkat tapi, yang penting sedikit jalan saja. Kalau harga 5 ribu kan terjangkau,” kata Ida sambil tangannya sibuk membungkus botok pesanan pembeli. 

2. Pedagang sambut berkah setiap bulan Ramadan

Penjual kerak telur, Warti saat menyerahkan sebungkus kerak telur seharga Rp25 ribu per porsi. (IDN Times/Yuko Utami)

Sementara itu, pedagang kerak telur bernama Warti tengah sibuk membolak-balik wajan di atas bara api. Pembeli rela antri kerak telur buatan Warti. Kepada IDN Times, Warti bercerita telah berjualan kerak telur bersama sang suami di Bali sejak tahun 2018. Setiap bulan puasa, Ia selalu berjualan di sentra takjil Masjid Baiturrahmah.

“Memang jualan kerak telur, tapi keliling pasar malam. Hari biasa di Taman Kota Lumintang,” tutur Warti.

Selama berjualan di  Masjid Baiturrahmah, Warti dapat menjual 30 hingga 40 porsi kerak telur per harinya. Perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur ini mengatakan, pembeli dapat memilih telur yang ingin digunakan, antara telur ayam atau bebek.

Setiap bulan Ramadan, Warti bersyukur dapat jadi jalan mencari rezeki. “Alhamdulillah kalau bulan puasa memang rezekinya,” ujarnya lembut.

Masjid Baiturrahmah semakin ramai saat pukul 17.00 WITA

Padatnya pengunjung berburu takjil di area Masjid Baiturrahmah. (IDN Times/Yuko Utami)

Saat waktu menunjukkan pukul 17.00 WITA, pengunjung sentra takjil Denpasar di Masjid Baiturrahmah semakin padat. Mereka saling berdesakan, ada juga yang meminta celah agar dapat melanjutkan perjalanan memilih takjil. 

Keringat mengucur deras, wajah-wajah menahan dahaga dan lapar berusaha tetap tegar. Para pedagang dengan sigap melayani pembeli. Saat berdesakan, butuh waktu sekitar 20 menit untuk keluar dari lokasi jualan takjil. Sebaiknya, kamu yang ingin berburu takjil di Masjid Baiturrahmah agar berangkat lebih awal ya.

Editorial Team