Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pantai Kuta
Sampah di Pantai Kuta pada 3 Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Badung, IDN Times - Suasana Pantai Kuta tampak sepi pengunjung, pada Selasa (3/2/2026) siang. Banyak kursi pantai yang kosong. Beberapa payung juga dibiarkan tetap tertutup. Tak banyak wisatawan bermain surfing di pantai yang terkenal dengan keindahan sunset-nya ini. Di sepanjang bibir pantai sangat mudah dijumpai sampah plastik dan kayu. Bahkan beberapa pengunjung yang berlatih surfing pun berjibaku dengan ombak di antara gelondongan kayu yang 'parkir' di bibir pantai.

Sedangkan di perbatasan Pantai Kuta dan Pantai Legian, tepatnya pintu masuk pantai depan Circle K, gunungan sampah organik dan plastik bercampur jadi satu hingga setinggi 3m (meter) dan selebar hampir 7m. Tumpukan sampah ini menjadi bukti yang tidak bisa dielakkan mata tentang wajah pariwisata Bali.

Kesan Bali sangat kotor sudah ramai diperbincangkan di dunia internasional. Pun Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tengah menyoroti permasalahan sampah di destinasi pariwisata internasional ini.

"Biarin air laut nanti yang bersihin sendiri. Hilang lagi nanti sampahnya," ungkap pedagang, Ketut Adi, yag sudah pasrah dengan situasi Pantai Kuta.

‌Gunungan sampah Pantai Kuta menumpuk sebulan, pedagang sudah pasrah

Sampah di Pantai Kuta pada 3 Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Ketut Adi merupakan pedagang yang menyewakan jasa sewa kursi di Pantai Kuta. Ia terlihat rebahan di kursi pantai yang disewakannya dalam terik Matahari. Sedari pagi ia mengaku belum dapat tamu yang mau menyewa kursi pantainya karena sepi pengunjung. Sedangkan di sebelah tempatnya berjualan, gunungan sampah setinggi 3m seolah menjadi hiasan rutin setiap tahunnya. Kendati ada tulisan yang berisi larangan membuang sampah, namun sepertinya juga tidak diindahkan karena tumpukan sampah tersebut juga bercampur dengan sampah pedagang lainnya.

Ketut mengaku sudah terbiasa dengan situasi ini karena karena selalu terjadi setiap tahun pada bulan Desember hingga Maret. Pun dibenak mereka, banyaknya sampah di Pantai Kuta juga tidak lepas dari istilah "sampah kiriman" yang mereka pahami datang dari Jawa. Ia mengaku paham kenapa sebulan ini, sampah tersebut dibiarkan. Tidak lain karena TPA Suwung ditutup. Ia dan pedagang lain akhirnya pasrah dengan situasi tersebut.

"Ya mau dibawa ke mana lagi. Pemda ini, gak bisa lagi orang-orang sini protes. Susah mbak. Woahhh sudah lama, sudah sebulan ini. Pokoknya kalau musim penghujan, banyak sampahnya. Memang sudah musimnya (musih hujan dan musim sampah)," keluhnya.

Dari kesaksian Ketut Adi, banyak petugas bersih-bersih pantai, namun mereka cenderung mengambil sampah plastik. Sementara sampah organik dan gelondongan kayu dikumpulkan menggunakan katrol dan ditumpuk di satu titik yang kebetulan tidak jauh dari lapaknya.

Antara nyaman atau sudah jengah, pengunjung pantai tak lagi protes

Sampah di Pantai Kuta pada 3 Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Kondisi menarik diungkapkan Ketut Adi. Kendati tumpukan sampah menggunung, ia mengaku tetap nyaman beraktivitas. Para pengunjung pun tak acuh, tidak ada yang menyampaikan protes. Beberapa wisatawan asing (wisman) juga terlihat anteng duduk sambil makan dan minum bir di samping tumpukan sampah tersebut.

"Kalau sampah kelapa, sampah restoran menganggu. Kan bau. Kalau sampah pantai kan kering, ndak (tidak) bau," terangnya.

Ia berpendapat, beberapa pengunjung Pantai Kuta yang surfing mengabaikan situasi ini. Hal ini karena prioritas mereka adalah melihat ombak, tidak melihat sampah. Hampir satu jam di lokasi, sangat sulit menemukan wisman yang bersedia mengomentari kondisi tersebut. Mereka hanya berjalan lalu lalang begitu saja.

Seorang pengunjung pantai asal Belanda yang tidak mau disebutkan namanya menyayangkan situasi Pantai Kuta. Ia berpendapat, pihak pemerintah daerah (pemda) telah gagal menangani sampah, Bali tidak sesuai dengan yang digembar-gemborkan. Ia kemudian mempertanyakan Pungutan Wisatawan Asing (PWA) sebesar Rp150 ribu yang oleh wisatawan dipahami sebagai pengumpulan dana untuk penyelesaian masalah sampah di Bali.

"Kami kan bayar Rp150 ribu. Itu buat apa kalau begini sampahnya? Pemerintah kalian hanya ingin uang saja. Setelah ini saya tidak akan merekomendasikan Bali lagi untuk teman saya. Lebih baik kami ke Thailand saja," ungkapnya.

Ramai aksi bersih-bersih pantai setelah disentil presiden

Sampah di Pantai Kuta pada 3 Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Pada Selasa (3/2/2026) pagi, ratusan personel lintas instansi melakukan kolaborasi pembersihan sampah laut, di antaranya jajaran Kodam IX/Udayana, Polri, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, masyarakat, komunitas lingkungan, serta pelajar di Pantai Kedonganan dan Kuta.

Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi, mengatakan bahwa pembersihan pantai ini menggunakan berbagai sarana pendukung seperti alat berat (beko) untuk pengerukan sampah, kendaraan beach cleaner, mobil truk pengangkut sampah, serta peralatan pendukung lainnya. Seluruh personel dibagi ke dalam sektor-sektor kerja guna memastikan pembersihan pantai berlangsung tertib, efektif, dan efisien.

"Pembersihan sampah di Pantai Kedonganan dan Pantai Kuta ini merupakan tanggung jawab kita bersama demi mewujudkan lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman bagi semua. Kami berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkala agar kebersihan dan keindahan pantai di Bali tetap terjaga secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung terus berupaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pesisir dengan melaksanakan kegiatan pembersihan secara rutin di sepanjang garis pantai di wilayah Badung. Pihaknya mengakui, pada bulan-bulan tertentu, wilayah pesisir Kabupaten Badung menerima kiriman sampah yang disebabkan cuaca ekstrem dan Angin Musim Barat.

"Selain berfokus pada pembersihan fisik, Pemkab Badung juga mengedepankan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di kawasan pesisir agar bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan," ungkapnya di Rumah Jabatan Bupati, Selasa (3/2/2026).

Selain membersihkan pesisir, Pemkab Badung melalui Dinas PUPR diungkapnya juga melaksanakan normalisasi dan pembersihan di sepanjang aliran sungai wilayah Kabupaten Badung.

Persoalan sampah laut dibawa ke forum internasional oleh pemerintah

Sampah di Pantai Kuta pada 3 Februari 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Belum lama ini, permasalahan sampah di Pantai Kuta juga dipertanyakan awak media kepada Wakil Menteri Kementerian Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati alias Ni Luh Puspa, yang saat itu menghadiri kegiatan Bali Ocean Day di InterContinental Bali Resort di Jimbaran pada Jumat lalu, 30 Januari 2026. Ni Luh Puspa mengungkapkan, pariwisata sangat bergantung pada citra. Citra sendiri dibangun dengan trust atau kepercayaan. Trust ini terbentuk dari pengalaman wisatawan saat berwisata. Satu tantangan sektor pariwisata saat ini adalah masalah sampah, sehingga kebersihan menjadi program prioritas. Penanganan sampah laut ini diungkap Ni Luh Puspa, memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak.

"Nah, ini kan tidak bisa diselesaikan sendiri. Ini lintas kementerian. Kalau by the law ini kan ada di Pemda, kami terus berkoordinasi dengan Pemda dan Kementerian Lingkungan Hidup," ungkap Ni Luh Puspa.

Sementara itu Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, (Purn) Didit Herdiawan, yang juga berada di lokasi mengatakan tanggung jawab sampah di Pantai Kuta merupakan kewenangan pemda. ia mengingatkan masyarakat agar menegur turis yang membuang sampah sembarangan.

Selain itu, satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pembersihan sampah laut dan di pantai dengan mengandeng sejumlah pihak, termasuk nelayan. Kegiatan ini dilakukan berkesinambungan dan berkolaborasi dengan pihak lainnya. Langkah selanjutnya dengan penanaman Mangrove untuk me-reduce karbondioksida dan mendapatkan oksigen. Diharapkan konservasi Mangrove ini terus meningkat ke depannya.

"Kami sudah punya kebijakan. Ada lima pilar, salah satunya pembersihan sampah di laut dan pantai. Oleh karena itu kami sudah meng-encourage nelayan, pemda, dan kita juga bersama-sama," terangnya.

Editorial Team