Denpasar, IDN Times - Kemacetan parah terjadi di ruas Jalan Denpasar-Gilimanuk, sejak beberapa hari lalu. Namun, puncaknya terjadi Minggu kemarin, 15 Maret 2026. Akibatnya, pengendara yang terjebak macet mengalami kepanasan, kelelahan, hingga ada yang dehidrasi. Kemacetan yang berlangsung hingga berjam-jam itu, ditanggapi Gubernur Bali, Wayan Koster, sebagai peristiwa tidak terduga.
“Kita kan gak menyangka juga seramai itu tapi memang juga kondisi jalan kita sudah gak memadai,” ujar Koster, pada Senin (16/3/2026).
Koster mengatakan, ahwa kondisi ruas jalan tersebut penuh karena pesatnya kedatangan wisatawan domestik (wisdom) dan peningkatan jumlah truk angkutan logistik. Ia menyebut, jumlah kunjungan wisdom naik 19 persen, sementara wisatawan mancanegara (wisman) naik 6 persen.
“Jadi Bali ini penuh sekarang, maksudnya naiknya itu dari tahun 2025 pada hari yang sama dari tanggal 1 Maret sampai 15 maret (perbandingannya),” jelasnya.
Menurutnya, kemacetan di ruas Jalan Denpasar-Gilimanuk tidak terhindarkan karena banyak wisdom naik kendaraan pribadi. Kata Koster, banyak yang datang dari Jawa dan telah diatasi. Pihaknya telah meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali dan Dirlantas (Direktorat Lalu Lintas) Polda Bali untuk mengatasi kemacetan.
“Saya sudah minta Pak Kadis Perhub dan juga Dirlantas untuk melakukan langkah-langkah mengatasi kemacetan ini tapi memang cukup lama itu,” imbuhnya.
Saat ditanya penambahan kapal untuk mengurai kepadatan, Koster mengaku pihak Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) telah menambah kapal. Ia menegaskan, meski telah ada penambahan kapal, tapi kemacetan tujuan Denpasar dan Badung tidak terelakkan. Bagi Koster, kemacetan ini butuh solusi jangka panjang berupa perbaikan infrastruktur.
“Bukan, ini gak ada langkah lain dalam jangka panjang, infrastruktur harus dibenahi,” kata dia.
Termasuk juga mengatur pergerakan kendaraan, seperti kendaraan yang mengangkut logistik maupun penumpang. Koster mengklaim kemacetan diakibatkan oleh kendaraan pengangkut logistik. Menurut Koster, kendaraan tersebut bergerak di Denpasar-Gilimanuk dengan tikungan dan tanjakan. Pelannya gerakan kendaraan logistik membuat antrean kendaraan terus mengular.
“Tikungannya banyak dan nanjak kalau sudah lewat kendaraan pengangkut logistik, itu pelan sekali dibelakangnya bus lagi, waduh panjang,” kata Koster.
Skema mengatasi kemacetan Denpasar-Gilimanuk, Koster mengaku tengah mempertimbangkan kebijakan untuk mengatur pergerakan kendaraan logistik yang akan masuk ke Bali maupun di dalam Bali.
