Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Geolog Ingatkan Risiko Abrasi di Balik Rencana Taksi Laut Canggu-Bandara
Ilustrasi pantai di Bali (IDN Times/Irma Yudistirani)
  • Pemerintah merencanakan layanan taksi laut Canggu–Bandara Ngurah Rai untuk mengatasi kemacetan, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dan rencana pelebaran sempadan pantai hingga 120 meter.
  • Geolog Ida Bagus Oka Agastya mengingatkan risiko abrasi akibat pembangunan struktur keras di pesisir selatan Bali tanpa kajian gelombang dan sedimen jangka panjang dari BMKG.
  • Oka menyoroti efek samping breakwater yang bisa memicu sedimentasi dan perubahan arus laut, sehingga desainnya harus matang agar proyek taksi laut tidak merusak ekosistem pantai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Badung, IDN Times – Rencana pengoperasian taksi laut atau water taxi rute Canggu-Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kembali menjadi sorotan. Proyek yang diklaim mampu memangkas waktu tempuh menjadi sekitar 30 menit itu dinilai menarik sebagai solusi kemacetan, namun juga menyimpan sejumlah risiko lingkungan.

Geolog dan Praktisi Manajemen Bencana, Ida Bagus Oka Agastya mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru menjalankan proyek sebelum ada kajian teknis dan lingkungan yang matang.

“Hal yang perlu diwanti-wanti sebelum proyek ini bergerak lebih jauh adalah kajian data gelombang dan sedimen jangka panjang dari BMKG,” kata Oka, Rabu (20/5/2026).

1. Taksi laut dinilai bisa jadi solusi macet Bali selatan

ilustrasi ombak (IDN Times/Mardya)

Kemacetan di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung selama ini menjadi perhatian karena tingginya mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara.

Karena itu, Kementerian Perhubungan RI menggagas layanan water taxi rute Canggu-Bandara Ngurah Rai sejak April 2026 lalu. Proyek ini digadang-gadang mampu memangkas waktu perjalanan menjadi sekitar 30 menit.

Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta bahkan menyebut pemerintah berencana membangun sejumlah titik pemberhentian serta pelebaran sempadan pantai hingga 120 meter dari garis laut.

2. Ahli ingatkan risiko abrasi dan perubahan arus laut

Kondisi pasir di Pantai Kuta. (IDN Times/Yuko Utami)

Menurut Oka, pembangunan infrastruktur di pesisir selatan Bali harus mempertimbangkan karakter alami pantai yang dinamis.

Ia menjelaskan kawasan Tuban hingga Canggu tersusun dari pasir laut dan material vulkanik yang terus bergerak mengikuti arus sejajar pantai atau longshore current.

Jika pemerintah membangun struktur keras seperti beton atau pemecah ombak tanpa kajian mendalam, maka dampaknya bisa memicu abrasi di wilayah lain.

“Kalau pelebaran sempadan ini diisi struktur beton baru, kita sedang membangun di atas sistem yang seharusnya dibiarkan bergerak bebas,” ujarnya.

Menurut dia, gejala abrasi akibat pembangunan struktur keras sebenarnya sudah terlihat di kawasan Kuta dan Seminyak.

3. Breakwater disebut punya efek samping besar

Pasir tergerus di Pantai Kuta sedang dalam tahap penanganan. (IDN Times/Yuko Utami)

Selain pelebaran sempadan pantai, rencana pembangunan pemecah gelombang atau breakwater juga menjadi perhatian.

Oka menjelaskan breakwater memang berfungsi memecah energi gelombang sebelum mencapai area tertentu. Namun, struktur itu juga dapat memicu sedimentasi dan perubahan arus laut.

“Di sisi yang terlindungi, sedimen cenderung menumpuk dan bisa mendangkalkan perairan. Di sisi luar dan ujung struktur, arus justru mengencang dan menggerus dasar laut,” jelasnya.

Ia menambahkan, gelombang Samudra Hindia memiliki energi besar sehingga desain breakwater tidak bisa dibuat sembarangan.

Meski demikian, Oka menilai proyek taksi laut tetap berpotensi menjadi solusi transportasi Bali selatan jika dirancang dengan matang.

“Koridor darat Bandara–Canggu memang salah satu rute paling padat di Bali. Alternatif mobilitas laut bisa relevan, tetapi efektivitas ekonomi dan pasar tetap harus dihitung,” kata dia.

Editorial Team