Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260122-WA0090.jpg
Seniman drama gong saat mengiringi upacara pengabenan I Wayan Sugita di Krematorium Punduk Dawa. (Dok. IDN Times/istimewa)

Intinya sih...

  • Pementasan drama gong "Pauwus Ayu" untuk melestarikan seni drama gong dan pesan moral kepada generasi muda.

  • Wayan Sugita dikenal sebagai sosok seniman tegas yang meninggalkan duka mendalam di kalangan seniman.

  • Suratni mengenang totalitas Wayan Sugita dalam membina seniman, bahkan saat kondisi kesehatannya menurun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Klungkung, IDN Times - Drama gong mengiringi upacara pengabenan Prof Dr Drs I Wayan Sugita di Krematorium Punduk Dawa, Desa Pesinggahan, Rabu (22/1/2026). Drama ini dipentaskan oleh seniman.

Penampilan tersebut menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi maestro drama gong yang dikenal luas lewat perannya sebagai Patih Agung.

Seniman dari Paguyuban Drama Gong Lawas dan Sekaa Drama Gong Mahaswari Kabupaten Gianyar, terlibat langsung dalam pementasan yang digelar di area krematorium.

Ketua Paguyuban Drama Gong Lawas, Anak Agung Gede Oka Aryana, mengatakan kehadiran drama gong dalam prosesi pengabenan merupakan bentuk ngayah (sukarela) sekaligus ungkapan terima kasih atas dedikasi almarhum dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi Bali.

“Beliau adalah tokoh penting dalam perjalanan drama gong. Apa yang kami tampilkan hari ini adalah bentuk penghormatan atas perjuangan beliau selama hidup,” kata Aryana.

1. Drama gong mengambil judul "Pauwus Ayu", bermakna lestarikan kesenian drama gong

Seniman drama gong saat mengiringi upacara pengabenan I Wayan Sugita di Krematorium Punduk Dawa. (Dok. IDN Times/istimewa)

Pementasan mengangkat lakon berjudul Pauwus Ayu yang sarat pesan moral, terutama kepada generasi muda agar tetap menjaga dan melestarikan seni drama gong.

Aryana menegaskan, pesan tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang selama ini diwariskan oleh Wayan Sugita kepada para murid dan seniman.

Menurutnya, drama gong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter dan pelestarian budaya.

“Drama gong harus tetap hidup, adi luhur, dan relevan sepanjang zaman,” ujarnya.

2. Wayan Sugita dikenal sosok seniman tegas

I Wayan Sugita saat melakoni tokoh patih agung dalam drama gong.(Dok. IDN Times/istimewa)

Kepergian Wayan Sugita meninggalkan duka mendalam di kalangan seniman. Ni Wayan Suratni, seniman drama gong yang kerap memerankan tokoh Liku, mengaku kehilangan guru sekaligus rekan panggung yang telah membersamainya sejak kecil.

“Sejak awal belajar drama gong, saya dituntun langsung oleh beliau. Beliau sangat tegas dalam latihan dan tidak pernah setengah-setengah,” ujar Suratni.

Meski dikenal disiplin, almarhum disebut memiliki sisi humoris di luar panggung. Namun dalam urusan berkesenian, ia tidak pernah berkompromi dengan kualitas.

“Kalau belum sesuai, kami tidak akan diizinkan tampil,” tambahnya.

3. Wayan Sugita totalitas dalam berkesenian drama gong

I Wayan Sugita saat melakoni sosok patih agung dalam drama gong.(Dok. IDN Times/istimewa)

Suratni juga mengenang totalitas Wayan Sugita yang tetap aktif membina seniman, bahkan saat kondisi kesehatannya menurun.

Ia kerap hadir mendampingi pementasan drama gong di Pesta Kesenian Bali (PKB) dan berbagai panggung seni lainnya.

“Beliau bukan hanya seniman, tapi guru bagi banyak generasi. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni Bali,” pungkasnya.

Editorial Team