Ilustrasi sampah di Gianyar saat hari raya Galungan. (IDN Times/Yuko Utami)
Momentum hari raya di Bali yang tak terputus juga memicu peningkatan volume sampah di Bali. Suarta telah memprediksi, saat Nyepi misalnya, volume sampah perkotaan akan bertambah.
“Nyepi, pengumpulan pasti bertambah sampah masyarakat,” tutur Suarta yakin.
Ia tidak menambah armada saat volume sampah meningkat. Lebih tepatnya ia mengatur strategi di lapangan. Misalnya, Suarta bisa mengangkut sampah setiap hari, tapi saat hari raya ada rentang waktu sekitar dua sampai tiga hari agar sampah dapat diangkut.
Sebelum hari raya, Suarta dan pengelola sampah swakelola lainnya telah mengatur strategi pengangkutan sampah, sebab antre di TPA Suwung membutuhkan waktu berjam-jam.
“Apalagi sekarang ini kan kita tahu sendiri situasi kondisi di apa di TPA (Suwung), sekarang itu macetnya luar biasa di sana, apalagi berjam-jam. Bahkan antre bermalam-malam itu di sana,” keluhnya.
Kerusakan jalan di TPA Suwung, membuat truk sampah antre berlama-lama menanti giliran angkut sampah. Akibatnya, antrean truk sampah menuju TPA Suwung pun mengular. Masalah rusaknya jalan ke TPA Suwung ini telah disampaikan Forkom SSB dalam tuntutan aksi demonstrasi lalu. Namun, kata Suarta, perbaikan seadanya membuat jalan yang setiap hari dilalui truk sampah kembali rusak.
Suarta juga menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung sempat berkomitmen menyiapkan alat berat untuk memudahkan pengelolaan sampah di TPA Suwung.
Denpasar dan Badung adalah wilayah yang mengangkut sampah terbanyak ke TPA Suwung sejak bertahun-tahun. Awalnya ada sekitar 55 alat berat, tapi jumlah itu terus berkurang.