Denpasar, IDN Times - Hiruk pikuk lalu lintas kawasan Jalan Gajah Mada, Kota Denpasar, terpancar sinaran surya menusuk kulit. Pada sudut kota masih terparkir mobil roda empat dengan warna biru khasnya. Sementara di trotoar jalan dan tanaman perindang, Wayan Sukarja (70) dan tiga orang sopir angkot lainnya tengah menanti penumpang.
Sukarja menyapa hangat saat IDN Times menghampirinya sekitar akhir Agustus 2026 lalu. Meskipun telah sepuh, Sukarja dan sopir angkot lainnya masih tampak tangguh.
Obrolan siang itu menyingkap fakta bahwa Sukarja telah menjadi sopir angkot sejak tahun 1989. Sukarja mengenang masa-masa kejayaan angkot, kala itu penumpang menanti dirinya.
Kini, kondisi berbalik, Sukarja menanti penumpang sejak pukul 08.30 Wita. Namun hingga waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita, tak seorang penumpang pun menghampiri.
“Saya cuma ini-ini saja sudah. Jadi menunggu penumpang satu dan dua orang pun agak sulit. Jadi pendapatan pun agak sulit,” tutur Sukarja lesu.
