Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Sopir Angkot Denpasar, Menolak Redup di Kala Senja
Wayan Sukarja (70) sopir angkot yang telah berkarier selama 33 tahun, menunjukkan kondisi Jalan Gajah Mada, Kota Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Sopir angkot Denpasar Wayan Sukarja, yang bekerja sejak 1989, kini kesulitan mendapat penumpang dan pendapatan akibat kendaraan pribadi serta transportasi daring.
  • Jumlah angkot layak jalan di Denpasar turun dari 599 unit pada 2017 menjadi dua unit pada 2023, sementara warga beralih ke kendaraan pribadi yang makin mudah diperoleh.
  • Pengguna dan pemerintah menilai angkot berpeluang menjadi feeder terintegrasi bagi bus umum, tetapi membutuhkan kerja sama pemerintah daerah, sistem pembayaran, insentif, dan jangkauan layanan lebih luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sopir angkot di Denpasar menghadapi penurunan penumpang dan pendapatan, sementara jumlah angkot layak jalan menyusut. Wacana pengembangan angkot sebagai angkutan pengumpan transportasi umum kembali mengemuka.
  • Who?
    Wayan Sukarja, sopir angkot berusia 70 tahun; tiga sopir angkot lain; pengguna angkot Stephen D Wattimena dan Bram Wasito; serta Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta.
  • Where?
    Denpasar, Bali, terutama kawasan Jalan Gajah Mada, Jalan Sulawesi hingga Grenceng. Angkot Sukarja melayani perjalanan yang antara lain mengarah ke Pasar Badung.
  • When?
    Pada akhir Agustus 2026, Sukarja menunggu penumpang sejak pukul 08.30 hingga 13.00 Wita tanpa penumpang. I Kadek Mudarta menyampaikan pandangan terkait feeder pada Kamis, 8 Oktober 2026.
  • Why?
    Penumpang angkot berkurang seiring penggunaan kendaraan pribadi, kemudahan kredit kendaraan, serta perkembangan layanan transportasi daring. Sopir juga menilai perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada angkutan umum berkapasitas besar.
  • How?
    Sukarja menunggu penumpang di Jalan Gajah Mada dan berkeliling kota, tetapi kerap tidak mendapat penumpang. Pemerintah provinsi mempertimbangkan kerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota untuk membangun layanan pengumpan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Hiruk pikuk lalu lintas kawasan Jalan Gajah Mada, Kota Denpasar, terpancar sinaran surya menusuk kulit. Pada sudut kota masih terparkir mobil roda empat dengan warna biru khasnya. Sementara di trotoar jalan dan tanaman perindang, Wayan Sukarja (70) dan tiga orang sopir angkot lainnya tengah menanti penumpang.

Sukarja menyapa hangat saat IDN Times menghampirinya sekitar akhir Agustus 2026 lalu. Meskipun telah sepuh, Sukarja dan sopir angkot lainnya masih tampak tangguh. 

Obrolan siang itu menyingkap fakta bahwa Sukarja telah menjadi sopir angkot sejak tahun 1989. Sukarja mengenang masa-masa kejayaan angkot, kala itu penumpang menanti dirinya.

Kini, kondisi berbalik, Sukarja menanti penumpang sejak pukul 08.30 Wita. Namun hingga waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita, tak seorang penumpang pun menghampiri.

“Saya cuma ini-ini saja sudah. Jadi menunggu penumpang satu dan dua orang pun agak sulit. Jadi pendapatan pun agak sulit,” tutur Sukarja lesu.

1. Angkot terimpit di antara kendaraan pribadi dan layanan daring

Kondisi angkot Sukarja di bagian dalam, tak ada dana untuk perbaikan. (IDN Times/Yuko Utami)

IDN Times melanjutkan obrolan bersama Sukarja sambil mengelilingi Kota Denpasar dengan naik angkotnya. Tampak luar, angkot Sukarja terlihat kokoh, tapi interior di dalamnya ada celah-celah keropos. Ia mengakui kondisi sepi penumpang, membuatnya tak mampu memperbaiki angkot yang telah menemani 33 tahun kariernya sebagai sopir.

Sukarja berpendapat, perhatian pemerintah terbagi kepada transportasi umum bermuatan besar, seperti Sarbagita maupun Trans Metro Dewata (TMD). Termasuk perkembangan kendaraan pribadi dan layanan transportasi daring, membuatnya kian terimpit. 

“Sebenarnya pengawasan pemerintah harus ada toleransinya. Kita itu sebagai rakyat kecil harus diberikan arahan dan berikan bagaimana caranya,” tutur Sukarja sambil menyetir.

Sepanjang perjalanan menyusuri Jalan Sulawesi hingga Grenceng, tak ada satu pun penumpang menyetop angkot Sukarja. Ia hanya bisa tertawa kecil sambil berkelakar pesatnya perubahan kota dan pola konsumsi masyarakat Bali.

“Kalau cerita dulu kan lain ya. Karena keramaiannya kurang, di samping itu penumpang masih ada. Kalau di Bali kan orang gengsi-gengsian ya, di samping itu yang merajalela kredit. Jadi semua punya kekayaan dalam tahun ini punya kekayaan apa? Sepeda motor dan mobil,” papar Sukarja.

Era 80-90an, Sukarja dapat mengangkut penumpang bolak-balik lebih dari 10 kali. Namun, saat ini laki-laki asal Angantelu, Kabupaten Karangasem ini mengaku paling beruntung mendapatkan dua penumpang.

Penumpang itu adalah pedagang yang akan berangkat menuju Pasar Badung maupun pulang ke rumah. Mereka biasanya telah membawa keranjang dagangan. Perjalanan pulang pergi itu seharga Rp10 ribu.“Agak sulit sekarang nyari uang Rp50 ribu pun satu hari juga agak sulit,” keluhnya.

2. Nostalgia pengguna angkot di Denpasar

Ilustrasi angkot Denpasar tempo dulu. (IDN Times/Yuko Utami)

Pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam menata transportasi umum memang besar. Operasional Bus TMD yang sempat berhenti, menimbulkan kritik keras dari masyarakat, sekaligus mendorong gerakan masyarakat dalam menggunakan transportasi umum. Ketika, Pemprov Bali menambah jumlah armada bus listrik, kondisi angkot di Denpasar justru lesu.

Dinas Perhubungan Kota Denpasar mencatat jumlah angkot di jantung kota Bali ini kian menyusut setiap tahun. Pada tahun 2017, jumlah angkot layak jalan di Denpasar 599 unit. Enam tahun kemudian, tepatnya pada 2023, jumlah angkot di Denpasar menjadi hanya dua unit. 

Stephen D Wattimena mengenang masa-masa menggunakan angkot di Kota Denpasar. Ia naik angkot di Denpasar sekitar tahun 2002-2004 untuk mencari makan luar kantor yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk.

“Waktu itu masih banyak walaupun jadwalnya random,” kenang Stephen. 

Sebagai penumpang, Stephen mengamati angkot kian tertinggal karena pengelolaannya masih diurus oleh masing-masing sopir. Kondisi ini kian pelik ditambah kemudahan kredit kendaraan di Bali.

“Dengan lebih mudahnya membeli/mendapatkan kendaraan pribadi dengan DP yang makin murah, jelas warga kota Denpasar berpindah dari angkot ke kendaraan pribadi,” ujarnya.

Sementara itu, sumber pendapatan terbesar di Bali pada 2023 berasal dari pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, dan pajak bahan bakar kendaran bermotor, dengan rincian sebagai berikut.

  • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB): Rp1.740.695.696.000

  • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB): Rp1.413.575.676.600

  • Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB): Rp564.730.129.155.

3. Penumpang muda naik angkot di Denpasar untuk tur keliling

Kendaraan terus bergerak di kawasan Gajah Mada, Denpasar. Sementara, angkot masih terparkir rapi. (IDN Times/Yuko Utami)

Suara dari kalangan muda penumpang angkot di Denpasar, ternyata menikmati dengan cara berbeda. Bram Wasito menuturkan pengalaman pertamanya naik angkot pada tahun 2015.

Kala itu, angkot masih dilirik sebagai kendaraan pengumpan (feeder) Trans Sarbagita. Mei 2026, Bram kembali naik angkot dengan agenda walking tour atau tur keliling.

Itu terakhir kalinya dia naik angkot. Ia turut mengamati angkot sekarang sudah jarang mengangkut penumpang umum.

“Mayoritas yang ada saat ini sudah plat hitam atau putih,” imbuhnya.

Sementara pada 2015 lalu, sempat ada pemberdayaan angkot sebagai feeder, tapi kini tidak berlanjut. Menurut Bram, situasi tersebut kian diperparah oleh pesatnya aplikator ojek daring.

“Pun saat itu awal era bakar duit aplikator ojol (ojek online) atau taksol (taksi online),” kata dia.

Tren walking tour di kalangan anak muda, sesekali menjadi berkah tersendiri bagi sopir angkot. Meskipun demikian, Bram berharap ada ekosistem berkelanjutan yang terbangun untuk angkot.

Ia mendorong pemberdayaan angkot sebagai pengumpan bus TMD maupun Trans Sarbagita, khususnya pada ruas jalan yang belum dilalui angkutan umum.

4. Peluang angkot sebagai pengumpan

Tampak luar angkot milik Sukarja yang terparkir di dekat kawasan Pasar Badung. (IDN Times/Yuko Utami)

Senada dengan Bram, Stephen juga menyarankan agar angkot menjadi pengumpan terintegrasi dengan transportasi umum, termasuk sistem pembayarannya. Ia juga berharap agar keberadaan angkot dapat mencapai pelosok rumah penumpang yang tidak terjangkau oleh bus besar. 

“Harus menjadi bagian dari usaha pemkot/pemkab, sehingga angkot tidak perlu kejar-kejaran atau saling bersaing,” kata Stephen.

Sebagai pengguna transportasi umum, Stephen mengungkapkan kampanye dan sosialisasi secara masif beserta insentif menarik sangat dibutuhkan untuk mendongkrak pengguna transum di Bali. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, meyakini ketersediaan feeder mampu mendongkrak pengguna transum di Bali.

“Tersedianya layanan angkutan pengumpan tentu akan membuat jangkauan angkutan umum akan semakin baik dan akan meningkatkan kinerja layanan secara keseluruhan,” jelas Mudarta kepada IDN Times, Kamis (8/10/2026).

Namun, Ia mengingatkan bahwa Pemprov Bali tidak dapat bekerja sendirian. Keterlibatan pemerintah kabupaten/kota sangat krusial untuk membangun ekosistem layanan angkutan pengumpan.

“Caranya apa? Bisa jadi akan mungkin bersama dengan kabupaten kota untuk membangun feeder-feeder gitu. Bus-busnya itu sudah tersedia. Tapi untuk menjangkau daerah yang lebih luas, tentu perlu dilakukan perbaikan-perbaikan,” kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article