Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi ternak sapi. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Ilustrasi ternak sapi. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Buleleng, IDN Times - Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) sempat merebak dalam beberapa pekan terakhir di sejumlah wilayah Bali. Adanya kasus ini membuat peternak sapi di Bali khawatir. Sebab LSD menyerang sapi berakibat adanya benjolan keras pada kulit ternak tersebut.

Adanya LSD juga berdampak terhadap kualitas sapi yang menjadi konsumsi masyarakat. Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng jadi satu wilayah di Bali dengan sapi penderita LSD. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng memastikan kasus LSD pada ternak sapi di Kecamatan Gerokgak masih dalam kondisi terkendali.

“Hingga saat ini, tidak ditemukan penyebaran lanjutan dan sapi yang sempat terpapar telah kembali sehat,” kata Gede Melandrat, Kadis Pertanian Buleleng,

Ada tiga dari dua desa di Kecamatan Gerokgak terjangkit LSD

Ilustrasi sapi (Pexels.com/Matheus Lara)

Berdasarkan rilis resmi Pemkab Buleleng, Melandrat menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar terhadap 25 ekor sapi menunjukkan tiga ekor positif LSD. Rinciannya, dua ekor berada di Desa Sumberklampok dan satu ekor di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

“Dari 25 ekor yang diperiksa, hanya tiga yang positif dan saat ini kondisinya sudah sehat. Tidak ada perkembangan kasus,” kata Melandrat.

Sejak dua minggu terakhir rutin pemantauan kesehatan sapi

Petugas Dinas Pertanian di Buleleng melakukan pengecekan rutin kondisi sapi di Kecamtan Gerokgak. (Dok. Pemkab Buleleng)

Sejak dua minggu terakhir, Melandrat mengatakan pihaknya rutin turun ke lapangan untuk melakukan edukasi kepada peternak, pemberian pengobatan, serta pemantauan kesehatan ternak. Upaya itu dapat menghentikan penularan dan memulihkan kondisi sapi yang sebelumnya terinfeksi.

Langkah pencegahan, pihak Dinas Pertanian dan perangkat desa melaksanakan pembatasan sementara distribusi sapi di wilayah Kecamatan Gerokgak. Sapi dari wilayah terdampak untuk sementara tidak diperbolehkan keluar maupun masuk.

“Sekarang kita batasi distribusi. Tidak boleh ada sapi masuk dan keluar dulu kurang lebih tiga bulan. Ini kita lakukan bersama aparat desa,” imbuhnya.

Isu LSD berpotensi menurunkan harga jual sapi hidup

ilustrasi peternakan sapi (unsplash.com/Alwi Hafizh A)

Melandrat mengakui, meskipun kondisi relatif terkendali, isu LSD berpotensi menurunkan harga jual sapi hidup di tingkat peternak. Meskipun demikian, Ia menegaskan bahwa harga daging sapi tidak terdampak.

“Yang terdampak itu harga jual sapi per ekor, bukan dagingnya,” kata dia.

Ia juga mengimbau peternak agar lebih berhati-hati dalam membeli ternak. Terutama sapi dari luar daerah yang diperoleh melalui penjualan daring, karena berisiko membawa penyakit jika tidak ada pengecekan langsung kondisinya.

Editorial Team