Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BPBD Tabanan Latih Desa Pesisir Hadapi Ancaman Tsunami
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri. (IDN Times/Yuko Utami)
  • BPBD Tabanan melatih 12 desa pesisir menjadi desa tangguh bencana dengan fokus pada mitigasi risiko tsunami dan banjir rob.
  • Pelatihan berlangsung empat hari mencakup edukasi, sosialisasi tanda bahaya, simulasi evakuasi, serta pembentukan lima relawan kebencanaan di tiap desa.
  • BPBD juga mengimbau warga menjaga lingkungan dengan tidak menebang pohon dan mendorong petani menanam palawija untuk menghadapi potensi kekeringan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pelatihan dan sosialisasi desa tangguh bencana difokuskan pada kawasan pesisir Tabanan yang rawan tsunami dan gempa bumi, mencakup edukasi mitigasi, simulasi penyelamatan, serta pembentukan relawan kebencanaan di setiap desa.
  • Who?
    Kegiatan dipimpin oleh Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, bersama masyarakat dari 12 desa pesisir yang mengikuti pelatihan dan simulasi kesiapsiagaan bencana.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di wilayah pesisir Kabupaten Tabanan, meliputi desa-desa seperti Beraban, Kediri, Kedungu, Pangkung Tibah, Bengkel, Kelating, Sudimara, Surabrata, dan Selabih.
  • When?
    Kegiatan dilaksanakan selama empat hari dengan puncak simulasi pada hari terakhir. Keterangan disampaikan pada Rabu, 1 April 2026 di Kantor BPBD Tabanan.
  • Why?
    Kawasan pesisir Tabanan dinilai rawan terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami sehingga diperlukan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan mitigasi dan pembentukan relawan lokal.
  • How?
    Sosialisasi dilakukan melalui edukasi tiga hari tentang tanda-tanda bencana dan langkah penyelamatan, dilanjutkan simulasi evakuasi serta
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - Desa tangguh bencana di Kabupaten Tabanan berfokus pada kawasan rawan tsunami di pesisir. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, mengatakan pelatihan desa tanggung bencana telah terlaksana di 12 desa kawasan pesisir.

“Kita untuk tangguh bencana ini ee di pesisir ini sudah semua yang yang kita anggap rawan itu kan daerah pesisir, di sana ada apa banjir rob, tsunami itu,” papar Giri saat ditemui IDN Times di Kantor BPBD Tabanan, pada Rabu (1/4/2026).

Ada 12 desa tangguh bencana di kawasan pesisir Tabanan

Potret wisatawan mancanegara di Pantai Nyanyi, Bali (IDN Times/Dewi Suci)

Desa tangguh bencana di Tabanan berfokus ke wilayah pesisir. Kawasan itu seperti Beraban, Kediri, Kedungu, Pangkung Tibah, Bengkel, Kelating, Sudimara, Surabrata, Selabih, dan sebagainya.

Desa-desa itu telah mendapatkan sosialisasi cara mitigasi awal, seperti penyelamatan hingga simulasi, selama empat hari. Hari terakhir melakukan simulasi jika bencana terjadi. Selama tiga hari itu, peserta desa tangguh bencana mendapatkan edukasi dan pelatihan kebencanaan di pesisir.

Potensi gempa dan tsunami

Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain potensi tsunami, Giri mengatakan kawasan pesisir juga rawan gempa bumi. Setelah gempa bumi, potensi tsunami menyertai. Sehingga sosialisasi langkah-langkah yang harus dilakukan dan tanda-tanda kebencanaan itu penting dilakukan. 

“Artinya masyarakat itu sudah paham akan bencana. Ancaman yang di sana dan paham apa yang harus mereka lakukan gitu,” imbuh Giri. 

Sosialisasi dan simulasi desa tangguh bencana di Tabanan juga memuat sosialisasi lokasi evakuasi. Setiap desa telah memiliki relawan kebencanaan sebanyak 5 orang. Kelima orang ini bertugas membagikan sosialisasi dan pelatihan selama empat hari itu.

BPBD Tabanan imbau jangan tebang pohon

Ilustrasi hutan adat. (IDN Times/Yuko Utami)

Selain desa tangguh bencana di kawasan pesisir Tabanan, Giri juga mengimbau potensi dan waspada kekeringan ke depan. Ia menekankan agar tidak menebang pohon, sebab pohon berfungsi sebagai sarana penyimpanan air tanah. 

“Supaya pohon-pohon itu tidak dilakukan penebangan agar ada resapan air,” kata dia.

Selain itu, petani juga memulai pergantian jenis tanaman ke palawija, dapat membantu agar tanah tidak terbelah parah akibat kekeringan.

Editorial Team