Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bisnis Kedai Kopi di Denpasar, Untung Jika Berubah Jadi Working Space
Dana Koffie Jalan Kaliasem, Denpasar (IDN Times/Ayu Afria)
  • Ngurah Gede Teja Lesmana, pengusaha muda asal Denpasar, berbagi pengalaman jatuh bangun membangun bisnis kedai kopi sejak 2019 yang sempat terkendala daya beli pelanggan muda.
  • Ia kemudian mengubah konsep kedainya menjadi working space pada 2023 untuk menarik pasar pekerja dan profesional dengan daya beli lebih tinggi dibanding anak muda nongkrong.
  • Setelah perubahan konsep, penjualan meningkat signifikan hingga menghabiskan 14 kilogram kopi per bulan berkat lokasi strategis dekat perkantoran dan kampus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Bisnis kedai kopi masih bertahan hingga saat ini, dan teelihat sangat mudah untuk digeluti. Hal ini karena di setiap kedai atau warung atau kafe cenderung ramai para pelanggan, terutama anak muda, sehingga terkesan perputaran uangnya cepat berjalan. Namun, situasi tersebut tidak menggambarkan kesuksesan bisnis kedai kopi.

Pengusaha muda kedai kopi asal Kota Denpasar, Ngurah Gede Teja Lesmana (31), menceritakan jatuh bangunnya mendirikan kedai kopi. Ia mengawali usaha ini pertengahan 2019 lalu dengan membuka dua kedai kopi di wilayah Denpasar. Saat itu tidak banyak para pencinta kopi. Pengusaha kedai kopi juga diberatkan oleh kemampuan branding nama usahanya karena tidak bekerja sama dengan influencer.

"Buka lubang, tutup lubang," ungkapnya, pada Senin (23/2/2026).

1. Anak muda bukan sasaran market yang tepat di kedai kopi

Ngurah Gede Teja Lesmana (IDN Times/Ayu Afria)

Menurut Gede Teja, ngopi saat ini dipakai sebagai ego anak muda agar terlihat keren dengan pendapatan yang pas-pasan. Ia mengibaratkan anak-anak muda lebih rela ngopi Rp20 ribu ketimbang membeli nasi.

Faktanya, seperti di Jalan Kaliasem, Denpasar, hampir setiap hari sekitar pukul 06.30 Wita sudah banyak dijumpai anak muda nongkrong sambil ngopi. Situasi tersebut lantas memunculkan berbagai pertanyaan: apa pekerjaan mereka, berapa besaran bekal dari orangtua, dan sebagainya.

"Kopi itu keren ya menurut anak-anak muda, walaupun dengan gaji yang kecil. Keren nih ngopi. Apakah ngopi ini sarapan mereka?" ungkapnya.

Tapi dari pengamatannya, anak muda ini juga memiliki kelemahan daya beli, yang rata-rata memesan Americano dan Kopi Susu. Harga kedua minuman itu di bawah Rp20 ribu. Belum lagi yang "gila nge-game", hanya membeli es teh dan diam di dalam kedai selama 5 jam.

"Karena saya tidak sewa tempat ya, jadi bisa bersaing dengan harga yang murah. Kalau misalnya ngontrak ya udah gulung tikar," terangnya.

2. Pertimbangkan konsep bisnis dengan daya beli yang lebih kuat

Dana Koffie Jalan Kaliasem, Denpasar (IDN Times/Ayu Afria)

Pengalaman jatuh bangun tersebut kemudian membuahkan hasil ketika ia bisa membaca kebutuhan pasar. Gede Teja mengubah konsep kedainya menjadi working space sekitar tahun 2023. Konsep market ini mengundang pelanggan mulai dari para pekerja, hingga pihak-pihak yang ingin bertemu kliennya.

Otomatis, menurutnya, konsep market ini lebih efektif mendatangkan pemasukan. Daya belinya lebih tinggi ketimbang konsep untuk nongkrong anak muda.

"Mengubah tempat ini jadi working space, bukan lagi tempat nongkrong. Lebih beruanglah mereka. Kalau anak-anak muda temannya aja beli satu, mereka ikut duduk. Memberatkan orang bekerja minjam WiFi gitu," ungkapnya.

3. Sebulan mampu menghabiskan 14 kilogram kopi

Ilustrasi kopi. (Dok. Freepik/freepik)

"Menderitanya 4 tahun kak, bakar uangnya gila," katanya.

Setelah mengubah konsepnya, dalam sebulan, ia mampu menghabiskan 14kg (kilogram) kopi. Letak kedainya yang strategis di dekat area perkantoran, juga memberikan nilai tambah. Banyak pegawai yang datang, ditambah lagi kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memanfaatkan kedainya sebagai working space.

Dana Koffie menawarkan minuman berbasis kopi mulai harga Rp15 ribu hingga Rp26 ribu. Untuk minuman nonkopi mulai Rp8 ribu hingga Rp 23 ribu.

Editorial Team