"Saat ini untuk kesehatan mental sendiri benar-benar distigma ya oleh masyarakat di Bali pada khususnya. Karena begitu kita membicarakan kesehatan mental, yang ada di benak pikiran masyarakat adalah itu orang gila."
Badung, IDN Times - Orang-orang yang memiliki isu kesehatan mental saat ini masih distigma atau termarginalkan. Tidak terkecuali di Pulau Bali yang merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Perkembangan layanan digital kesehatan mental tidak berkembang sepesat sektor pariwisatanya. Padahal isu kesehatan mental menjadi permasalahan yang dihadapi hampir semua orang. Kini, para survivor kesehatan mental yang berada di Bali maupun luar Bali bisa bernapas lega dengan kehadiran BISA HELPLINE (sebelumnya bernama LISA HELPLINE).
Operation Manager Bali Bersama Bisa Foundation, Agus Hendrawan, mengatakan sejak rebranding pada 2023, jumlah pesan yang masuk ke BISA HELPLINE stabil sekitar 300 per hari dari WNI. Sebanyak 70 persen berasal dari luar Bali dan ditangani oleh sekitar 23 relawan.
"Kebanyakan range umurnya itu berada di angka 13 samai 64 tahun. Gender terbanyak 70 persen wanita. Kebanyakan menghubunginya di luar jam kantor, malam hari. Pada saat itu kan memang mereka gak ada rutinitas, koneksi dengan teman-temannya juga tidak ada," ungkapnya.
