Comscore Tracker

Turis Asing Diminta Respect Kearifan Lokal di Bali

Kedua foto ini bikin heboh masyarakat Bali beberapa hari ini

Denpasar, IDN Times – Beberapa hari lalu, publik kembali diramaikan oleh postingan Warga Negara Asing (WNA) yang kontra dengan budaya dan kearifan lokal Pulau Bali. Ini bukan yang pertama kali terjadi di Bali. Kejadian yang ramai diperbincangkan ini akhirnya mendapatkan teguran dari Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali, Putu Astawa. Apa katanya?

1. Kejadian I: Seorang WNA perempuan berpose menggunakan bikini di dekat pelinggih

Turis Asing Diminta Respect Kearifan Lokal di BaliDok.IDN Times/Istimewa

Unggahan foto seorang WNA perempuan yang berpose di samping pelinggih menjadi sorotan publik. Lantaran ia hanya memakai bikini menaiki pelinggih. Akun Carmenloca yang mengunggah foto tersebut menandai lokasinya di Pantai Padang-padang.

Baca Juga: Cara Mengukur Turis Berkualitas di Bali, Ada 3 Negara yang Jadi Target

2. Kejadian II: WNA perempuan berinisial NM ramai diperbincangkan setelah memosting TikTok terkait larangan bagi perempuan menstruasi masuk ke pura di Bali

Turis Asing Diminta Respect Kearifan Lokal di BaliDok.IDN Times/Istimewa

WNA perempuan pemilik akun berinisial NM ini membuat video TikTok, yang mengomentari larangan bagi perempuan di Bali dan Indonesia untuk memasuki pura atau holy place (Tempat suci) ketika sedang menstruasi. Postingan tersebut lantas menjadi perbincangan karena dikaitkan dengan diskriminasi bagi perempuan.

3. Astawa tegaskan Bali tidak ingin kedatangan turis asing yang tidak respect terhadap budaya dan kearifan lokal

Turis Asing Diminta Respect Kearifan Lokal di BaliKepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa. (IDN Times/Ayu Afria)

Astawa mengaku telah berkali-kali menegaskan, bahwa Bali adalah pariwisata budaya dan kearifan lokal yang disucikan oleh masyarakat Bali. Kerarifan lokal inilah yang harus dihargai oleh siapapun yang datang ke Bali, baik turis lokal maupun asing.

“Siapapun turis yang datang ke Bali harus menghormati itu. Kalau tidak menghormati, nanti dia bisa kena sanksi adat. Karena Bali kan ada Desa Adat, ada pecalangnya. Nah itu yang tidak boleh. Makanya perlu diawasi dan disosialisaikan kepada wisatawan supaya dia paham,” terangnya.

Hingga saat ini pihaknya mengaku masih melakukan pelacakan kepada turis yang bersangkutan, untuk dimintai keterangan dan klarifikasinya. Pihaknya mempersilakan jika nantinya ternyata ada unsur pelanggaran Adat, agar diproses sesuai aturan Adat.

“Kami kan sebenarnya tidak mau turis-turis yang begitu yang datang ke sini ya. Karena dia tidak menghormati,” tegasnya.

Sejauh ini, dari berbagai kasus yang terjadi memang belum ada yang sampai dikenakan sanksi adat. Namun dari pandangannya, kondisi untuk menyuarakan kesamaan hak dengan kejadian yang lain, memang karena ketidaktahuan para turis tersebut.

"Kami kan banyak tempat-tempat suci. Jadi tidak semua diawasi masyarakat. Pun turis juga bisa jalan sendiri dengan smartphone-nya. Tanpa guide pun dia bisa ke mana-mana. Sehingga dikira itu ornamen untuk bisa selfie, gitu kan? Karena faktor ketidaktahuan saja,” ujarnya.

Untuk diketahui, holy places memiliki daya tarik karena berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Hindu di Bali. Budaya inilah yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya