Comscore Tracker

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka Pelecehan

Suami bersedia speak up untuk edukasi

Ajik (46) dan istrinya (33) tidak menyangka, perjalanan spiritual pada tanggal 4 Juli 2020 dini hari bersama seorang sulinggih, berakhir menjadi mimpi buruk. Niat mereka hanya untuk menyelesaikan tirtayatra (Tangkil atau sembahyang ke beberapa pura) ke sembilan pura. Tetapi ada sebuah tragedi selama tirtayatra tersebut, yang membuat istrinya mengalami depresi.

Sulinggih memilih Pura Mengening di Tampaksiring, Kabupaten Gianyar sebagai lokasi terakhir untuk menyelesaikan tirtayatra. Maka sekitar pukul 20.00 Wita pada 3 Juli 2020, Ajik dan istrinya mendatangi griya (Kediaman) di daerah Kabupaten Gianyar untuk menjemput sulinggih.

Kebetulan, 4 Juli 2020 juga bertepatan dengan perayaan Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Ajik dan istrinya melihat aktivitas kesibukan di griya sang sulinggih, karena sedang mempersiapkan perayaan untuk esok hari. Ajik juga melihat ada sopirnya sulinggih dan seorang pemangku di sana. Ajik lalu membantu untuk bersih-bersih dan mereka menyepakati akan pergi ke Pura Mengening pada tengah malam.

Selama di griya, sulinggih mau menyiapkan kain putih. Ia (Sulinggih) lalu meminta sopirnya untuk membeli kain putih dan spidol menggunakan uang pribadi Ajik. Ajik sendiri belum tahu akan digunakan sebagai apa kain dan spidol tersebut.

Sekitar pukul 22.00 Wita, sulinggih mengajak Ajik dan istrinya beserta seorang pemangku untuk makan lawar babi di daerah Silakarang, Kabupaten Gianyar. Hampir pukul 00.00 Wita, mereka berangkat menuju ke Pura Mengening. Tetapi satu pemangku ini memilih pulang lebih dulu, dan tersisa tiga orang saja yang berangkat.

Dalam perjalanan itu, Ajik diarahkan ke tempat lain oleh sulinggih. Yaitu ke Pura Campuhan yang sama-sama berada di Kabupaten Gianyar. Tempatnya ada di bawah jembatan, dan itu pertama kalinya Ajik datang ke sana.

"Kita parkir dan turun sebelum jembatan itu. Sugestinya kita dapat waktu itu. Kenapa? Karena ada patung Siwa di sungai itu. Jadi kita merasa 'Wow' juga," kata Ajik.

Ajik juga mengaku belum pernah mengunjungi Pura Mengening. Ia juga mengira Pura Campuhan tersebut adalah Pura Mengening, setelah Ajik bertanya "Apakah ini Pura Mengening?" kepada Sulinggih dan dijawab "Iya."

Sulinggih lantas meminta mereka berganti pakaian untuk melukat (Upacara pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dengan cara memercikkan atau mandi di sumber mata air). Mereka kaget saat diminta untuk melukat karena berpikir akan melakukan persembahyangan di pura. "Melukat, nak. gak apa-apa buka aja. Pun peteng masih (Sudah malam juga)," ucap Ajik menirukan sulinggih.

Karena tidak membawa pakaian ganti untuk melukat, Ajik dan istri memutuskan untuk menggunakan kain kamen yang melekat di badannya. Ajik melepas pakaian atas, dan menyisakan kain kamen di bagian bawahnya. Sedangkan istri melepas baju dan membalutkan kain kamen di badannya.

Setelah itu mereka menuju ke tengah sungai, tepat di depan patung Dewa Siwa. Ia berdiri di depan patung dan istri ada di belakangnya. Ia berpikir akan melakukan pengelukatan bersama istrinya. "Saya pikir, tadinya dia (Istri) di belakang saya. Tadinya masih di belakang. Kerasanya masih di belakang."

Namun sulinggih menutupi kepalanya menggunakan dua kain putih masing-masing berukuran tiga meter, yang berisi rerajahan (Simbol yang digabung dengan aksara dan mantra tertentu). Satu helai menutupi bagian depan dan belakang kepala. Sisanya menutupi bagian samping kiri dan kanan kepala Ajik. Ajik diminta untuk bermeditasi di depan Patung Dewa Siwa.

Sekitar 20 menit, konsentrasinya buyar. Ajik mendengar ada empat orang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) dan membawa senter. "Saya disenteri dari atas." Mereka ramai mengobrol dan terdengar mandi.

"Tadinya saya konsen. Duduk bersila, meditasilah. Sudah gak konsen saya. Akhirnya udah selesai saja, membuka kain dan saya taruh di depan patung."

Ajik kemudian mau menghampiri istrinya yang berada agak jauh dari patung Dewa Siwa. Tetapi sulinggih ini datang dan menyuruh istrinya duduk bersila di depan patung. Dua helai kain yang ia gunakan sebelumnya, juga ditutupkan ke kepala sang istri.

Sulinggih juga sempat menghampiri keempat pria tadi. Ketika sulinggih sedang bercakap-cakap bersama para pria tersebut, Ajik iseng memotret istrinya sebanyak tiga kali. Setelah itu, sulinggih menghampiri istri Ajik dan duduk jongkok di belakangnya. Sulinggih terlihat merapalkan puja.

"Saya pikir dengan puja yang dia lontarkan dan sebagainya, istri saya seolah-olah kayak terjatuh (Jatuh ke belakang). Gak tahu apa yang dia lakukan, kok istri saya rebah, gitu lho. Saya berpikir waktu itu, mohon maaf, apakah istri saya ini kemasukan (Kerauhan). Kan gitu saya berpikirnya."

Ketika hal itu terjadi, sulinggih menengkok ke arah Ajik yang ada di belakang. Ia berpikir akan meminta bantuan. Begitu akan beranjak berdiri, sulinggih membuka kain yang menutupi kepala istrinya. "Saya kan gak jadi mendekati. Itu sekilas ceritanya, garis besar yang saya ketahui kejadiannya seperti itu."

Ajik mulai curiga setelah melihat kejadian itu. Ia cepat-cepat pulang mengantarkan sulinggih ke griya, dan penasaran atas kejadian yang dialami oleh istrinya. Di tengah perjalanan pulang menuju ke rumah, Ajik dan istrinya bertengkar di dalam mobil. Ajik menghentikan laju mobilnya di daerah Ubud. Dari situlah sang istri mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari sulinggih tersebut. Sejak kejadian itu, sang istri mengalami trauma.

“Melihat mobil parkir depan rumah aja takut. Melihat sulinggih saja takut. Ada mobil di belakang, dia mikirnya ada yang buntutin,” ungkap Ajik.

1. Pura Campuhan merupakan tempat untuk pembersihan diri (Melukat)

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanPura Campuhan, tempat pertemuan dua aliran Sungai Pakerisan dengan Sungai Petanu dan kerap dijadikan sebagai pengelukatan. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Tim IDN Times melakukan penelusuran ke lokasi kejadian pada pukul 15.00 Wita, Kamis (28/1/2021) lalu. Area di kawasan Pura Campuhan Pakerisan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar itu banyak dikelilingi oleh pepohonan yang lebat dan tinggi. Tepat di kiri bawah jembatan, setelah melewati 73 anak tangga, barulah sungai campuhan (Pertemuan antara Sungai Pakerisan dengan Sungai Petanu) itu bisa dilihat. Di tengah-tengah sungai berdiri sebuah Patung Dewa Siwa.

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanSuasana Pura Campuhan di Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Di sanalah sang istri berinisial YD, diduga mendapatkan perlakuan pelecehan seksual dari sulinggih berinisial IBRASM dengan nama welaka (Asli), I Wayan M (38). Menurut penuturan dari pengayah (Penjaga) pura di area tersebut, Galang Ariana, biasanya masyarakat Bali datang ke sana untuk melukat. Sejak pandemik COVID-19, tidak banyak yang datang.

“Bila ke sini, tetap permisi, minta izin. Di sini sepengetahuan saya, ada 'penjaga'. Kalau ada yang nakal dan berpikiran buruk, merekalah biasanya yang akan memberi peringatan dan hukuman,” ungkapnya.

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanPengayah (Penjaga) pura di area Pura Campuhan, Galang Ariana. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Galang Ariana sehari-harinya ngayah (Mengabdi) di sana dari pagi hingga pukul 17.00 Wita. Setelah itu, tidak ada yang berjaga.

Dalam waktu yang sama, IDN Times juga melakukan penelusuran ke griya tersangka di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Griya tersebut berada di antara pemukiman padat penduduk. Pada saat kami bertanya kepada seorang penduduk setempat, tak banyak hal yang diketahui tentang tersangka. Biasanya ia memasuki griya tersebut jika ada upacara atau untuk ngayah (Membantu).

2. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Bali. Ajik dan korban berharap masyarakat mendapatkan edukasi dari kasus yang dialaminya

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanIlustrasi Garis Polisi (IDN Times/Arief Rahmat)

Kasus ini telah dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Bali pada 9 Juli 2020. Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Bali, Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro, melalui Kasubdit IV PPA Polda Bali, AKBP Ni Luh Kompyang Srinadi, menyatakan telah menetapkan status tersangka kepada I Wayan M.

“Untuk kasus tersebut memang kami yang tangani. Kasus masih proses sidik. Sudah ditetapkan tersangka, berkas sudah tahap 1 ke JPU,” terangnya, Rabu (10/2/2021).

Sementara Kepala Seksi Penerangan Kejaksaan Tinggi Bali, A Luga Harlianto, pada Selasa (3/2/2021) lalu menyampaikan berkas kasus I Wayan M masih dalam tahap pelimpahan, tinggal melengkapi berkas-berkas beserta bukti pendukung lainnya.

“Masih pelimpahan berkas dan belum lengkap (P21). Gitu aja yang bisa saya jelaskan,” jawab Luga.

Luga juga menambahkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini hampir tidak ada kasus kekerasan seksual yang pelakunya melibatkan oknum pemangku agama. Begitu juga selama tahun 2020. Namun ia menduga, ada kemungkinan identitas pelaku disebutkan sebagai swasta untuk kategori pekerjaannya.

Sementara pihak Bali Woman Crisis Center (WCC) yang menjadi Kuasa Hukum korban, Ni Nengah Budawati SH MH, mengatakan telah melengkapi kembali semua berkasnya.

"Korban sudah diperiksa dan mengalami trauma, harus ke psikiater. Itu efek buruknya. Makanya mendesak agar tersangka ditahan saja," terangnya.

Menurut Budawati, awalnya korban sempat ragu untuk melaporkan karena dekat dan hormat kepada tersangka. Kasus ini juga riskan, bersinggungan dengan agama dan adat di Bali.

“Dari awal kita memang hati-hati. Karena kasus ini irisannya sangat dekat sekali dengan urusan agama dan adat, di Bali memang riskan. Kasus ini bisa untuk edukasi bagi masyarakat semua. Beliau di sini walaupun sebagai korban, siap untuk memberikan pengalaman ini untuk mengedukasi masyarakat. 'Saya korban dan siap untuk itu'. Saya sangat mengapresiasinya. Pasangan ini berani. Bagaimana mengampanyekan ini agar tidak terulang kembali. Apalagi korban sudah diperiksa dan trauma akut,” tegas Budawati.

Ajik juga mengharapkan hal yang sama. Setelah pemberitaan ini muncul ke publik, berharap ada korban lain yang berani untuk memberikan kesaksian atau melaporkan perbuatan I Wayan M agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

"Kami dalam hal ini korban. Harapannya juga tidak terjadi kepada orang lain di kemudian hari dan masyarakat menjadi teredukasi. Apalagi ini, mohon maaf, agak sensitif berkaitan dengan agama. Jangan hanya melihat orang berpenampilan seolah-olah sebagai sosok spiritual dan kita percaya begitu saja. Itu pesan yang ingin kita sampaikan," harap Ajik.

Baca Juga: Penyebab Korban Tidak Memberontak Ketika Mendapatkan Pelecehan Seksual

3. Korban mengalami ketakutan dan luka yang mendalam

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanIlustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Arief Rahmat)

Psikolog yang menangani korban, Ni Ketut Jeni Adhi SPsi MPsi Psikolog, membenarkan bahwa YD mengalami ketakutan yang luar biasa.

“Kondisi korban setelah mengalami hal ini adalah sesuatu yang tidak disangka, dan lukanya sangat dirasakan. Ekspresi dan emosi saat kita melakukan assessment (Penilaian), memang lukanya luar biasa dan karena yang melakukan adalah orang yang dihormati. Jadi harus mendapatkan penanganan yang baik,” terang Jeni, Jumat (29/1/2021).

Ada sisi traumatik yang dialami oleh korban. Ia tidak berani pergi seorang diri, dan merasa insecure (Tidak aman) sehingga harus selalu ditemani oleh suaminya. Ketika IDN Times bertemu YD juga terlihat sayu dan tidak banyak bicara. Sehingga seluruh kesaksian dari kejadian itu lebih banyak diceritakan oleh suaminya.

“Kondisi mental seorang perempuan yang mengalami kekerasan seksual secara umum ada perasaan sedih, kecewa, tidak berharga. Pelecehan itu adalah suatu perbuatan yang siapapun tidak menginginkan. Apalagi dilakukan oleh orang yang dihormati. Muncul bentuk perasaan tidak berharga dari korban, apalagi perempuan menjaga kehormatannya, sementara orang lain melakukan hal tidak senonoh,” jelas Jeni.

Kondisi seperti itu menyebabkan korban merasa tidak berharga, dan bisa merembet ke perasaan sedih yang berkepanjangan. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka gangguan ini bisa semakin parah. Satu di antaranya mengarah ke depresi. Sisi psikologis korban juga berpotensi mengalami perubahan seperti fluktuasi emosi, mudah marah, terpancing, dan tidak mampu mengendalikan sikap.

Menurutnya, kasus pelecehan seksual memang harus dilaporkan. Walau kenyataannya banyak pertimbangan korban untuk diam, termasuk tidak mau aib tersebut diketahui oleh orang lain. Hanya saja apabila tidak dilaporkan, pelaku tidak akan jera dan terus mengulangi perbuatannya.

4. Tersangka dapat dijerat Pasal 289 KUHP

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanIDN Times/Sukma Sakti

Kriminolog Universitas Udayana (Unud), Gde Made Suardana, yang dihubungi IDN Times pada Senin (8/2/2021), menyayangkan kejadian itu. Sudah sepatutnya seseorang yang mempelajari spiritual dapat memberikan pencerahan agama, religius, dan spirit kepada orang lain supaya hidupnya menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya dengan mengiming-imingi pembersihan diri dan memberikan kekuatan gaib.

“Apapun alasannya, kalau sekadar ingin meningkatkan kemampuan spiritual, saya setuju. Tetapi di balik semua itu, ada unsur pelecehan yang jelas sangat dilarang oleh agama, maupun hukum yang berlaku,” katanya.

Ia menilai, pelaku dapat dijerat Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi:

"Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul, diancam karena perbuatan menyerang kesusilaan, dengan Pidana 9 Tahun."

“Dalam RUU KUHP juga sudah mengatur mengenai larangan menawarkan 'kekuatan gaib'. Mengaku bisa saja sudah diancam pidana, ini delik formil,” jelasnya.

5. Tersangka pernah menandatangani surat pernyataan berisi pengakuan telah melakukan pelecehan seksual, namun menggunakan tanda tangan yang tidak asli

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanFoto hanya ilustrasi. (comoserassistentevirtual.com.br)

Sekadar diketahui, I Wayan M menandatangani Surat Pengakuan Bersalah pada tanggal 7 Juli 2020. Surat yang diterima oleh IDN Times tersebut berisi pengakuan I Wayan M yang melakukan pelecehan seksual atau perbuatan cabul dan melakukan percobaan pemerkosaan kepada YD pada pukul 02.05 Wita, hari Sabtu tanggal 4 Juli 2020, yang terjadi di depan Patung Dewa Siwa Pura Campuhan.

Tersangka melakukannya karena tidak mampu menahan hasrat, lalu menakut-nakuti korban untuk melakukan hubungan dengan dalih akan diberikan kekuatan gaib. Surat yang juga memuat kronologi kejadian itu ditandatangani oleh I Wayan M di atas materai 6000. Dari kesaksian suami korban (Ajik), istri tersangka juga ikut mendampingi. Selain itu ada mertua tersangka, korban, suami korban, dan saksi yang turut hadir.

Setelah penandatanganan itu, ayah mertua tersangka meminta maaf dan menyatakan kasus ini tidak dapat dipolisikan. Ia beralasan seorang sulinggih tidak boleh dipolisikan, sehingga meminta damai.

"Di-pressure-lah saya waktu itu. Ini yang marah (Menunjuk korban)," ujar Ajik.

Semenjak itu Ajik berusaha menguatkan istrinya yang telah menjadi korban pelecehan seksual I Wayan M. Pada tanggal 9 Juli 2020, korban menyatakan siap untuk melaporkan kasus ini kepada polisi.

Menanggapi surat pengakuan itu, Ketua Tim Kuasa Hukum tersangka, Komang Darmayasa, menyampaikan bahwa pada saat itu I Wayan M terpaksa menandatangani surat tersebut. Hal ini diakui di depan penyidik ketika pemeriksaan kasusnya.

“Jadi memang surat pernyataan yang disampaikan, ditunjukkan di dalam pemeriksaan tersebut. Sebenarnya surat itu kan, menurut klien kami, itu pertama dibuat dalam keadaan saat itu memang paksaan. Terpaksa. Kemudian tanda tangannya pun berbeda. Itu lho sebenarnya,” kata Darmayasa.

Terkait Surat Pengakuan Bersalah dan diduga tersangka membubuhkan tanda tangan yang tidak asli, Kriminolog Suardana mengungkapkan tersangka dapat dijerat pasal pemalsuan, yakni Pasal 263 dan 264 KUHP.

“Wah ini bisa kena perbuatan pidana lain lagi. Kalau dia sudah mengakui, berarti sudah mengakui kesalahannya,” tegas Suardana.

6. Kuasa Hukum akui kliennya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Hanya saja polisi tidak menahannya

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanIDN Times/Sukma Shakti

Ketua Tim Kuasa Hukum I Wayan M, Komang Darmayasa, melalui sambungan telepon pada Jumat (6/2/2021), menjelaskan status kliennya kini sebagai tersangka. Namun tidak ditahan dengan alasan kooperatif dan tidak menghilangkan barang bukti.

“Sudah tersangka beliau. (Status) tersangkanya bulan lalu,” jawabnya.

Darmayasa menambahkan, kliennya kembali dipanggil ke Polda Bali untuk menjalani pemeriksaan tambahan, pada Senin (8/1/2021).

Terkait status kesulinggihan, Darmayasa membeberkan bahwa kliennya termasuk dalam kategori muda untuk menjadi seorang sulinggih, yaitu sekitar umur 37 tahun. Ketika diupacarai sebagai sulinggih, kliennya tidak langsung mendaftarkan diri ke Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

“Belum mendaftarkan saat itu dan saat kasus ini baru muncul, yang bersangkutan sedang proses pendaftaran. Jadi sempat ditanya di kepolisian alasannya, mengapa kok sudah sekian lama dilantik sebagai seorang sulinggih, kok sekian lama itu tidak terdaftar di PHDI? Karena yang bersangkutan sempat menyampaikan bahwa sempat terjadi kebakaran waktu itu. Jadi beberapa dokumen yang harus dilengkapi, tidak bisa dilengkapi gitu,” ungkapnya.

Akan tetapi menurut Darmayasa, kliennya sudah menjalankan prosesi upacara-upacara kepada masyarakat sebagaimana tugasnya seorang sulinggih. Atas kasus ini, I Wayan M menunjuk Tim Kuasa Hukumnya dari DYS Law Office. Mereka terdiri dari I Komang Darmayasa, I Made Adi Seraya, I Made Wiryawan, I Kadek Ricky Adi Putra, Ida Bagus Gaga Aditya Prayudha, Anak Agung Ngurah Bayu Kresna Wardana, I Gusti Agung Andra Wibawa dan I Made Gemet Dananjaya Suta.

Darmayasa menilai, timnya tetap berpedoman pada asas praduga tak bersalah dalam kasus ini, sebelum ada putusan yang menyatakan kliennya bersalah. Sejauh pemeriksaan yang diikutinya, klien tetap bersikukuh tidak mengakui perbuatan tersebut.

“Kami kan tetap berdasarkan asas praduga tak besalah.”

7. Nama tersangka tidak tercatat dalam daftar PHDI Gianyar maupun Provinsi Bali

[LIPSUS] Berkedok Pembersihan, Sulinggih di Bali Tersangka PelecehanIDN Times/Wayan Antara

IDN Times telah menerima Surat Pernyataan yang bertulis tangan dan tertanggal 5 Juli 2020. Surat itu juga ada tanda tangan bermaterai dari nabe (Guru spiritual tersangka), ayah dan ibu mertua, serta istri tersangka.

Surat tersebut berisi pernyataan sang nabe yang menyatakan, I Wayan M tidak lagi menyandang gelar sebagai sulinggih dan mencabut sepenuhnya penabeannya (Tidak lagi bertindak sebagai guru spiritual I Wayan M), sekaligus mencabut gelar kesulinggihan yang pernah disandangnya selama ini.

Disebutkan pula, bahwa sang nabe tidak lagi terlibat atau melibatkan diri dalam masalah apapun, apabila I Wayan M masih menyebut dirinya sebagai seorang sulinggih atau menggunakan atribut kesulinggihannya. Surat pernyataan itu kemudian dibacakan Ajik sebanyak tiga kali di hadapan orang-orang yang hadir kala itu.

Berdasarkan konfirmasi dari Ketua PHDI Karangasem, Ni Nengah Rustini, menyebutkan sang nabe resmi terdaftar di PHDI Karangasem. Sementara Ketua PHDI Gianyar, I Wayan Ardana, membenarkan bahwa tersangka tidak tercatat di PHDI Gianyar.

"Beliau memang tidak melalui Parisada proses paridaksanya. Sehingga beliau tidak tercatat di PHDI," kata Ardana ketika dikonfirmasi IDN Times via WhatsApp, pada Senin (8/1/2021).

Adapun informasi tersebut sesuai dengan daftar terkini dari PHDI Provinsi Bali, bahwa jumlah total sulinggih di Bali sebanyak 1.714 sulinggih. Setelah IDN Times cek satu per satu daftar itu, nama tersangka tidak tercatat.

Sulinggih merupakan orang suci yang kedudukannya dimuliakan oleh umat Hindu, dan dianggap mewakili Tuhan. Karena itu tugasnya juga sangat berat. Termasuk menjauhi nafsu dan duniawi. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof Dr Drs I Gusti Ngurah Sudiana MSi. Untuk lebih lengkapnya, silakan cek Beratnya Jadi Sulinggih di Bali, Harus Menjauhi Nafsu dan Duniawi

Tim penulis: Ayu Afria Ulita Ermalia, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Wayan Antara, Diantari Putri, Irma Yudistirani, Ni Ketut Sudiani

Baca Juga: 8 Jenis Pelecehan Seksual yang Umum Terjadi di Sekitarmu, Laporkan!

Topic:

  • Irma Yudistirani
  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya