Comscore Tracker

Nasib Para Perantau di Bali: Sudah Lelah Jiwa dan Raga Hadapi Pandemik

Suara hati mereka yang luput dari bantuan pemerintah

Denpasar, IDN Times – Selama diterapkannya Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), pemerintah mengatakan telah terus memberikan bantuan untuk masyarakat. Namun kenyataannya di lapangan, masih ada kelompok masyarakat yang luput dari sasaran penerima bantuan tersebut. Padahal mereka juga sangat memerlukan uluran tangan.

Siapakah mereka? Ya, warga perantau yang saat ini memilih bertahan di tanah perantauan. Sejak awal pandemik melanda dan sektor pariwisata Bali lumpuh total, memang cukup banyak perantau yang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Namun ada juga beberapa dari mereka yang walaupun telah kehilangan pekerjaan, namun tetap memilih bertahan dan berharap ada pertolongan, yakni kesempatan kembali bekerja.

Namun rupanya kebijakan dari pemerintah pusat pelan-pelan membunuh harapan mereka. Selain tidak ada pendapatan, bantuan pun tak kunjung diterima. Lalu bagaimana cara mereka bertahan di Bali? Berikut suara hati para perantau yang saat ini sangat memerlukan uluran tangan.

Baca Juga: Cerita Pedagang Canang Bali, Rawat 2 Putra Disabilitas dalam Kerabunan

1. Perabotan rumah tangga sudah terjual habis dan masih menunggak pembayaran sewa kos

Nasib Para Perantau di Bali: Sudah Lelah Jiwa dan Raga Hadapi PandemikPexels.com/Pixabay

Sepasang suami istri ber-KTP luar Bali yang tinggal di Kecamatan Kuta (identitas disamarkan), mengaku sering merasa kelaparan karena tidak memiliki uang sama sekali. Selama ini mereka juga masih menunggak pembayaran sewa kos. Mengapa mereka tidak pulang ke kampung halaman? Kepada IDN Times, mereka mengatakan tidak punya biaya untuk pulang sehingga memilih bertahan di Bali ala kadarnya.

Keadaan serba terbatas. Mereka kehilangan pekerjaan dan susah untuk mencari pekerjaan. Perabotan rumah tangga sudah habis dijual untuk menutupi biaya hidup selama pandemik ini. Keduanya juga tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah, bahkan sejak awal pandemik hingga saat ini. 

“Sering mengalami kelaparan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari pemerintah belum pernah sama sekali mendapatkan (bantuan),” ungkapnya.

Lalu bagaimana cara mereka untuk bertahan? Selama ini mereka mencari bantuan ke keluarga hingga teman-teman terdekat. Kadang juga meminta bantuan ke relasinya yang berada di luar negeri dan menerima dari beberapa donatur di Bali. Sebagian besar berupa makanan dan sembako.

“Biasanya ke teman-teman terdekat dan beberapa teman pengusaha atau relasi. (Berupa) uang dan sembako,” jawabnya.

Sang suami juga berusaha menjadi tukang ojek dengan mencari penumpang konvensional. Selain itu sempat berjualan nasi dan bekerja di warung temannya. Namun itu pun tidak bertahan lama. Kini keduanya kembali menganggur karena restoran dan bar tempatnya bekerja tutup.

“Harapan kami bandara international I Gusti Ngurah Rai Bali agar bisa segera dibuka. Dan tidak ada yang namanya PPKM, lockdown, dan persyaratan lain-lainnya,” ungkapnya pada Kamis (2/8/2021).

2. Sempat daftar prakerja tapi sampai saat ini terus gagal

Nasib Para Perantau di Bali: Sudah Lelah Jiwa dan Raga Hadapi PandemikIlustrasi Kartu Pra Kerja (IDN Times/Arief Rahmat)

Sementara itu seorang perempuan berinisal INT dari Kabupaten Banyuwangi, mengaku pusing menghadapi dampak pandemik ini. Dengan status perkawinan cerai matinya, ia harus berjuang seorang diri bersama anak semata wayangnya untuk bertahan dalam kondisi pekerjaan yang serba sepi. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur karena masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Dari pemerintah sejauh ini saya belum pernah menerima bantuan apapun. Saya sempat daftar prakerja dan gagal sampai saat ini,” ungkapnya.

Meskipun tidak menerima bantuan dari pemerintah, ia mengaku mendapatkan bantuan dari orang lain. Banyak yang berbelas kasih dan memberinya sembako. Sejak pandemik ini, ia akui banyak sekali mendapatkan bantuan dari perorangan, tempat pengajian, dan dari masjid. Bantuan yang diterimanya berupa sembako, beras mie, minyak, gula, dan lain-lain. Setidaknya cukup untuk bertahan hidup dengan anaknya saat ini.

“Sejauh ini Alhamdulillah, se-sepi-sepinya pekerjaan, masih bisa kalau buat kebutuhan sehari-hari. Biaya makan sama bayar tempat tinggal. Dicukup-cukupin, alhamdulillah cukup,” ucapnya. Ia berharap agar pandemik ini segera selesai. Ia mengaku sudah lelah jiwa dan raga.

3. Bantuan sembako difokuskan untuk masyarakat yang isoman

Nasib Para Perantau di Bali: Sudah Lelah Jiwa dan Raga Hadapi PandemikIlustrasi pemberian bantuan (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Berkaca dari dua kondisi tersebut, apakah sebenarnya bantuan pemerintah juga menyasar masyarakat perantau? IDN Times lalu mengonfirmasi Plt. Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar, I Nyoman Artayasa. Ia mengungkapkan bahwa sejak pandemik ini, Pemerintah Kota Denpasar juga memberikan bantuan sembako, baik untuk warganya yang ber-KTP Denpasar maupun luar Denpasar. Tetapi bantuan ini diberikan kepada mereka yang sedang isolasi mandiri (isoman).

“Bagi yang isolasi mandiri karena positif COVID-19. Kalau tinggal di Denpasar, walau KTP luar, kami bantu. Kami fokus yang isoman untuk bantuan sembako,” jelasnya.

Lalu bagaimana dengan masyarakat perantau yang tidak dalam kategori isoman? Apakah pemerintah menyediakan bantuan juga yang menyasar mereka? Nyoman Artayasa mengatakan banyak juga penerima bantuan dari pemerintah merupakan warga yang ber-KTP luar Denpasar, tetapi tinggal di Denpasar

“Bantuan sosial berupa PKH, BPNT, dan BST itu tidak semata untuk warga KTP Denpasar. Banyak juga yang KTP luar, tapi tinggal di Denpasar. Iya pastinya masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS),” ungkapnya.

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya