Kenali Gejala Kerusakan Ginjal Akut pada Anak di Bali

Belum diketahui penyebabnya

Denpasar, IDN Times- Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah Denpasar menyatakan telah merawat 17 orang pasien anak yang menderita penyakit ginjal rusak akut atau Acute Kidney Injury (AKI).

Dari 17 orang pasien tersebut, hanya 2 orang saja yang tidak mengikuti Hemodialisis atau cuci darah. Bagaimana gejala penyakit ini?

Baca Juga: Pasien Anak Ginjal Rusak Sempat Terpapar COVID-19, Ada 17 Kasus di Bali

1. Pasien anak dominan usia di bawah 7 tahun

Kenali Gejala Kerusakan Ginjal Akut pada Anak di BaliIDN Times/Irma Yudistirani

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bali, dr. IGN Sanjaya Putra, menyebutkan bahwa RSUP Prof Ngoerah mencatat 17 orang anak, usia 0-18 tahun, menderita ginjal rusak akut. Diketahui bahwa penyakit ini dominan diderita oleh anak usia di bawah 7 tahun.

Pasien anak penderita AKI pertama kali diterima pada awal Agustus 2022. Tercatat selama bulan itu, ada 6 kasus. Para dokter yang menangani kasus ini, menemukan bahwa penyakit pada ginjal anak-anak tersebut tidak seperti biasanya. Juga frekuensi penderitanya tiba-tiba meningkat. Di mana biasanya hanya satu orang dalam sebulan, namun tiba-tiba jumlahnya meningkat.

“Sementara ini, kita masih anggap belum kita temukan penyebabnya. Masih misterius. Itu di seluruh Indonesia cukup banyak. Dari kita selama ini, kita dapatkan data dari RSUP Prof Ngoerah saja 17 orang ya,” ungkapnya, Jumat (14/10/2022).

2. Pasien mengalami susah kencing, 24 jam tidak kencing

Kenali Gejala Kerusakan Ginjal Akut pada Anak di BaliIlustrasi seorang pasien (ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica)

Pasien datang ke rumah sakit dengan gejala kurang kencing. Bahkan dalam 24 jam, para pasien ini tidak kencing sama sekali. Padahal normalnya akan kencing setiap 6 jam sekali. Kemudian juga disertai infeksi saluran napas atas, gangguan saluran cerna, batuk, muntah, hingga mencret.

“Gangguan yang awalnya itu pasti gangguan infeksi saluran napas. Ada infeksi saluran cerna. Kadang tidak kencing. Nah, ini yang harus kita waspadai ke depannya. Hati-hati nih,” ungkap dr. IGN Sanjaya Putra.

Berdasarkan hasil pengecekan terhadap para pasien tersebut, diketahui adanya peningkatan fungsi ginjal. Hingga kemudian diperlukan tindakan Hemodialisis (HD).

3. Hanya 2 pasien anak yang tidak memerlukan tindakan HD

Kenali Gejala Kerusakan Ginjal Akut pada Anak di Balimesin cuci darah (critcareedu.com.au)

Dokter IGN Sanjaya Putra mengatakan satu orang pasien AKI, GNP (17), hingga hari ini masih dalam perawatan di rumah sakit RSUP Prof Ngoerah. Kondisinya diungkapkan sudah semakin membaik dan mulai dilatih mobilisasi jalan, tapi tetap dengan bantuan.

Sementara itu, pada kasus yang berat gangguan ginjal, maka harus dilakukan Hemodialisis (HD). Dari jumlah 17 orang pasien tersebut, hanya 2 orang yang tidak ditangani dengan HD.

“Itu yang kami lakukan di sini. Dari jumlah pasien yang 17 orang ini. Hanya 2 yang tidak HD. Yang satu masih dirawat, tidak HD. Tentunya dengan indikasi kami anggap HD belum perlu. Satu lagi sudah pulang,” jelasnya.

Topik:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya