Fakta Baru Tenggelamnya KM Linggar Petak 89, Minim Alat Keselamatan

Kapal nelayan tersebut tidak dilengkapi alat komunikasi

Denpasar, IDN Times - Tragedi tenggelamnya KM Linggar Petak 89 setelah dihantam gelombang di perairan Samudra Hindia, Selasa (28/2/2023) menguak sejumlah fakta baru. Di antaranya diketahui minimnya kelengkapan keselamatan dan komunikasi di kapal pencari ikan tersebut.

Permasalahan ini sudah sering menyertai pada setiap tragedi kapal nelayan kemudian dilaporkan tenggelam. Tidak adanya sejumlah kelengkapan tersebut, diakui oleh Kepala Basarnas Bali menyulitkan upaya pencarian.

Baca Juga: SAR Bali Cari ABK Kapal Linggar Tenggelam di Samudra Hindia

1. Tidak ada kelengkapan alat komunikasi, dan keselamatan

Fakta Baru Tenggelamnya KM Linggar Petak 89, Minim Alat KeselamatanMarineinsight.com

Kepala Kantor Basarnas Bali, Gede Darmada pada Kamis (2/3/2023) menyampaikan, Kapal KN Arjuna 229 sempat kesulitan mengakses lokasi kejadian. Hal ini karena kapal nelayan tersebut tidak dilengkapi alat komunikasi. Selain itu juga minim alat keselamatan untuk ABK.

“Kapal nelayan ini memang tidak dilengkapi peralatan komunikasi memadai. Misalnya alat komunikasi radio marine, kemudian tidak ada GPS, Automatic Identification System (AIS). Sehingga kami kesulitan melacak kapal ini,” ungkapnya.

Begitu pula dengan KM Bahari Nusantara 25, komunikasi Tim SAR baru bisa dilakukan setelah kapal tersebut mendekati Pulau Bali untuk mengantar ABK yang ditemukan.

2. Ada syarat layar harus dipenuhi, tapi banyak tidak disiplin

Fakta Baru Tenggelamnya KM Linggar Petak 89, Minim Alat KeselamatanEvakuasi korban KM Linggar Petak 89 di Dermaga Pasiran, Pelabuhan Benoa. (Dok.IDN Times/Khadafi)

Darmada mengungkapkan, saat ini area pencarian diperluas sebesar 5 -100 nm. Informasi dari kapten yang selamat,  ABK yang meninggalkan kapal hampir semuanya tidak menggunakan alat keselamatan. Mereka hanya berpegangan pada bola-bola jaring.

Sementara itu idealnya, ada beberapa hal harus dipenuhi ketika kapal berangkat berlayar. Di antaranya alat keselamatan, alat komunikasi, dan sertifikat pelautnya. Diakui Darmada kadang-kadang memang ada yang tidak disiplin terkait hal ini, sehingga menyulitkan pencarian, dan melacak posisi saat Operasi SAR.

“Kami dorong, bersama sosialisai secara regulasi. Tapi di sini berkaitan kepada juga internal perusahaan itu. Kami kurang tahu ya,” ungkapnya.

Ia menekankan, alat-alat keselamatan pelayaran, dan komunikasi tersebut sebenarnya bisa terbeli oleh perusahaan-perusahaan terkait. Karena juga merupakan persyaratan utama ketika kapal akan berlayar.

“Standarnya bisa dibelilah. Karena memang syarat mengeluarkan kapal (berlayar) seperti itu. harus ada alat keselamatan,” jelasnya.

3. Kondisi alam di perairan Samudra Hindia tidak mendukung Operasi SAR

Fakta Baru Tenggelamnya KM Linggar Petak 89, Minim Alat KeselamatanEvakuasi korban KM Linggar Petak 89 di Dermaga Pasiran, Pelabuhan Benoa. (Dok.IDN Times/Khadafi)

Pencarian ini juga terkendala oleh alam. Pencarian di malam hari sangat tidak memungkinkan, dan tidak efektif karena visibility tidak maksimal.

Sedangkan cuaca merujuk prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta aplikasi memantau cuaca secara internasional, selatan Pulau Bali memang 75 persen sering tidak mendukung untuk Operasi Search and Rescue (SAR).

“Rata-rata ketinggian gelombang di selatan Bali itu 2-4 meter. Kemudian angina bisa mencapai 20-30 knots. Artinya benar-benar sangat kendala dalam operasi SAR,” terangnya.

Baca Juga: 1 ABK KM Linggar Ditemukan Lemas di Perairan Uluwatu

Topik:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya