Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak, Pubertas Lebih Cepat

Lingkungan yang sehat menjadi syarat dan hak ekologis anak

Denpasar, IDN Times - Indonesia digadang-gadang akan memiliki bonus demografis pada tahun 2045. Menuju bonus demografis tersebut, perlu ada lingkungan yang mendukung untuk anak-anak muda Indonesia.

Salah satunya lingkungan yang sehat yang kemudian disebut menjadi hak anak. Permasalahan ini dibahas dalam seminar internasional sekolah bebas plastik sekali pakai "Ban The Big 5 (BTB5)" yang diselenggarakan selama 2 hari sejak 3-4 Maret 2023 secara virtual. Kegiatan tersebut melibatkan 20 sekolah baik yang ada di Bali, maupun luar Bali.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapat edukasi kesehatan lingkungan, dan juga hak atas lingkungan yang sehat.

Baca Juga: Daily Flight dari China ke Bali Siap Beroperasi 3 Maret

1. Mikroplastik mempengaruhi kualitas organ reproduksi dan mempercepat menstruasi

Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak, Pubertas Lebih Cepatilustrasi menstruasi (pexels.com/Cliff Booth)

Eka Chlara Budiarti selaku perwakilan dari ECOTON mengatakan bahwa mikroplastik yang masuk ke tubuh berisiko dan menganggu gen serta hormon. Pengaruh ini telah dikemukakan oleh beberapa peneliti.

Salah satu pengaruhnya adalah terhadap kejantanan pada laki-laki (dewasa) yang mengakibatkan kualitas dan kuantitas sel sperma menurun.

“Yang harusnya lincah atau jumlahnya banyak, nah itu bisa berkurang kualitasnya. Tidak lincah lagi, tidak aktif lagi. Itu salah satu yang diakibatkan oleh mikro plastik,” jelasnya.

Sedangkan dampak terhadap anak-anak terutama perempuan adalah siklus menstruasi dan pubertas yang cenderung datang lebih cepat.

“Berimbas juga ya. Salah satunya kepada anak-anak perempuan yang sekarang. Yang dulu zaman dulu ibu-ibu kita, nenek-nenek kita itu menstruasinya masih lama (tidak di bawah 10 tahun),” jelasnya.

2. Lingkungan yang sehat menjadi syarat dan hak ekologis anak

Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak, Pubertas Lebih CepatIlustrasi anak-anak (IDN Times/Sunariyah)

Sementara itu dalam acara yang diselenggarakan oleh Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali tersebut, perwakilan NEXUS 3, Yune Eribowo mengatakan bahwa usia anak-anak sangat rentan terhadap permasalahan lingkungan. Di mana lingkungan yang sehat menjadi syarat dan hak ekologis anak.

“Kami percaya bahwa lingkungan yang sehat pasti akan menjadi sebuah syarat untuk anak. Terutama calon generasi masa depan Indonesia nih,” katanya.

Hak-hak ekologis anak tersebut, kata dia, telah dirangkum oleh Badan PBB yang menangani anak-anak, yakni UN-CRC atau United Nations Convention on the Rights of the Child. 

3. Edukasi anak muda terkait dengan langkah kesehatan lingkungan

Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak, Pubertas Lebih Cepatilustrasi anak-anak (Freepik.com/jcomp)

Kemudian perwakilan dari Komunitas Salam Natah Rare Denpasar, Ni Kadek Anggi Putri, dan Anak Agung Anindya Cahya Kirana menyampaikan beberapa hak ekologi anak. Diantaranya mendapatkan lingkungan tempat hidup yang layak, baik air, udara, dan tanah yang bersih serta terhindar dari pencemaran.

Apa yang terjadi saat ini? Permasalahan pencemaran udara yang mengakibatkan gangguan pernapasan, memicu kerusakan otak, dan kecerdasan anak.

Polusi air yang berdampak pada penurunan kualitas air, terancamnya habitat hewan laut dan menyebabkan kepunahan, serta berkurangnya sumber air bersih bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

“Bagaimana dengan Pulau Bali? Polusi sampah sehingga menimbulkan berbagai masalah. Untuk dampaknya lingkungan menjadi kurang nyaman ditempati, menjadi sumber berbagai penyakit karena bakteri bau tidak sedap di mana-mana,” ungkap Anggi.

Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak, Pubertas Lebih CepatIlustrasi pohon-pohon produktif (Dok. Google Image)

Apa yang harus dilakukan? Anindya menambahkan bahwa beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya penanaman pohon, mengurangi penggunaan detergen, menjaga kebersihan air, membersihkan sampah plastik, dan mulai mengelola sampah dari rumah.

“Untuk mengurangi porsi sampah sendiri. Kita bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kresek, plastik kiloan dan lain-lain,” jelasnya.

Lalu bagaimana respons para siswa yang mengikuti kegiatan diskusi ini? Beberapa siswa perwakilan dari berbagai sekolah di Bali terpantau aktif menyakan beberapa dampak mikroplastik terhadap kualitas ikan di sungai, cemaran dalam tubuh manusia, regulasi dari BPOM, dan beberapa hal terkait lainnya.

Baca Juga: Bandara Internasional di Bali Ketat Lagi, Waspada Flu Burung

Topik:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya