Jentik nyamuk Aedes aegypti yang ber-Wolbachia sebagai inovasi untuk menekan kasus Demam Berdarah di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) di Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (7/12/2023). (IDN Times/Dhana Kencana)
Meski genangan air karena hujan berkurang akibat musim kemarau, namun bukan berarti ancaman DBD juga berkurang.
Menurut Arya, penting untuk setiap rumah memantau jentik nyamuk di lingkungan rumah. Dinas Kesehatan Tabanan mendorong gerakan satu jumantik di satu rumah.
"Mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik merupakansatu program DInas Kesehatan Tabanan untuk menekan kasus DBD di masyarakat. Selain itu, Dinkes juga melakukan promosi kesehatan dan pelaksanaan berkelanjutan tentang PSN mingguan maupun sosialisasi mengenai penyakit DBD ke masyarakat," kata Arya.
Dalam mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik ini, pihak Dinas Kesehatan membuat edaran melalui perbekel dan media sosial agar setiap keluarga menunjuk satu orang keluarganya menjadi jumantik.
"Tugas jumantik di rumah ini adalah melakukan pengecekan adanya jentik nyamuk setidaknya satu kali seminggu sekaligus mengkoordinir PSN dengan menerapkan gerakan 3M plus," ujar Arya
3M adalah menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang wadah yang berpotensi menampung air hujan seperti kaleng, plastik, dan botol bekas.
Sedangkan gerakan plusnya adalah gerakan tambahan seperti menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras, atau memelihara ikan pemakan jentik nyamuk di kolam atau wadah air.