Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ancaman DBD Tabanan Belum Usai Meski Kasus Anjlok 80 Persen
Ilustrasi DBD. (IDN Times/Aditya Pratama).
  • Kasus DBD di Tabanan turun dari 664 kasus pada 2025 menjadi 100 kasus hingga Oktober 2026, atau sekitar 80 persen; tidak ada kematian akibat DBD tahun ini.
  • Kasus 2026 terbanyak tercatat di Kerambitan dengan 19 kasus, disusul Kediri 18 kasus dan Tabanan 14 kasus; mobilitas, curah hujan, serta PSN memengaruhi penyebaran.
  • Dinkes Tabanan mendorong satu jumantik tiap rumah untuk memeriksa jentik mingguan dan mengoordinasikan 3M Plus, disertai promosi kesehatan serta sosialisasi DBD.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kasus demam berdarah dengue di Kabupaten Tabanan tercatat 100 kasus hingga Oktober 2026, turun sekitar 80 persen dibandingkan 664 kasus pada 2025.
  • Who?
    Dinas Kesehatan Tabanan, Sekretaris Dinkes dr Wayan Arya Putra Manuaba, serta masyarakat dan keluarga di Kabupaten Tabanan terlibat dalam pencegahan DBD.
  • Where?
    Kasus terbanyak berada di Kecamatan Kerambitan, 19 kasus, disusul Kediri 18 kasus dan Kecamatan Tabanan 14 kasus.
  • When?
    Data 100 kasus tercatat hingga Oktober 2026. Wayan Arya Putra Manuaba menyampaikan keterangan pada Jumat, 9 Oktober 2026.
  • Why?
    Penurunan dikaitkan dengan musim kemarau yang panjang, berkurangnya genangan air, meningkatnya pemberantasan sarang nyamuk, dan gerakan satu rumah satu jumantik.
  • How?
    Dinkes mengedarkan imbauan melalui perbekel dan media sosial agar tiap keluarga menunjuk jumantik untuk memeriksa jentik mingguan serta menjalankan 3M Plus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Kasus Demam Berdarah Denque (DBD) tahun 2026 masih menghantui kesehatan masyarakat Tabanan. Meski demikian, Dinas Kesehatan Tabanan mencatat jika jumlah kasus DBD tahun 2026 menurun cukup signifikan dibandingkan 2025. Berdasarkan data, DBD pada 2025 tercatat sebanyak 664 kasus. Sementara, pada Oktober 2026 sebanyak 100 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Tabanan, dr Wayan Arya Putra Manuaba, mengatakan penurunan signifikan ini karena berbagai faktor seperti musim kemarau yang lebih panjang, meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menggelar pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan adanya program Dinas Kesehatan berupa gerakan satu juru pemantau jentik (Jumantik) dalam satu rumah.

1. Kasus DBD terbanyak ada di Kecamatan Kerambitan

ilustrasi DBD (IDN Times/Yudi)

Seratus kasus DBD pada 2026 terbanyak terjadi di Kecamatan Kerambitan 19 kasus, Kediri 18 kasus, Tabanan 14 kasus, Baturiti 13 kasus, Penebel 8 kasus, Selemadeg 8 kasus, Selemadeg Timur 8 kasus, Marga 6 kasus, Pupuan 4 kasus, dan Selemadeg Barat 2 kasus.

Arya mengatakan tingginya kasus DBD dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh mobilitas penduduk, curah hujan, serta kesadaran masyarakat dalam melaksanakan PSN.

"Kasus DBD banyak ditemukan pada daerah dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Namun juga dipengaruhi curah hujan serta kesadaran masyarakat dalam menerapkan PSN," katanya, Jumat (9/10/2026).

2. Kasus DBD di Tabanan tahun 2026 mengalami penurunan signfifikan

ilustrasi nyamuk demam berdarah aedes aegypti (pixabay.com/MikuAalto)

Arya mengatakan, kasus DBD pada 2026 ini menurun cukup signifikan atau sekitar 80 persen dari tahun sebelumnya. Sementara kasus kematian karena DBD pada 2026 ini belum ada.

"Untuk kasus kematian DBD belum ada selama tahun 2026 ini," ujarnya.

Menurut Arya, penurunan ini karena masyarakat Tabanan sudah mulai sadar melaksanakan PSN.

"Selain juga dipengaruhi oleh musim kemarau yang cukup panjang tahun ini, menyebabkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk berkurang," kata Arya.

3. Dinkes mendorong terbentuknya satu jumantik satu rumah

Jentik nyamuk Aedes aegypti yang ber-Wolbachia sebagai inovasi untuk menekan kasus Demam Berdarah di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) di Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (7/12/2023). (IDN Times/Dhana Kencana)

Meski genangan air karena hujan berkurang akibat musim kemarau, namun bukan berarti ancaman DBD juga berkurang.

Menurut Arya, penting untuk setiap rumah memantau jentik nyamuk di lingkungan rumah. Dinas Kesehatan Tabanan mendorong gerakan satu jumantik di satu rumah.

"Mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik merupakansatu program DInas Kesehatan Tabanan untuk menekan kasus DBD di masyarakat. Selain itu, Dinkes juga melakukan promosi kesehatan dan pelaksanaan berkelanjutan tentang PSN mingguan maupun sosialisasi mengenai penyakit DBD ke masyarakat," kata Arya.

Dalam mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik ini, pihak Dinas Kesehatan membuat edaran melalui perbekel dan media sosial agar setiap keluarga menunjuk satu orang keluarganya menjadi jumantik.

"Tugas jumantik di rumah ini adalah melakukan pengecekan adanya jentik nyamuk setidaknya satu kali seminggu sekaligus mengkoordinir PSN dengan menerapkan gerakan 3M plus," ujar Arya

3M adalah menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang wadah yang berpotensi menampung air hujan seperti kaleng, plastik, dan botol bekas.

Sedangkan gerakan plusnya adalah gerakan tambahan seperti menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras, atau memelihara ikan pemakan jentik nyamuk di kolam atau wadah air.

Curated For You

Editorial Team

Related Article