Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)

Denpasar, IDN Times - Alih fungsi lahan sawah di Bali dalam tahap mengkhawatirkan. Berdasarkan pendataan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN), Bali berada di peringkat 9 se-Nasional sebagai wilayah dengan penurunan Lahan Baku Sawah (LBS) tertinggi. Pada 2019, LBS di Bali seluas 70 ribu hektare lebih, sedangkan tahun 2024 menjadi 64 ribu hektare lebih.

Melalui data tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mengaitkan dengan imbas penurunan produksi padi di Bali. Luas panen padi di Bali tahun 2025 mengalami penurunan sebesar 7,36 ribu hektare dibandingkan tahun 2024. Tahun ini, BPS Bali mencatat adanya potensi penurunan lagi.

“Terdapat potensi penurunan luas panen pada Januari hingga Maret 2026 sebesar 3,86 ribu hektar atau sekitar 8,98 persen dibandingkan Januari hingga Maret 2025,” ujar I Made Agus Adnyana, Statistisi Ahli Madya BPS Bali pada Senin (2/2/2026).

Sektor pariwisata berdampak ke masifnya alih fungsi lahan

Ketua Tim Statistik Pertanian BPS Bali, Sapto Wintardi. (IDN Times/Yuko Utami)

Sementara itu, Ketua Tim Statistik Pertanian BPS Bali, Sapto Wintardi, mengatakan alih fungsi lahan selalu menjadi masalah di Bali. Ia menyebutkan, problem di Bali itu adalah semakin menyempitnya lahan. Bali sebagai wilayah yang mengunggulkan sektor pariwisata, berimbas ke aih fungsi lahan.

“Hampir setiap tahun itu terjadi alih fungsi lahan. Kalau tadi kita lihat di paparan itu bahwa dari tahun 2019 ke 2024, itu turunnya aja sekitar 6 ribu hektare,” kata Sapto di Kantor BPS Bali, pada Senin (2/2/2026).

Selama rentang waktu antara 2019 ke 2024, Bali mengalami penurunan luas lahan sawah sebesar 1000 hektare setiap tahunnya. Penurunan luas lahan sawah tersebut jadi satu penyebab penurunan produksi padi dan beras di Bali.

BPS Bali belum dapat memastikan penurunan luas lahan berpengaruh ke pertanian organik

foto hanya ilustrasi (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Menanggapi adanya potensi penurunan luas panen selama Januari hingga Maret 2026, Sapto menegaskan data tersebut baru berupa potensi berdasarkan periode sebelumnya.

“Jadi KSA (kerangka area sampel) itu bisa memprediksi atau menghitung potensi produksi dan luas panen untuk 3 bulan ke depan,” kata dia.

Sapto belum dapat memastikan pengaruh penurunan LBS Bali terhadap berlangsungnya program pertanian organik. Melalui data yang ada, pihaknya akan melakukan diskusi lanjutan dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali.

“Kami juga sedang menyusun kira-kira seperti apa nanti ke depannya,” ujar Sapto.

Diskusi lanjutan dengan Dinas Pertanian untuk meningkatkan produksi padi

Lahan sawah di Jatiluwih, Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Meskipun sulit untuk memenuhi luas panen akibat alih fungsi lahan, Sapto berkata pihaknya tetap akan berdialog dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali untuk membahas kemungkinan peningkatan produksi padi. Sebab produksi padi berasal dari perkalian antara luas panen dan produktivitas.

Sapto menjabarkan ada sejumlah wilayah di Bali yang potensial untuk meningkatkan produksi padi. Mulai dari Tabanan, Denpasar, Badung, hingga Gianyar.

“Karena luas panen itu mungkin agak sulit di Bali untuk ditingkatkan. Jadi kita mungkin nanti akan mengusulkan ke dinas itu untuk meningkatkan produktivitas,” papar Sapto.

Editorial Team