Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Tak Curhat ke AI-Medsos Ketika Alami Masalah Kesehatan Mental
ilustrasi layanan masalah depresi (pexels.com/Ron Lach)
  • Agus Hendrawan menyoroti pentingnya memahami tempat mencari pertolongan saat kondisi mental menurun, bukan sekadar mencurahkan perasaan di media sosial atau melalui AI.
  • Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental sebaiknya dilakukan sejak kondisi masih stabil, termasuk dengan berkonsultasi ke profesional seperti psikolog atau konselor.
  • Penyalahgunaan media sosial dan AI dapat membuat seseorang menolak keadaan dirinya sendiri, karena algoritma hanya memantulkan perilaku digital tanpa memberi pemahaman emosional yang sebenarnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

"Untuk merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang normal. Tapi bagaimana kita untuk bisa mendapatkan bantuan dengan meminta pertolongan itu yang menjadi utama."

Badung, IDN Times - Isu kesehatan mental di masyarakat Bali saat ini masih diwarnai dengan stigma dan dianggap tidak baik. Padahal, kesehatan mental merupakan hal yang paling mendasar bagi setiap manusia.

Operation Manager Bali Bersama Bisa Foundation, Agus Hendrawan, mengatakan kondisi kesehatan mental yang baik berdampak pada kemampuan seseorang untuk berdaya, bekerja, bertahan, dan memenuhi kebutuhan.

Ia menekankan pentingnya mengetahui tempat mencari pertolongan saat kondisi mental menurun. Menurutnya, rutinitas seperti berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan mental. Selain itu memiliki support system dari lingkungan juga penting saat menghadapi kondisi tersebut.

"Apabila kesehatan mental seseorang terganggu maka semua hal yang sebelumnya bisa dilakukan menjadi terhambat misalnya dari sisi finansial, pribadi, hubungan dan lain sebagainya," ungkapnya.

1. Seseorang saat ini cenderung memanfaatkan teknologi untuk memperjelas kondisi mentalnya

ilustrasi depresi (pexels.com/Andre Moura)

Agus mengatakan saat ini banyak orang memanfaatkan era digital untuk mencurahkan perasaan di media sosial hingga mencari diagnosis sendiri, termasuk melalui AI, untuk mengetahui kondisi yang dialami dan langkah yang harus dilakukan.

Ia menyarankan sebelum mencari bantuan melalui media sosial, seseorang perlu memahami terlebih dahulu kebutuhan dirinya. Saat kondisi mental menurun, ia menekankan pentingnya mengesampingkan gengsi untuk meminta bantuan kepada teman, support system, atau orang yang dipercaya dapat membantu.

"Saat kita memang memerlukan bantuan secara mental dan emosional, kita harus tahu nih ke tempat mana yang aman untuk kita bisa meminta pertolongan," ungkapnya.

2. Konsultan mental berpengaruh pada percepatan penanganan

Operation Manager Bali Bersama Bisa Foundation, Agus Hendrawan (IDN Times/Ayu Afria)

Agus mengatakan masalah yang kerap terjadi adalah seseorang baru mencari pertolongan saat berada dalam kondisi krisis atau tidak baik-baik saja. Padahal, menurutnya, menjaga kesehatan mental perlu dilakukan sejak kondisi masih stabil.

Ia menilai, saat merasa baik-baik saja justru menjadi waktu yang tepat untuk memahami kondisi diri dan menentukan langkah menjaga kesehatan mental melalui konsultasi dengan pihak yang tepat.

"Jadi tidak harus krisis dulu baru kita datang ke psikiater atau psikolog atau konselor untuk nanti bisa ditanggulangi," ungkapnya.

3. Teknologi memungkinkan terjadi penolakan keadaan situasi diri seseorang yang sebenarnya

ilustrasi depresi (pexels.com/@mohammad ubaid)

Agus mengatakan media sosial dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental jika disalahgunakan. Saat mengalami krisis, sebagian orang justru mencari konten yang dianggap positif lalu memvalidasi diri dengan merasa “relate”.

Menurutnya, langkah tersebut tidak tepat karena saat seseorang sedang tidak baik-baik saja lalu memaksakan mencari hal positif, justru terjadi penolakan terhadap kondisi diri yang sebenarnya.

"Tak jarang AI atau media sosial dimanfaatkan untuk menjadi tempat curhat, yang tanpa disadari bahwa AI itu dirancang sedemikian rupa untuk menjadi copy diri sendiri. Saat seseorang menanyakan ke AI, maka AI akan meng-capture secara umum algoritma yang sudah seseorang lakukan di media sosial atau digital," terangnya.

Editorial Team