ilustrasi kesedihan (pixabay.com/Kimut)
Pernahkah kamu bernyanyi hingga full power, mulai dari melantunkan liriknya sekencang-kencangnya, hingga gerak tubuh yang seolah ikut berbicara? Semua itu ialah wujud emosi dari sang lagu. Nah, kalau kamu bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu padahal tidak merasakan lirik lagunya di kehidupan nyata, maka bisa jadi karena kamu memiliki kehidupan dengan emosi yang setara dengan kisah lagu galau terkait. Bagaimana maksudnya?
Coba bayangkan apa beban hidupmu saat ini, permasalahan yang sedang dihadapi, pun rutinitas yang menjengkelkan atau sekadar membosankan. Semua kisah hidupmu itu melahirkan emosi yang bisa kamu salurkan lewat bernyanyi. Jadi, ketika kamu nyanyi lagu galau seolah jadi korban yang paling tersakiti, itu ya karena sedang menyalurkan emosi kehidupan pribadimu, tak harus relate dengan lirik lagunya.
Misalnya saja, lagunya tentang kehilangan pasangan, patah hati karena pasangan selingkuh, dan pergi begitu saja. Dalam kehidupan nyata, kamu tidak mengalami kisah pahitnya. Tapi, kamu punya kisah pahitmu sendiri, misal pekerjaan yang salah terus, revisi terus, disalahkan terus, padahal sudah memberi yang terbaik.
Nah, pola emosi yang setara meski berbeda kisah cerita inilah yang membuatmu seolah tersakiti saat tiba-tiba sedih menyanyikan lagu galau dengan lirik yang gak relate. Kamu hanya nitip menyalurkan emosi hidupmu lewat lagu yang gak kalah dahsyatnya rasa sakit yang diceritakan.
Dengan begitu, lagu galau tak hanya diperuntukkan bagi mereka yang relate dengan lirik lagunya saja, ya. Ada segelintir orang yang turut menikmati kesedihan yang ada di dalamnya, meski tidak merasakan secara langsung kisah dari lirik yang terkandung dari sang lagu galau.