Tujuh orang Indonesia People’s Assembly (IPA) dari elemen mahasiswa diamankan Satpol PP Provinsi Bali. (Dok.IDN Times/Istimewa)
Selain Excel dan Bagus, peserta aksi lainnya mengalami represivitas yang sama. Orang berpakaian sipil merampas paksa KTP, ATM, kamera, dan memory card. Memory card yang berisi dokumentasi aksi dihapus oleh BIN secara tiba-tiba.
“Kawan kami tiba-tiba diambil dompetnya, langsung diambil KTP dan ATM oleh orang orang yang berpakaian sipil. Isi memory card tiba-tiba dihapus,” jelas Excel.
Excel juga menerangkan, siapa saja yang berada di lokasi dilarang oleh aparat untuk menggunakan kamera.
“Saya diinterogasi di bale bengong, samping pos satpam pintu keluar kampus. Ada beberapa mahasiswa di sana. TNI dan BIN menuduh mereka wartawan. Bahkan tiba-tiba satu di antara mereka mengambil paksa handphone mahasiswa dan menghapus isi galerinya,” terang Excel.
Lima peserta mimbar bebas lainnya yang tertangkap dibawa ke Unud dan disatukan bersama Excel. Pihak Unud keberatan apabila kampus dijadikan lokasi titik kumpul peserta yang ditangkap. Akhirnya peserta dipindahkan ke lokasi Bagus berada. Total jumlah mahasiswa yang ditangkap, kata Excel, sebanyak tujuh orang. Proses interogasinya berlangsung selama sekitar satu jam.
Wulan, peserta mimbar bebas yang ditangkap, menceritakan dirinya diintimidasi dan diinterogasi dengan cara dibentak, mengalami rasisme, hingga menanyakan orangtuanya di mana.
“Mereka selalu mengulang pertanyaan yang sama bahkan cukup sering seperti kamu asalnya dari mana? Kawan kami yang berasal dari Bali pun disuruh keluar Bali karena menolak G20,” jelas Wulan.
Wulan mengalami demam tinggi selama diinterogasi. Karena kondisi kesehatannya memburuk, Satpol PP Provinsi Bali membawa Wulan ke Bali Royal Hospital (BROS), Kelurahan Renon, Kota Denpasar. Wulan dirawat selama satu jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan diberikan resep obat oleh dokter. Setelah dari BROS, Wulan dibawa ke kantor Satpol PP Provinsi Bali di tengah kondisinya yang masih demam tinggi.
“Ketika kami dikerumuni oleh aparat. Satu orang bilang bunuh saja mereka sambil nunjuk kami. Saat saya bilang demam, saya dibilang berbohong oleh mereka. Saya kesal, dan bilang ke mereka, biarin saja saya mati. Tapi Satpol PP-nya ngomong ke aparat yang di sana, itu urusan kami. Saya dibawa ke BROS. Sedangkan teman-teman yang lain dibawa ke Satpol PP,” jelas Wulan.