Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Ungkapan Gaul di Bali, Cocok Untuk Nyinyirin Teman
Pexels.com/Matheus Bertelli

Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, terdapat beberapa ungkapan yang sering digunakan oleh anak-anak muda di Bali. Ungkapan ini bukan peribahasa atau sesenggakan, melainkan diciptakan dari pergaulan sehari-hari yang menyebar dari mulut ke mulut.

Ungkapan-ungkapan ini memiliki arti kiasan, yang kalau diterjemahkan secara langsung akan sangat berbeda maknanya. Karena itulah ungkapan ini hanya bisa digunakan kepada orang-orang yang sudah dikenal seperti keluarga, teman, maupun lingkungan tempat tinggal. Berikut ini ungkapan gaul di Bali.

1. Sing ngerambang koreng

Ilustrasi tidak peduli. (unsplash.com/Philbo)

Terjemahannya adalah tidak menghiraukan koreng. Koreng kalau dalam Bahasa Bali berarti sakit luka yang berbekas. Biasanya yang dimaksud koreng di sini adalah orang-orang yang tidak disukai.

Jadi maksud dari ungkapan “Sing ngerambang koreng” bisa diartikan sebagai sikap cuek atau tidak peduli dengan orang lain, terutama orang yang tidak disukai.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

A: Putu, takonanga ajak lad tunanganne (Putu, ditanya mantan pacarmu)

B: Meh, sing ja ngerambang koreng buin. Raga suba ngelah tunangan baru. (Wah, sudah gak peduli lagi, saya sudah punya pacar baru).

2. Yen orahin, peteka bulun matane

Ilustrasi bulu mata. (unsplash.com/Perchek Industrie)

Terjemahannya adalah kalau disuruh, malah menghitung bulu mata. Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang diberikan perintah, tapi dia tidak mau menjalankannya.

Jika orang tersebut diam, si pemberi perintah biasanya akan mengatakan “Yen orahin, peteka bulun matane.” untuk mengungkapkan kemarahan atau kekesalan.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

A: Yeh Wayan, orahin meli minum jeg peteka bulun matane. Kema jani ke warung, enggalin dik (Yah Wayan, disuruh beli minum malah diam. Sekarang ke warung, buruan ya).

B: Nggih pak (Iya pak).

3. Sing nawang bebedag

Ilustrasi bebedag. (unsplash.com/Dominik Vanyi)

Kalau diterjemahkan secara langsung adalah tidak thau anak kuda. Namun secara kiasan, ungkapan “Sing nawang bebedag” memiliki arti tidak tahu apa-apa.

Ungkapan ini ditujukan kepada seseorang mendapatkan suatu perintah, namun tidak menjalankannya dengan baik dan benar.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

Tukang tipine mula sing nawang bebedag, orahin menahin tipi jeg ngancan usak tipine (Tukang reparasi televisinya tidak tahu apa-apa, disuruh benerin TV malah jadi tambah rusak).

4. Munyine kangin kauh sing karuan tek

Ilustrasi orang berbicara. (unsplash.com/Clem Onojeghuo)

Ungkapan ini kalau diterjemahkan secara langsung adalah ngomongnya ke timur ke barat, gak jelas. Namun makna sesungguhnya adalah orang yang berbicara gak jelas, dan pendengarnya gak bisa menangkap maksudnya.

Biasanya diungkapkan kepada seseorang yang selesai berbicara di hadapan banyak orang. Contoh penggunaan dalam kalimat:

A: Apa ja orahanga ajak bapake ento, munyine kangin kauh sing karuan tek (Apa sih yang dibilang oleh bapak itu, ngomongnya gak jelas)

B: Ae, bapake ento sing menguasai materi (Iya, bapak itu gak menguasai materinya).

5. Lengeh buah

Ilustrasi buah. (unsplash.com/Łukasz Rawa)

Kalau diterjemahkan secara langsung adalah bodoh buah. Masih belum jelas apa kaitannya kata bodoh dengan buah.

Namun maksudnya adalah sifat yang terlewat bodoh. Biasanya ungkapan ini ditujukan untuk seseorang yang mendapat tugas, namun melakukan kesalahan fatal sehingga tidak bisa menyelesaikannya dengan baik dan benar.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

A: Made mula lengeh buah sajaan, suba pang telu orahin carane, nu masih sing bisa menahin (Made memang kelewat bodoh, sudah tiga kali disuruh caranya, masih juga gak bisa benerin)

B: Jeg paling tiang pak, ten ngerti-ngerti niki carane (Bingung saya pak, gak ngerti-ngerti bagaimana caranya).

6. Lengeh celenge

Ilustrasi babi. (unsplash.com/Jez Timms)

Ungkapan lengeh celenge kalau diartikan secara langsung adalah bodoh babinya. Namun ungkapan ini memiliki arti kiasan orang yang bodoh.

Biasanya digunakan dalam situasi bercanda, bukan dalam keadaan marah atau serius. Ungkapan ini dipopulerkan oleh seorang pelawak lawas dari Bali bernama Komang Apel.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

A: Yeh apa ne nah, yeh minum ae? (Air apa ini ya, air minum ya?)

B: Lengeh celenge, yeh anggon ngumbah lima ne! (Dasar bodoh, air untuk cuci tangan ini!).

Jika kamu menggunakan ungkapan-ungkapan di atas harus berhati-hati ya, sebab tidak bisa diucapkan sembarangan. Sebaiknya gunakan kepada orang-orang yang sudah kamu kenal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team