Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Jenis Basa-Basi yang Gak Relevan di Zaman Sekarang
ilustrasi basa-basi (pexels.com/nicole)

Dalam budaya Indonesia, basa-basi adalah bagian yang sulit dipisahkan dari komunikasi sehari-hari. Ia sering digunakan untuk mencairkan suasana, menjembatani pembicaraan, atau sekadar menunjukkan keramahan. Namun, seiring perkembangan zaman dan perubahan cara berkomunikasi, ada beberapa jenis basa-basi yang kini mulai terasa kuno, tidak tulus, bahkan mengganggu.

Basa-basi yang tidak tepat malah bisa membuat suasana jadi canggung atau terasa dibuat-buat. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa tidak semua bentuk basa-basi masih relevan dengan konteks sosial saat ini. Berikut lima jenis basa-basi yang sebaiknya mulai ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan zaman.

1. "Kapan menikah?"

ilustrasi bertanya kepada seseorang (pexels.com/nicole)

Pertanyaan klasik ini sering muncul dalam acara keluarga, reuni, atau bahkan pertemuan singkat dengan orang yang sudah lama tidak ditemui. Dulu, pertanyaan ini mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, di zaman sekarang, pertanyaan semacam ini justru bisa memicu perasaan tidak nyaman, terutama bagi mereka yang belum siap menikah, sedang menghadapi tekanan, atau memiliki pandangan berbeda soal pernikahan.

Realitas kehidupan saat ini sangat beragam. Tidak semua orang menjadikan pernikahan sebagai tujuan utama dalam hidup. Beberapa fokus pada karier, pendidikan, atau masih mencari jati diri. Pertanyaan seperti ini terasa kurang sensitif dan bisa menimbulkan tekanan sosial yang tidak perlu. Jika benar-benar ingin menunjukkan perhatian, lebih baik tanyakan kabar secara umum atau hal-hal yang sedang mereka nikmati saat ini.

2. "Kerja di mana sekarang?"

ilustrasi bertanya kepada seseorang (pexels.com/nicole)

Meskipun tampak biasa saja, pertanyaan ini bisa menjadi sangat sensitif tergantung pada kondisi orang yang ditanya. Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, tidak semua orang memiliki pekerjaan tetap atau pekerjaan yang mereka banggakan. Beberapa bahkan sedang berjuang mencari pekerjaan, baru saja keluar dari tempat kerja, atau sedang membangun usaha kecil yang belum stabil.

Era digital saat ini, banyak juga orang yang memilih jalur karier non-tradisional seperti freelance, content creator, atau pekerjaan remote yang sulit dijelaskan dengan kata-kata konvensional. Maka dari itu, basa-basi soal pekerjaan bisa terasa seperti bentuk penilaian sosial. Sebagai alternatif, kamu bisa memulai dengan pertanyaan seperti “Lagi sibuk apa belakangan ini?” yang terasa lebih netral dan inklusif.

3. "Kok gendutan atau kurusan?"

ilustrasi bertanya kepada seseorang (freepik.com/freepik)

Komentar tentang perubahan fisik seseorang, terutama berat badan, sering dianggap biasa dalam percakapan ringan. Tapi sebenarnya, ini bisa sangat mengganggu dan menyakitkan. Banyak orang berjuang dengan masalah kesehatan, gangguan makan, atau citra tubuh. Mendengar komentar seperti itu, meskipun dengan nada bercanda, bisa menimbulkan rasa malu atau bahkan menurunkan kepercayaan diri.

Zaman sekarang, kesadaran tentang body positivity dan kesehatan mental semakin meningkat. Orang lebih menghargai kenyamanan dan penerimaan diri daripada penilaian dari orang lain. Maka dari itu, membahas perubahan bentuk tubuh sebagai basa-basi adalah kebiasaan yang sudah seharusnya ditinggalkan. Fokuslah pada hal positif lain yang bisa dibicarakan, seperti pencapaian atau hobi baru yang mereka tekuni.

4. "Anaknya rangking berapa?"

ilustrasi bertanya kepada seseorang (pexels.com/nicole)

Pertanyaan ini sering kali muncul dalam obrolan antarorangtua, dan kerap menjurus ke perbandingan prestasi anak. Di masa lalu, prestasi akademis sering dijadikan tolak ukur utama keberhasilan anak. Tapi hari ini, pendekatan terhadap pendidikan sudah jauh lebih kompleks. Anak tidak hanya dinilai dari nilai rapor, tapi juga dari keterampilan sosial, kreativitas, dan minat mereka di luar sekolah.

Dengan bertanya hal semacam ini, kamu tanpa sadar sedang menekan orangtua atau anak untuk memenuhi standar tertentu. Apalagi jika mereka sedang mengalami masa sulit dalam belajar atau memiliki gaya belajar yang berbeda. Sebagai gantinya, cobalah bertanya tentang hal yang anak sukai atau kegiatan menyenangkan yang sedang mereka jalani. Ini akan membangun percakapan yang lebih positif dan mendukung.

5. "Udah punya pacar apa belum?"

ilustrasi bertanya kepada seseorang (freepik.com/freepik)

Pertanyaan ini masih sering digunakan sebagai pembuka dalam pertemuan sosial, terutama kepada anak muda. Tapi seperti pertanyaan "Kapan nikah?", topik ini juga bisa terasa terlalu pribadi. Tidak semua orang ingin membagikan status hubungan mereka, apalagi di ruang publik atau pada orang yang tidak terlalu dekat. Selain itu, bisa jadi seseorang sedang mengalami patah hati, trauma hubungan, atau memilih untuk sendiri.

Kehidupan pribadi bukanlah hal yang bisa dijadikan bahan basa-basi sembarangan. Mengorek hal pribadi bisa membuat orang merasa terpojok atau tertekan. Akan lebih bijak jika kamu memulai percakapan dengan menanyakan kegiatan seru yang baru dilakukan, buku atau film favorit, atau hal-hal ringan yang lebih universal.

Basa-basi sejatinya diciptakan untuk menjembatani percakapan dan mencairkan suasana, tapi bukan berarti harus selalu digunakan tanpa memperhatikan konteks dan perasaan lawan bicara. Zaman yang serba cepat, terbuka, dan penuh kesadaran akan privasi serta kesehatan mental, bentuk komunikasi juga perlu menyesuaikan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team