TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

5 Perasaan yang Dialami Perempuan Setelah Bercerai

Dampak perceraian bisa menjadi negatif dan menyakitkan

ilustrasi perempuan bersandar di dinding kayu (pexels.com/Masha Raymers)

Tidak ada seorang pun yang menginginkan perceraian dalam kehidupan pernikahannya. Sayang, terkadang kenyataan berjalan tak sesuai harapan. Pernikahan yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup pun harus kandas di tengah jalan.

Bagi setiap individu, perceraian memberikan dampak yang berbeda-beda, tergantung dari bagaimana kepribadian mereka meresponnya. Misalnya bagi perempuan, perceraian bisa memberikan dampak menyakitkan mengingat status janda kerap dianggap negatif oleh lingkungan.

Berikut ini akan dibahas mengenai perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh perempuan setelah bercerai.

Baca Juga: Pengin Langgeng? 6 Tanda Hubungan akan Bertahan Lama

Baca Juga: 5 Manfaat Momen Memalukan Bersama Gebetan, Bye Jaim!

1. Marah pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar

ilustrasi perempuan sedang menahan emosi sedih dan marah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Setelah perceraian, biasanya perasaan perempuan menjadi sangat sensitif. Dia mudah emosi dan tersinggung dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh dirinya yang belum menerima fakta bahwa pernikahannya tak bisa diselamatkan.

Mereka kerap marah dan menyalahkan diri sendiri karena dinilai tidak mampu menjaga pernikahannya. Lebih berbahayanya lagi adalah jika dia memiliki anak. Sebab bukan tidak mungkin si anak akan menjadi sasaran amarahnya. Tentunya hal ini bisa memengaruhi perkembangan dan tumbuh kembang anak.

2. Berpura-pura bahagia

ilustrasi perempuan memakai kacamata sedang tersenyum (pexels.com/Garon Piceli)

Sudah bukan rahasia lagi jika perempuan yang sedang bersedih atau memiliki masalah akan memasang wajah pura-pura bahagia seolah tidak terjadi apa-apa. Pun ketika dirinya dihadapkan pada situasi perceraian. Bahkan dia selalu menghindari topik yang menyangkut pernikahan atau perceraian.

Tentu bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Mereka tidak ingin dianggap menyedihkan lantaran bercerai. Dengan memilih jalan pura-pura bahagia, mereka berharap dapat cepat pulih dari rasa sedih dan sakit hati.

3. Hilangnya rasa percaya diri

ilustrasi perempuan memegang bunga (pexels.com/Pixabay)

Banyak perempuan merasa sudah tidak berharga lagi ketika mengalami kegagalan dalam pernikahan. Hal ini turut menghilangkan rasa percaya dirinya untuk mewujudkan masa depan yang indah. Akibatnya mereka akan lebih tertutup, menarik diri dari lingkungan, dan enggan beraktivitas.

Bahkan tak jarang mereka akan mencari pelarian, sehingga terjerumus pada hal-hal yang tidak baik, seperti terjerumus dalam narkoba, kemaksiatan, dan lainnya. Tentunya keberadaan teman-teman dan keluarga sebagai support system sangat dibutuhkan agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi masalahnya, serta kembali bersemangat menata hidup yang lebih baik.

4. Merasa tertekan oleh lingkungan

ilustrasi perempuan duduk di samping jendela (pexels.com/MART PRODUCTION)

Tak dapat dipungkiri bahwa lingkungan membawa dampak psikologis yang berat terhadap perempuan yang bercerai. Sangat disayangkan jika tekanan paling besar ini berasal dari lingkungan keluarganya sendiri.

Secara berulang-ulang mereka akan menanyakan alasan perceraian, yang seharusnya menjadi urusan dia dan mantan suaminya. Namun terkadang ada pula kerabat yang menyalahkan pihak perempuan karena dianggap tidak mampu mempertahankan pernikahan.

Dalam keadaan tersebut, perempuan akan mengalami keterpurukan karena mendapat tekanan yang bertubi-tubi dari keluarga sendiri. Alih-alih merasa tenang, mereka sebenarnya membutuhkan bantuan ahli untuk bangkit dan kembali melanjutkan hidup.

Verified Writer

Sinta Listiyana

Terimakasih telah membaca tulisan saya :)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Berita Terkini Lainnya