Alm. Ni Wayan Murdi. (instagram.com/madewedastra)
Walaupun Wayan Murdi tidak memiliki sanggar tari, namun ia tak segan menurunkan keahliannya menari arja kepada orang-orang yang mau belajar kesenian klasik tersebut.
"Beberapa kali pernah ada yang datang ke rumah untuk belajar menjadi tokoh mantri. Ibu Murdi dengan senang hati mengajarkannya tanpa dibayar," kata Made Wedastra.
Menurut Made Wedastra, ibunya memiliki harapan agar seni tari arja, khususnya arja klasik, tidak sampai punah. Wayan Murdi menginginkan ada yang menjadi penerusnya sebagai seniman arja.
Dari penuturan Made Wedastra yang kerap menemani sang ibu menonton pertunjukan arja, Wayan Murdi sangat senang melihat gairah anak muda Bali yang mau melestarikan arja. Namun ada hal yang perlu dicatat, bahwa beberapa pentas arja saat ini tidak sesuai pakem arja yang sesungguhnya.
"Menurut ibu, pentas arja saat ini lebih banyak bercandanya, cerita sangat sedikit, dan pakaian yang tidak sesuai atau nyeleneh," ujar Made Wedastra.
Sang Mantri Manis kini telah tiada. Semoga seni arja klasik tetap lestari di tengah gempuran kemajuan zaman, sesuai harapan Ni Wayan Wurdi. Selamat jalan Sang Legenda, semoga selalu menginspirasi para seniman muda untuk melestarikan seni Bali.