Apa yang benar-benar kamu inginkan? Pertanyaan sederhana, namun tidak dengan jawabannya.
Saya menyadari bahwa entah sejak kapan, saya hidup tanpa memikirkan apa yang benar-benar saya inginkan. Hanya menjalani hari demi hari begitu saja dengan cepat, dan benar-benar melupakan hal paling penting dan mendasar dari kehidupan.
"Waktu kecil aku ingin menjadi apa ya?"
"Kapankah waktu ketika aku paling gembira dan bahagia?"
"Apa yang paling bisa membuat ku bangga?"
(Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan by Jeon Seunghwan)
Biasanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul begitu saja dan kita jadi termenung memikirkan jawabannya. Kalimat dari buku berjudul 나만 위로할 것 (Naman Wirohal Kkot) karya Kim Dongyoung, menarik perhatian Penulis Jeon Seunghwan. Kalimatnya berbunyi seperti berikut.
Aku bertanya diam-diam kepada diriku, apakah aku hidup sambil menjalankan pekerjaan yang kusukai. Ketika kupikirkan kembali, sepertinya pekerjaan yang sedang kulakukan ini bukanlah pekerjaan yang kusukai, tetapi kulakukan karena terlihat seperti pekerjaan yang baik. Mungkin saja sudah terlambat untuk mulai mencari apa pekerjaan yang kusukai, tetapi kalau bisa aku ingin hidup sambil melakukan hal yang kusukai dan membuatku puas.
(나만 위로할 것 by Kim Dongyoung)
Hiduplah dengan keinginan yang bisa membuat hidup kita bahagia. Meskipun seiring berjalannya waktu keinginan kita selalu berubah-ubah, ingatlah untuk selalu sadar dengan keinginan diri sendiri, bukan keinginan orang lain. Jangan biarkan diri kita kehilangan arah dengan mengikuti keinginan orang lain. Cobalah memberikan batasan dengan mendengarkan keinginan dari hati sendiri agar bisa lebih menikmati setiap jalan yang dilalui.
Agar bisa bahagia, kita harus mendengarkan dengan baik isi hati kita. Karena kebahagiaan tidak bisa tercapai dengan bergantung pada keinginan orang lain. Meski suatu saat nanti berubah, kita tinggal jujur menerima perubahan hati tersebut. Kebahagiaan tidak berada jauh, tapi ada ketika kita jujur pada keadaan saat ini dan di sini.
Sebenarnya kita semua sedang berada di dalam sebuah perjalanan yang bernama kehidupan. Kalau ingin menikmatinya, haruslah diisi dengan berbagai hal yang kita sukai, bukan yang orang lain sukai. Kita bisa mulai sedikit demi sedikit mengenali keinginan terbesar kita ketika kita fokus ke suara hati kita, bukan suara hati orang lain.
(Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan by Jeon Seunghwan)
Dapat menikmati kehidupan adalah impian dari banyak orang. Sangat menyenangkan dapat melakukan hal yang diinginkan secara sungguh-sungguh, meskipun ada banyak rintangan yang mengikutinya. Jika bisa menikmati prosesnya, maka itu bisa lebih dari cukup untuk memunculkan kebahagiaan.
Kenikmatan dari perjalanan tidak hanya ada saat kita mengikuti jadwal yang sudah ada. Walau terkadang rencana bisa berubah, kenikmatan bisa muncul di tengah rintangan dan tikungan. Kebahagiaan memang seperti ini. Terdapat pada momen tak terduga di sela-sela kehidupan yang panjang. Apabila bisa memenuhinya dengan berbagai macam hal yang bisa membuat kita berusaha keras dan tertawa dengan tulus, tak terasa kehidupan ini akan penuh dengan kebahagiaan.
(Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan by Jeon Seunghwan)
Buku Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan menyimpan banyak pesan hangat di dalamnya. Dengan bahasa yang ringan tetapi tetap memberikan makna di setiap kalimatnya, buku ini mengajarkan banyak hal kepada kita, termasuk mengenali perasaan diri sendiri. Penulis Jeon Seunghwan menyajikan beragam cerita yang membuat kita seperti sedang berbincang di waktu santai dengan sahabat sendiri. Ketika kita memiliki orang lain yang terus berada di samping kita, bisa saling menghibur di kala sedih dan tertawa bersama di saat bahagia, tetap ingatlah untuk selalu mendengarkan isi hatimu. Dengan begitu, penghiburan dan kebahagiaan yang kamu rasakan akan lebih terasa hangat untuk satu sama lain.