Hindu di Bali terdapat banyak hari raya besar. Selain diadakan setiap setahun sekali, umat Hindu juga merayakan setiap 210 hari sekali. Jika sedang mencari daftar hari raya besar umat Hindu pada 2026, kamu sudah berada di artikel yang tepat. Berikut adalah jadwal lengkap hari raya Hindu 2026 beserta penjelasannya.
Jadwal Lengkap Hari Raya Besar Hindu 2026

1. Hari Raya Galungan dan Kuningan
Hari Raya Galungan dan Kuningan saling berkaitan. Keduanya dirayakan setiap 210 hari sekali. Jadi dalam setahun, akan ada dua kali Galungan dan Kuningan. Namun, pada 2026 hanya ada sekali Galungan dan Kuningan.
Hari Raya Galungan jatuh pada Rabu (17/6/2026), Buda Kliwon, wuku Dungulan. Sedangkan Kuningan jatuh pada Sabtu (27/6/2026), Saniscara Kliwon, wuku Kuningan. Hari Raya Galungan menjadi simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Umat Hindu melakukan persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya, serta kepada para leluhur. Persembahyangan dilakukan di rumah dan pura yang berada dalam lingkungan desa tempat tinggal.
Saat Hari Raya Kuningan, umat Hindu percaya bahwa Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa turun untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan. Dewa ini identik dengan warna kuning sebagai simbol kemakmuran. Secara tradisi, pelaksanaan Hari Raya Kuningan hanya sampai tengah hari atau pukul 12.00 Wita. Alasannya karena umat Hindu percaya para leluhur akan kembali ke Swargaloka.
Umat Hindu menghaturkan persembahan khusus yang disebut endongan yang menjadi simbol bekal kepada para Dewa dan leluhur saat kembali ke Swargaloka.
2. Hari Raya Nyepi
Tahun Baru Saka 1947 atau sering disebut dengan Hari Raya Nyepi dirayakan setiap setahun sekali, tepatnya sehari setelah Tilem Kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali). Umat Hindu akan melakukan Catur Brata Penyepian atau empat pantangan yang harus ditaati selama Hari Raya Nyepi.
Catur Brata Penyepian terdiri dari Amati Karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak berfoya-foya atau bersenang-senang).
Catur Brata Penyepian dilaksanakan sehari penuh yaitu mulai pukul 06.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya. Khusus di Bali, seluruh masyarakat dilarang keluar rumah dan tidak menyalakan lampu (penerangan). Nyepi sekaligus menjadi simbol untuk alam beristirahat sejenak dalam keheningan. Pada 2026, Hari Raya Nyepi jatuh pada Kamis (19/3/2026), Wraspati Kliwon, wuku Klawu.
3. Rahinan Purnama Kadasa
Purnama Kadasa merupakan purnama yang paling suci di antara purnama bulan (sasih) lainnya. Hal ini disebutkan dalam Lontar Sundarigama bahwa Purnama Kadasa merupakan inti dari purnama lainnya. Umat Hindu memuja Sang Hyang Surya Amerta pada rahinan ini.
Purnama Kadasa bertepatan dengan upacara Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih. Seluruh umat Hindu akan bergantian melakukan persembahyangan ke pura yang ada di Kabupaten Karangasem tersebut. Purnama Kadasa jatuh setiap setahun sekali. Purnama Kadasa jatuh pada Kamis (2/4/2026), Wraspati Wage, wuku Watugunung.
4. Hari Raya Saraswati
Hari Raya Saraswati merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan. Umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan. Hal ini bertujuan agar setiap umat mendapatkan berkah ilmu pengetahuan untuk menjalani kehidupan. Biasanya setiap instansi pendidikan seperti sekolah melaksanakan upacara atau piodalan bertepatan dengan Hari Raya Saraswati.
Hari Raya Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari sekali. Jadi, dalam setahun akan ada dua kali Hari Raya Saraswati. Hari Raya Saraswati pertama jatuh pada Sabtu (4/4/2026), Saniscara Umanis, wuku Watugunung. Sedangkan Hari Saraswati berikutnya jatuh pada Sabtu (31/10/2026), Saniscara Umanis, wuku Watugunung.
5. Hari Raya Pagerwesi
Hari Raya Pagerwesi masih berkaitan dengan Hari Raya Saraswati. Umat Hindu memuliakan guru sebagai penuntun untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hari Raya Pagerwesi juga sebagai pengingat bagi umat Hindu agar selalu meneguhkan iman dan memagari diri dengan ilmu pengetahuan.
Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap 210 hari sekali. Pada 2026, terdapat dua kali Hari Raya Pagerwesi. Hari Raya Pagerwesi pertama jauh pada Rabu (8/4/2026), Buda Kliwon, wuku Sinta. Sedangkan pelaksanaan berikutnya jatuh pada Rabu (4/11/2026), Buda Kliwon, wuku Sinta.
6. Tumpek Landep
Saat Hari Raya Tumpek Landep, umat Hindu memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa atau Sang Hyang Pasupati. Umat Hindu percaya bahwa Sang Hyang Pasupati merupakan simbol penguasa ketajaman pikiran rohani dan jasmani. Hal ini membuat perayaan Hari Raya Tumpek Landep identik dengan senjata tajam tradisional seperti keris, tombak, pisau, dan lainnya.
Umat Hindu akan melakukan ritual pembersihan dan upacara kepada senjata tersebut. Hari Raya Tumpek Landep jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Sabtu, Saniscara Kliwon, wuku Landep. Pada 2026 terdapat dua Hari Raya Tumpek Landep, yaitu Sabtu (18/4/2026), dan Sabtu (14/11/2026).
7. Hari Raya Siwaratri
Hari Raya Siwaratri disebutkan sebagai malam suci untuk memuja kebesaran Dewa Siwa. Hari suci ini dikaitkan dengan kisah seorang pemburu bernama Lubdaka yang harus begadang semalam suntuk untuk berburu. Malam Siwaratri dipercaya sebagai malam penebusan dosa.
Pada malam Siwaratri, umat Hindu melakukan mulat sarira atau perenungan atas kesalahan-kesalahan yang telah terjadi dengan membaca sloka-sloka suci. Hari Raya Siwaratri jatuh setahun sekali tepatnya sehari sebelum Tilem Kepitu (bulan ketujuh dalam kalender Bali), yaitu pada Sabtu (17/1/2026).
8. Tumpek Wayang
Hari Raya Tumpek Wayang sering dikaitkan dengan keberadaan wayang sebagai kesenian di Bali. Jika memiliki wayang di rumah atau pekerjaannya sebagai dalang, umat Hindu pasti akan mengadakan prosesi upacara penghormatan. Hal ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan menjaga keharmonisan alam beserta isinya kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara.
Hari Raya Tumpek Wayang juga sering dikaitkan dengan sebuah ruwatan yang disebut dengan nama Sapuh Leger. Ruwatan ini ditujukan kepada setiap orang yang lahir pada wuku Wayang agar mereka terhindar dari gangguan-gangguan kekuatan negatif yang disimbolkan sebagai Bhatara Kala.
Hari Raya Tumpek Wayang jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya Sabtu, Saniscara Kliwon, wuku Wayang. Hari Raya Tumpek Wayang pertama jatuh, pada Sabtu (14/3/2026). Sedangkan yang kedua, pada Sabtu (10/10/2026).
9. Buda Cemeng Klawu
Hari Raya Buda Cemeng Klawu atau Buda Wage Klawu merupakan hari untuk memuja Ida Bhatara Rambut Sedana sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Umat Hindu melakukan persembahyangan untuk memohon berkah agar murah rezeki, mendapatkan kemakmuran, dan kesejahteraan. Biasanya usaha bisnis atau finansial seperti bank melakukan upacara piodalan.
Hari Raya Buda Cemeng Klawu dilaksanakan setiap 210 hari sekali tepatnya pada Rabu, Buda Wage, wuku Klawu, atau empat hari setelah Hari Raya Tumpek Wayang. Pada 2026, terdapat dua kali Hari Raya Buda Cemeng Klawu. Pertama pada Rabu (18/3/2026), yang bertepatan dengan Hari Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Sedangkan yang kedua, pada Rabu (14/10/2026).
Jadwal hari raya besar Hindu 2026 di atas menjadi pengingat agar tidak lupa untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Serta, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih atas segala berkah yang sudah diberikan.