Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi permukaan jalan aspal (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi permukaan jalan aspal (pexels.com/cottonbro studio)

Jalan berlubang selalu menjadi keluhan klasik bagi para pengguna jalan. Keberadaannya kerap dianggap biasa, padahal dampaknya bisa sangat serius. Mulai dari kerusakan kendaraan, gangguan lalu lintas, hingga menyebabkan kecelakaan fatal. Sayangnya, masalah ini justru dianggap remeh dan sering tidak ditindaklanjuti secara serius. Kondisi jalan yang tidak rata menciptakan potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan. Apalagi jika lubangnya tertutup air hujan atau muncul di area minim pencahayaan.

Banyak pengendara yang tidak sempat menghindar hingga harus mengalami insiden yang mengganggu keselamatan. Jalan berlubang bukan hanya soal estetika atau kenyamanan berkendara. Fenomena ini juga menyiratkan banyak persoalan mendalam yang jarang diketahui masyarakat. Di balik satu lubang di aspal, tersimpan berbagai ironi infrastruktur hingga masalah teknis yang kerap terlewat dari perhatian publik.

Masalah ini juga berdampak pada waktu tempuh, konsumsi bahan bakar, hingga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pembangunan. Kondisi jalan seharusnya menjadi simbol kemajuan, bukan cermin dari pembiaran. Setiap lubang yang dibiarkan bisa berubah menjadi jebakan nyata bagi siapa pun yang melintas. Berikut lima fakta tentang jalan berlubang yang jarang disorot, namun penting diketahui agar lebih bijak saat berkendara dan memahami akar persoalannya.

1. Bisa muncul hanya dalam semalam

ilustrasi permukaan jalan aspal (pexels.com/vee terzy)

Banyak orang mengira jalan berlubang hanya terbentuk karena proses pelapukan atau tekanan dari kendaraan berat. Padahal, dalam kondisi tertentu, lubang bisa muncul hanya dalam semalam. Kombinasi hujan deras dan aspal tua menjadi penyebab utamanya. Air yang meresap ke dalam retakan kecil akan melemahkan fondasi aspal dari dalam. Jika dilalui kendaraan berat secara terus-menerus, struktur jalan akan runtuh dan membentuk lubang secara tiba-tiba.

Fenomena ini sering ditemukan setelah hujan deras turun semalaman. Lubang semacam ini sulit terdeteksi lebih awal karena awalnya hanya berupa retakan kecil. Ketika pecah, lubangnya bisa cukup dalam dan berbahaya. Tak jarang, lubang baru ditemukan setelah ada pengendara yang terperosok. Fakta ini menunjukkan pentingnya perawatan rutin dan inspeksi jalan secara berkala.

2. Bisa sebabkan kerusakan suspensi dan velg

ilustrasi velg mobil (pexels.com/Abdulwahab Alawadhi)

Menghantam lubang secara langsung bukan hanya membuat kendaraan terkejut. Dampaknya bisa merusak suspensi, velg, bahkan sistem kemudi. Lubang dalam dan tajam sering kali menyebabkan ban pecah atau velg bengkok. Suspensi dirancang menyerap guncangan dari permukaan jalan. Namun jika beban terlalu berat atau lubangnya terlalu dalam, sistem ini tidak akan sanggup menahan benturan. Akibatnya, pengendara akan merasakan hentakan keras yang bisa membuat kendaraan oleng.\

Kerusakan akibat lubang juga tidak selalu langsung terlihat. Banyak kasus baru diketahui setelah muncul bunyi aneh atau kendaraan menjadi tidak stabil saat bermanuver. Biaya perbaikannya pun tidak murah, apalagi jika sampai merusak sumbu roda. Satu lubang kecil bisa menimbulkan kerugian besar.

3. Perbaikannya sering sekadar tambal sulam

ilustrasi permukaan jalan aspal (pexels.com/Aleks Magnusson)

Satu ironi terbesar soal jalan berlubang adalah pola perbaikannya yang tidak tuntas. Banyak jalan yang hanya ditambal secara darurat tanpa membenahi struktur pondasi di bawahnya. Akibatnya, lubang yang sama akan kembali muncul dalam waktu singkat. Tambalan yang tidak presisi juga menciptakan tonjolan baru yang membuat permukaan jalan tidak rata. Bahkan ada tambalan yang lebih berbahaya dari lubangnya sendiri karena membuat kendaraan melompat ketika melintas.

Hal ini mencerminkan kualitas perawatan jalan yang buruk. Perbaikan yang ideal seharusnya melibatkan pengangkatan aspal rusak, pengecekan lapisan bawah, hingga proses pelapisan ulang secara menyeluruh. Namun, hal ini jarang dilakukan karena keterbatasan anggaran atau kejar target proyek. Jalan jadi korban dari proyek setengah hati.

4. Sering dijadikan objek 'tutup lubang' kreatif oleh warga

ilustrasi permukaan jalan aspal (pexels.com/Ryan West)

Beberapa komunitas warga sering mengambil inisiatif menutup jalan berlubang secara swadaya. Bahkan, sebagian dari mereka menambahkan elemen kreatif seperti lukisan 3D, patung kecil, hingga menanam pohon di dalam lubang. Tujuannya bukan hanya memperbaiki, tapi juga memprotes kinerja pihak berwenang. Aksi ini kerap viral karena dinilai unik dan menyentil. Ada yang menggambar ikan berenang di dalam lubang, ada juga yang menancapkan spanduk berisi sindiran.

Kreativitas ini menunjukkan frustrasi masyarakat terhadap lambatnya penanganan infrastruktur. Meski bersifat sementara, tindakan warga tersebut berhasil menarik perhatian dan mempercepat respons pemerintah. Sayangnya, hal seperti ini tidak boleh menjadi solusi jangka panjang. Infrastruktur jalan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya warga yang resah.

5. Punya potensi menyebabkan kecelakaan beruntun

ilustrasi kecelakaan motor yang melibatkan anak (pexels.com/Valentin Sarte)

Jalan berlubang yang berada di jalur cepat atau tikungan tajam memiliki risiko memicu kecelakaan beruntun. Pengendara yang mencoba menghindar secara mendadak bisa kehilangan kendali dan menabrak kendaraan di samping atau belakangnya. Banyak kasus tabrakan di jalan tol atau jalan raya yang berawal dari lubang tak terlihat. Saat satu kendaraan mengerem mendadak, kendaraan di belakang belum tentu siap mengantisipasi. Dalam hitungan detik, beberapa kendaraan bisa terlibat tabrakan beruntun.

Hal ini memperlihatkan betapa seriusnya dampak dari lubang kecil di jalan. Setiap lubang yang tidak segera diperbaiki bisa menjadi titik rawan kecelakaan. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan serta mendorong sistem pelaporan jalan rusak yang cepat dan responsif.

Jalan berlubang lebih dari sekadar cacat permukaan aspal. Di baliknya, tersimpan berbagai persoalan mulai dari konstruksi yang lemah, sistem perawatan tidak maksimal, hingga potensi kecelakaan yang tinggi. Penanganan lubang di jalan seharusnya dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar tambalan darurat. Masyarakat pun berperan penting dalam mengawasi dan melaporkan kerusakan agar keselamatan tetap terjaga. Jalan yang baik bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team