Comscore Tracker

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah Hati

Sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali

Hingga saat ini Bali masih memegang teguh adat istiadat, budaya, serta kearifan lokal yang ada. Meski perkembangan zaman sudah semakin maju, namun Bali tak mudah tergerus dan tetap menjunjung tinggi adat istiadatnya.

Masih banyak upacara adat di Bali sampai kini tetap dipertahankan oleh umat Hindu. Masing-masing untuk pemujaan kepada Tuhan, bakti kepada leluhur, selamatan untuk manusia, bakti kepada guru, serta menghormati alam semesta. Salah satunya adalah rentetan keselamatan untuk si buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga bayi lahir ke dunia dan menyentuh periode usia tertentu.

Berikut ini delapan rangkaian upacara adat Bali untuk keselamatan buah hati.

Baca Juga: 7 Doa Agama Hindu Supaya Mendapatkan Kedamaian Hidup

1. Magedong-gedongan untuk ibu hamil usia kandungan 5-7 bulan

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiIDN Times/Irma Yudistirani

Upacara Megedong-gedongan adalah upacara yang ditujukan kepada bayi yang masih berada di dalam kandungan. Upacara ini biasanya dilakukan pada umur kehamilan antara 5-7 bulan karena pada masa itu bayi dianggap telah terbentuk sempurna.

Upacara ini bertujuan untuk penyucian terhadap bayi, serta menjaga keselamatan janin dan sang ibu agar kuat selama masih di dalam kandungan. Terbesit juga harapan agar nantinya anak lahir sehat, selamat, serta tumbuh menjadi anak yang suputra (berkelakuan baik dan berbudi luhur).

2. Nanem ari-ari ketika bayi baru lahir

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiIni adalah Pura Sakenan yang tidak jauh dari Pelabuhan Benoa. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Di berbagai daerah di Indonesia masih memegang teguh prosesi ini. Termasuk di Bali yang masih memegang tradisi menanam ari-ari ketika bayi baru lahir. Menurut kepercayaan orang Bali, saat bayi lahir ke dunia, ia lahir bersama empat saudara lainnya, antara lain air ketuban, ari-ari, darah, dan lamas atau lemak.

Setelah ari-ari (plasenta) si bayi dipotong, maka ari-ari tersebut kemudian dicuci sampai bersih dan dibungkus kain kasa (kain putih). Selanjutnya dilakukan upacara penanaman ari-ari yang dimasukkan ke dalam sebuah tempurung kelapa utuh yang sebelumnya sudah dibelah. Setelah ari-ari dimasukkan, lalu ditutup rapat.

Pada bagian atas kelapa, ditulisi aksara suci. Biasanya, setelah ari-ari ditanam di pekarangan rumah, di atasnya diletakkan pandan berduri dan sebuah anyaman bambu bernama sanggah cucuk.

3. Kepus pungsed ketika tali pusar bayi sudah terlepas

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiFoto hanya ilustrasi. IDN Times/Rehuel ​Willy Aditama

Upacara selanjutnya yakni kepus pungsed. Upacara ini khusus ketika tali pusar yang menempel di tubuh bayi mulai terlepas sejak 3-7 hari setelah kelahiran. Upacara di Bali pada umumnya, tali pusar bayi yang lepas itu dibungkus dengan kain putih kemudian dimasukkan ke dalam sebuah ketupat disertai kelengkapan yang lainnya.

Selanjutnya, pada bagian atas tempat tidur bayi, dibuatkan sebuah pelangkiran kumara (tempat menaruh sesajen). Menurut kepercayaan orang Bali, bayi dijaga oleh Dewa Kumara yang diyakini bertugas menjaga bayi hingga tanggal gigi.

4. Ngelepas aon ketika bayi berumur 12 hari

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiFlickr.com/Sue

Upacara ini dilaksanakan setelah bayi genap berumur 12 hari. Pada upacara ini, biasanya anak baru diberi nama. Demikian pula empat saudara yang mengikuti sejak lahir berganti nama, antara lain air ketuban menjadi Anggapati, darah menjadi Mrajapati, lamas menjadi Banaspati, dan ari-ari menjadi Banaspati Raja.

Upacara Ngelepas Aon dilakukan di dapur, permandian, dan kemulan (tempat sembahyang di rumah). Upacara ini dipimpin oleh keluarga yang paling dituakan.

5. Tutug kambuhan saat bayi berusia 42 hari

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiFlickr.com/Artem Beliaikin

Upacara tutug kambuhan dilaksanakan ketika bayi sudah berumur abulan pitung dina atau 42 hari kalender masehi. Upacara ini bertujuan untuk pembersihan lahir batin si bayi dan orangtuanya. Selain itu, harapan lainnya pada upacara ini, agar bayi bisa kuat dari pengaruh-pengaruh negatif. Seluruh rangkaian dilaksanakan dalam lingkungan rumah, dapur, halaman rumah, dan sanggah kemulan (tempat sembahyang di rumah).

6. Nelu bulanin saat bayi berumur 3 bulan (Kalender Bali)

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiIlustrasi bayi. (Pexels.com/Benji Aird)

Upacara Nelu Bulanin dilakukan ketika bayi berusia tiga bulan kalender Bali (1 bulan = 35 hari) atau berusia 105 hari. Pada beberapa sumber disebutkan bahwa pada usia ini bagian panca indera bayi sudah mulai aktif yang akan memberi pengaruh, baik positif maupun negatif. Upacara nelu bulanin bermakna rasa syukur sekaligus memohon perlindungan kepada Tuhan agar bayi dijaga dari pengaruh-pengaruh panca indera, terutama pengaruh negatif.

Umumnya, ketika nelu bulanin adalah pertama kalinya anak menginjak tanah. Namun, ada juga masyarakat yang tradisinya bayi menginjak tanah pertama kali ketika umur 6 bulan atau satu oton.

7. Otonan saat bayi berumur 6 bulan (Kalender Bali)

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiIDN Times/Irma Yudistirani

Otonan merupakan peringatan hari kelahiran yang dirayakan ketika bayi berusia 210 hari atau 6 bulan kalender Bali. Sebagaimana ulang tahun, otonan bertujuan untuk mensyukuri kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan.

Biasanya otonan rutin dirayakan setiap 210 hari sekali dengan berpedoman pada hari lahir yang dihitung dengan perhitungan pertemuan Saptawara (Senin-Minggu) dengan Panca Wara (Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon), serta pawukon (Wuku Sinta-Watugunung)

Misalnya anak lahir pada Rabu Kliwon Wuku Dunggulan atau tepat saat jatuhnya Hari Raya Galungan, maka setiap Hari Raya Galungan si anak sampai tua akan melaksanakan upacara otonan sebagai peringatan kelahiran. Berbeda dengan hari lahir didasarkan perhitungan kalender Masehi yang datangnya setiap satu tahun sekali (365 atau 366 hari).

8. Mepetik rambut saat berumur 6 bulan (Kalender Bali)

8 Rangkaian Upacara Adat Hindu Bali untuk Keselamatan Buah HatiIDN Times/Irma Yudistirani

Upacara mepetik yakni upacara potong rambut untuk pertama kalinya. Menyesuaikan dengan tradisi masing-masing desa di Bali, ada yang melaksanakan upacara mepetik rambut saat upacara nelu (tiga) bulanin (bulanan). Ada juga mepetik rambut saat otonan.

Mepetik bermakna sebagai simbolis melepaskan kekotoran (leteh) bayi yang disebabkan oleh proses kelahiran. Setelah upacara ini, biasanya rambut bayi dicukur habis atau digundul.

Nah itu delapan rangkaian upacara adat Hindu Bali untuk keselamatan buah hati. Semoga alam semesta selalu memberikan kebaikan. 

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya