Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Menghadapi Anak Ceplas-Ceplos di Tempat Umum
ilustrasi memilih (pexels.com/Gustavo Fring)

Pernah gak sih, kamu merasa mau menghilang dari muka bumi gara-gara anak tiba-tiba nyeletuk keras di tempat umum? Misalnya, pas lagi antre di kasir, dia spontan bilang, “Ibu itu pakaiannya aneh!” atau pas di lift, dia tanya dengan polosnya, “Kok perut Om besar banget?” Duh, rasanya pengen kabur, kan?

Tapi tenang, kamu gak sendirian! Anak-anak memang punya kebiasaan ceplas-ceplos karena mereka masih belajar tentang norma sosial. Mereka jujur tanpa filter, bukan karena sengaja ingin mempermalukan orang lain, tapi karena belum memahami batasan antara berbicara jujur dan menjaga perasaan orang lain.

Nah, daripada pusing dan malu sendiri, yuk simak lima cara menghadapi anak yang suka ceplas-ceplos di tempat umum!

1. Ajarkan konsep "bicara dalam hati" sebelum pergi ke tempat umum

ilustrasi anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sebelum berangkat ke tempat umum, coba lakukan briefing kecil-kecilan dengan anak. Ajarkan bahwa ada hal-hal yang boleh diungkapkan dengan suara keras, dan ada juga yang lebih baik disimpan dalam hati.

Misalnya, kamu bisa bilang, “Kalau kamu lihat sesuatu yang menurutmu aneh, boleh kok mikir dalam hati, atau bisikkan ke Mama nanti pas kita sudah di rumah.” Dengan latihan yang konsisten, anak akan mulai paham bahwa gak semua pemikiran perlu langsung diutarakan di depan umum.

2. Alihkan perhatian sebelum komentar semakin panjang

ilustrasi keluarga (pexels.com/Gustavo Fring)

Kalau anak sudah mulai mengeluarkan komentar yang berpotensi bikin malu, jangan panik dulu! Salah satu trik ampuh adalah langsung mengalihkan perhatian mereka ke hal lain.

Misalnya, kalau anak tiba-tiba nyeletuk, “Bu, lihat! Rambut nenek itu warnanya ungu!” Kamu bisa langsung menyahut, “Wah, keren banget, ya! Eh, lihat deh, di sana ada balon warna-warni! Mana yang paling kamu suka?”

Teknik ini membantu menghentikan komentar sebelum berlanjut lebih jauh dan memberi kesempatan untuk membahasnya nanti di rumah dengan lebih santai.

3. Manfaatkan momen sebagai kesempatan belajar tentang empati

ilustrasi keluarga (pexels.com/Gustavo Fring)

Daripada buru-buru marah atau memarahi anak di depan umum, lebih baik jadikan momen itu sebagai kesempatan belajar. Saat sudah berada di rumah atau di tempat yang lebih privat, ajak anak ngobrol santai tentang apa yang tadi dia katakan.

Misalnya, kamu bisa bertanya, “Kalau ada yang bilang rambut kamu aneh dengan suara keras, kamu bakal merasa gimana?” Dengan cara ini, anak akan belajar memahami bahwa kata-kata mereka bisa berdampak pada perasaan orang lain.

4. Gunakan "kode rahasia" untuk mengingatkan anak secara halus

ilustrasi anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Biar gak terlalu sering menegur anak di depan umum, coba buat kode rahasia yang bisa kalian pakai kalau dia mulai ceplas-ceplos. Misalnya, kamu dan anak bisa punya kata khusus seperti “Langit biru” atau gerakan sederhana seperti menyentuh hidung, yang artinya “Stop bicara sekarang.”

Anak-anak biasanya suka permainan rahasia seperti ini, jadi mereka akan lebih mudah menerima koreksi tanpa merasa dipermalukan. Plus, ini juga jadi cara halus buat menghentikan komentar sebelum kebablasan.

5. Tetap tenang dan siapkan respons cepat untuk meredakan situasi

ilustrasi anak (pexels.com/cottonbro studio)

Kalau anak sudah terlanjur mengeluarkan komentar yang bikin canggung, usahakan tetap tenang. Jangan langsung panik atau bereaksi berlebihan, karena itu bisa bikin situasi makin awkward.

Kamu bisa merespons dengan humor, misalnya, “Haha, anak-anak memang suka jujur, ya!” atau kalau perlu, minta maaf dengan santai ke orang yang bersangkutan. Yang penting, jangan sampai anak merasa malu atau takut untuk berbicara di lain waktu.

Dengan latihan terus-menerus, anak akan belajar kapan harus berbicara dan kapan harus menyimpan sesuatu dalam hati. Dan siapa tahu, suatu hari nanti kamu malah bisa tertawa mengingat momen-momen ini sebagai bagian lucu dari perjalanan parentingmu!

Editorial Team