Sarana damarsuar meling yang digunakan dalam Ngusaba Lampuan. (YouTube.com/Gede Partha Wijaya)
Jro Lampuan Lanang maupun Istri menggunakan busana khusus dalam tradisi ini. Jro Lampuan Lanang menggunakan kamen atau kemben (kain) Bali, saput meselibeh (menggunakan selempang di badan seperti selimut), membawa golok atau meselet golok, berkalung destar, dan membawa dompet atau ngadut kompek. Kompek ini berbentuk seperti dompet dari anyaman bambu yang berisi daun sirih, buah pinang, tembakau, kapur sirih, dan gambir. Bahan-bahan ini akan dikunyah oleh para Jro Lampuan Lanang saat berada di tempat upacara. Mereka juga tidak diperkenankan menggunakan baju dan sandal.
Busana untuk Jro Lampuan Istri adalah memakai kamen Bali, tidak boleh menggunakan perhiasan, menggunakan kain Bali sebagai pengganti baju karena tidak diperkenankan menggunakan baju, serta tidak menggunakan alas kaki.
Selain busana yang unik, sarana upacara atau banten yang digunakan sebagai persembahan juga tak kalah uniknya. Berbeda dengan upacara Dewa Yadnya lainnya, Ngusaba Lampuan menggunakan sarana jajan gong atau jajan biyu (jajan pisang). Sarana ini dibuat dari pisang mentah yang diparut, lalu dicampur dengan tepung beras merah dan digoreng. Para peserta membuat sarana ini secara iuran yang nantinya digunakan untuk membayar denda pelanggaran ringan yang dilakukan oleh Jro Lampuan Lanang maupun Istri.
Sarana berikutnya adalah penjor Lampuan berjumlah dua buah penjor yang diikat menjadi satu. Satu penjor menggunakan bambu utuh, tidak boleh ada cabang yang patah, goresan, serta tidak boleh ada mati buku atau garis hitam yang melingkar pada ruas bambu. Bambu ini dihiasi oleh daun enau muda dari pangkal sampai ujungnya.
Penjor lainnya menggunakan bambu yang telah dipotong pada bagian atasnya. Bagian tersebut ditancapkan jejahitan (hiasan) dari daun enau muda. Kedua penjor ini dibuat oleh Jro Lampuan Lanang. Sarana penting lainnya adalah damarsuar meling (lampu tradisional) dari pangkal pohon pisang yang dijadikan sebagai tangki minyak. Sumbu lampu ini menggunakan parutan (kerikan) kulit pohon bambu yang digiling. Minyak yang digunakan adalah minyak kelapa. Untuk memegang lampu ini menggunakan sebilah bambu yang dibuat seperti tali pada tas atau keranjang.