Tari Barong Nong Nong Kling. (YouTube.com/apara channel)
Tari Barong Nong Nong Kling berasal dari Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan. Sejarah tari barong ini berkaitan dengan Jero Pasek Gelgel yang mendirikan Desa Aan pada abad ke-16 (1580). Desa Aan diceritakan terserang wabah penyakit hebat pada 1755.
Berdasarkan petunjuk gaib, masyarakat Desa Aan diminta untuk mementaskan sebuah tarian barong yang menggunakan Topeng Rahwana, Kumbakarna, Hanoman, Subali, Sugriwa, Kumbakarna, dan para punakawan.
Para penari barong melakukan prosesi ngelawang atau berkeliling di beberapa tempat seperti halaman pura, catus pata atau perempatan desa, serta halaman rumah masyarakat. Setelah pementasan, Desa Aan berangsur-angsur pulih dan hasil panen kembali berlimpah ruah, serta terhindar dari bencana kelaparan.
Tari barong ini mirip dengan tari wayang wong. Nama Nong Nong Kling diambil dari suara gamelan pengiringnya. Ceritanya mengangkat kisah Ramayana yaitu Karebut Kumbakarna. Tari Barong Nong Nong Kling biasanya dipentaskan dalam rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tari sakral ini juga tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2021.