Upacara Otonan di Bali. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)
Wedangga terdiri dari enam bagian yaitu Siksa, Nirukta, Wyakarana, Jyotisa, Chanda, dan Kalpa. Kitab Siksa sering disebut dengan Pratisakhya. Bagian ini berisi petunjuk-petunjuk tentang cara yang tepat dalam pengucapan mantra, serta tinggi-rendahnya tekanan suara.
Nirukta merupakan kitab yang mempelajari tentang susunan kata-kata dalam Weda. Dalam kitab ini terdapat tiga pembahasan penting yaitu Naighantuka Kanda yang membahas sinonim atau persamaan kata. Berikutnya ada Naighama Kanda yang membahas kata-kata yang memiliki arti ganda. Terakhir adalah Daiwa Kanda, yang membahas nama-nama dewa yang ada di alam semesta ini.
Kitab Wyakarana menjelaskan tentang ilmu tata bahasa yang benar dalam Weda. Kitab Jyotisa isinya sangat penting karena berisi ilmu pengetahuan tentang peredaran bumi terhadap tata surya, bulan, dan benda angkasa lainnya. BIsa dibilang, kitab ini tentang ilmu pengetahuan astronomi (perbintangan), astrologi, serta horoskop.
Chanda merupakan kitab yang mempelajari tentang lagu-lagu pujian. Chanda akan mempermudah umat untuk memahami makna dari Weda. Hal ini karena setiap baitnya dinyanyikan dalam sebuah lagu.
Bagian Wedangga yang terakhir adalah Kalpa. Kalpa menjelaskan tentang tata pelaksanaan upacara dalam Hindu. Kalpa terdiri dari empat yaitu Srauta (tata cara pelaksanaan upacara), Grhyasutra (upacara yang wajib dilaksanakan dalam suatu rumah tangga), Dharmasutra (aspek kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara), dan Sulwasutra (ilmu arsitektur dalam membuat bangunan suci).